July 20, 2008

The Perfect Thing to Say is…

Lagu yang pas buat anak itu, the one who took me out on those certain nights to be holding hands… together, unconditionally.

You’re a falling star
You’re the getaway car
You’re the line in the sand when I go too far
You’re the swimming pool on an August day
And you’re the perfect thing to say

And you play it coy but it’s kinda cute
Ah, when you smile at me you know exactly what you do
Baby don’t pretend that you don’t know it’s true
’cause you can see it when I look at you

And in this crazy life, and through these crazy times
It’s you, it’s you, you make me sing
You’re every line
You’re every word
You’re everything.

You’re a carousel
You’re a wishing well
And you light me up when you ring my bell
You’re a mystery
You’re from outer space
You’re every minute of my everyday.

And I can’t believe that I’m your man
And I get to kiss you baby just because I can
Whatever comes our way, ah we’ll see it through
And you know that’s what our love can do

You’re every song
and I sing along
’cause you’re my everything.

(Everything, Michael Bublé, Call Me Irresponsible)

July 18, 2008

Baca Buku is the Best Thing to Do!

Kenapa sih orang-orang suka liburan ke luar kota? I prefer nonton TV ato DVD di rumah, baca setumpuk buku (preferably novels), atau going online untuk ngisi hari libur. Kalo keluar rumah, aku lebi suka jalan-jalan ke toko buku, mall, butik yang harganya reasonable, atau duduk di gerai kopi/donat sambil baca majalah/buku atau internetan. Ah, what a holiday…

Masi di dalem kota, aman, terlindungi, dan nyaman. Mungkin banyak orang bilang, itu gak seru. Orang selalu lebi banyak yang milih liburan di luar kota atau luar negeri, backpacking ke situs-situs wisata, pokonya mereka bisa dibilang anti liburan di dalem kota deh. Pada nyari suasana baru. Ahahaha, aku justru suka suasana kota–rame, aman, nyaman, semuanya ada, bisa kemana-mana sendiri… yah, after all, Surabaya still has the goodness that offers me a thought about staying.

Atau aku adalah tipe orang yang takut keluar dari ’safe zone’ aku? Takut nyoba hal-hal yang aku pikir gak bakal bisa aku lakuin? Agaknya iya. Bukannya aku setakut itu sih; aku cuman lebih suka kalo aku ada di wilayah aman itu, no need to worry about unknown things, no need to nervous of plans ahead.

Kayaknya tulisan ini dibikinnya telat ya, secara hari ini sebetulnya masa liburan udah abis. Bodo ah.

Let’s talk about this day. It’s much tiring, since I now have this habit of early morning waking, karena harus nganterin dua adekku ke sekolah. Jadi sekarang hari-hari aku dimulai dari jam setengah 6 pagi. I’ve got to do this early morning driving (kebalikan ama yang sapa tuh, yang suka nge-late nite driving, ehehe) untuk kemudian pas udah balik ke rumah disambung ama beres-beres rumah. Abis gitu, kalo gak ke kampus, ya nganter-nganter ibuku kemanaaa gitu. Trus jam 1 atau 2 harus jemput adekku lagi. Huuh… oleh karena itu, aku gak bisa lagi tidur malem-malem kayak sebelumnya. Jam 8 malem mata udah berat, dan jam 10 udah siap-siap merem. Kroookk…

Sempet ketiduran segala pas di tukang jait tadi, tidurnya dengan pose duduk dan tangan ngelipet di meja (as I used to do in high school :p), dan tidurku itu bener-bener tidur. Sampe mimpi-mimpi gitu. Tau-tau pas dibangunin ibuku, I wonder where I was, uhuh yea that stupid. Padahal sebelumnya aku masi sempet baca beberapa lembar A Thousand Splendid Suns (can’t leave home without a good book) tapi kantuk (bahaya laten, kayanya) terlalu menguasai.

Tau-tau aja tadi siang, dengan perkiraan TKP di Pasar Pucang, handphone ibuku ilang. Kayanya sih jatoh gitu pas doi keluar dari mobil. Begitu nyadar, udah lewat sekitar setengah jam-an dari perkiraan waktu jatohnya. Langsung deh aku dan ibuku tadi menginterogasi orang-orang yang tadi berinteraksi ama kita gitu. Nothing… dan sampe situlah kisah perjalanan N73 itu bersama ibuku (gak tau lagi kalo malingnya tobat.)

Anyway, postingan kali ini gak fokus banget ya. Sebenernya banyak yang pengen aku tulis berkaitan dengan hari ini, tapi… males. Well, see you.

Image courtesy of cartoonstock.com and digestive.niddk.nih.gov.

July 14, 2008

Losing You

Udah lama mengenalnya, mengenal tiap lekuk tubuhnya, melakukan semua hal baik terpuji maupun melukainya, dan sekarang… dia akan pergi? No I won’t just let him go, I promise I would give him my everything, my best of me…

Awalnya aku takut ketika dia muncul untuk pertamakalinya, menggantikan posisi yang dulu, yang jauh lebih besar dan dapat diandalkan di segala medan, dengan bibir yang juga lebih tipis. Dia hadir membawa keraguanku akan kemampuanku terhadap kendalinya; akankah ia menuntut banyak hal? Akankah perbedaannya dengan pendahulunya itu mengekangku untuk berbuat baik kepadanya?

Ketika pertamakali dia muncul dan berdiri di hadapanku dengan senyum polosnya (aku bisa merasakan aura gugup yang menyelimuti tubuhnya yang berkulit gelap), aku begitu senang menatap kecantikannya. Dia sangat cocok denganku. Tubuh kami sama-sama mungil (walau bibirnya agak maju), dan rasanya dia dapat diandalkan. Dan itu benar. Kemanapun aku membawanya pergi, dia selalu membuat orang lain iri karena keindahannya, kemulusannya, kecemerlangannya, betapa cocoknya kami berdua, dan betapa jauhnya dia dari masalah-masalah sepele.

Tapi dia hanya sesosok makhluk yang punya salah. Dia membuatku kesal ketika tiba-tiba di suatu sore yang mendung aku harus segera pulang. Dia ngotot gak mo diajak pulang bareng. Ya Tuhan… aku sampai harus membutuhkan bantuan orang lain untuk membujuknya pulang. Dan kejadian serupa terjadi sekali-dua kali lagi; tapi aku udah mulai terbiasa. Aku udah siap menerima keburukannya, sikap moodynya. Namun ternyata sampe sekarang dia gak pernah lagi membuatku kesal seperti itu–oh, dia maniiiiis sekali. Dia selalu ada saat kubutuhkan. Dia selalu tampil memukau, tak peduli bahwa pada faktanya dia belum mandi atau membersihkan diri, tak peduli dia sedang kelaparan, dan walaupun sinyal-sinyal akan rasa laparnya itu sampai harus dia tunjukkan di depanku (dia pasti marah sekali waktu itu, sampe harus seeksplisit itu), dia akan kembali tersenyum ketika dahaganya aku puaskan, dan dia tak pernah mengungkit-ungkit kembali kelaparan-yang-tak-aku-perhatikan itu.

Aku sangat mengenalnya. Aku tau seberapa jauh dia bisa bergerak, walaupun mataku tidak membuka sepenuhnya. Dia menyimpan semua kenanganku, semua benda-benda berharga dariku, dan dia tak pernah membiarkan dirinya direbut orang lain. Aku mengetahuinya dalam sekejap ketika dia terbentur dan terjatuh; dia tidak menangis, tapi aku tau dia kesakitan. Kadang lukanya terkamuflase oleh cahaya yang coba dia pijarkan untuk mengelabui aku–tapi aku, pada akhirnya, selalu tau. Aku mencintainya karena dia selalu ada untukku. Aku mencintainya karena dia tau apa yang aku maksutkan untuknya, tanpa harus kuucap sepatah kata.

Lalu kepergiannya kini membayang di pelupuk mataku. Ya, dia sudah terlalu tua. Dia sudah terlalu lama bersamaku. Kurasa dia tak ingin pergi, namun usianya memaksa dirinya untuk harus berada di posisi dimana semua orang bisa melihatnya dan mulai menawarnya dengan harga terendah yang bisa mereka dapat. Aku ingin menangis. Betapa murah harga dirinya, sesuatu yang selalu aku cintai ini. Teman yang selalu menemaniku ketika aku butuh. Pemahamannya akan diriku membuatku terluka. Aku tidak ingin melepasnya… tapi sesosok calon teman baru ini, sesuatu yang juga secantik dirinya (tidak, yang satu ini lebih cantik), tiba-tiba menampakkan diri. Mencoba menarik perhatianku. Mencoba merebut cintaku yang sebenarnya telah kuberikan sepenuhnya kepada yang dulu.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena kepergian teman terbaikku berada di luar kendaliku. Aku hanya bisa memanfaatkan saat-saat terakhirku bersamanya, menikmati sekali lagi lekuk liku tubuhnya, merawatnya seperti dia adalah milikku selamanya. Cinta pertamaku. Aku harus melepaskannya…

July 6, 2008

Forget Me Not, Jatim Park…

Jalan-jalan lagi! Kali ini aku menjajah Jawa Timur Park, atau biasa disingkat Jatim Park. Hehehe. Thanks to my parents for taking me and my brothers spend the Sunday at this so-called fun place.

It wasn’t my first time here, tapi tadi aku keliling-keliling as if I’ve never been here before. Sibuk foto-foto dengan pose kombinasi wajar dan sinting. Awalnya kita malah masuk ke pasarnya dulu, yang banyak ngejualin buah, keripik, kue, kerajinan tangan, sampe bunga-bungaan (my mom’s getting crazy about this section). Jadi sebelum kita bahkan mencicipi satu wahana pun, the hands of the six of us were full of stuff. Beli keripik untuk ngemil lah, beli buah untuk oleh-oleh lah, beli chiki-chikian (hehe, istilahku) untuk di mobil lah, sampe beli bunga (yep, she did) untuk dipasang di rumah. Kelar dari situ, baru deh kita masuk. Harga tiket untuk musim liburan ini adalah 40 rebu per orang, tapi itu adalah tiket terusan. Sayang juga sih kalo tar pas masuk ternyata gak nyoba semua maenannya.


ANEH: Such pointless poses.

But what can we do? It’s a Sunday, it’s a holiday, it’s a day of sun fully shining. Sebuah kondisi dimana kita harus sanggup memaklumi sesuatu yang kalo di hari-hari biasa kita suka rutukin–rame! Ya, semua jenis manusia tumplek blek di Jatim Park. Waktu masuk di rute-rute kayak kesenian daerah, stupa-stupa kuno, miniatur kebun binatang, fosil binatang, dan sebagenya sih gak serame itu. Begitu masuk di area permaenannya… duuuh, kasian sandal baruku…

Tadinya mo masuk ke wahana Rumah Hantu, tapi buset antriannya panjang banget. Akhirnya kita mutusin untuk beralih ke wahana Tornado. Yang sama kayak di Dufan itu lho (alhamdulillah tadi tidak terjadi apa-apa yang berarti, seperti ini). Yang ayahku sempet gak percaya, “emang disini ada Tornado?”

Well, glad he didn’t see me and my two brothers naek alat aneh itu. Yah, ngantri sampe setengah jam gak berasa deh. Aku tertarik untuk ikut naek karena rasanya seru aja, maen adrenalin gitu. Gak tau lah. Sebenernya gak berani. Tapi sok kuat. Dan jadilah aku naek Tornado.

Ternyata emang serem banget. Takut banget alat pengaman itu jatoh. Soalnya kita kan yang pake acara dijungkirbalikin gitu. Arrgghh! Ya, ya, ya… I know I may seem like ndeso, tapi faktanya gak semua orang (baca: perempuan) berani naek ginian! (to be honest, this IS my first time riding this kinda tool). Hii… tegang abis. Takuuut banget. Sampe jerit-jerit gitu deh tadi. Upside down gitu… serasa semua isi perut tumpah lewat mulut. Kind of ’sharp’, though. I enjoyed every single experience from that.

Tapi kalo inget kejadian itu, kadang aku suka malu sendiri. Kenapa? Karena… karena orang-orang menertawakan aku disebabkan oleh sesuatu yang konyol yang terjadi padaku, during the show… yah, the point is people laughed and (maybe) made fun of me. Penyebabnya akan lebih bijak jika tidak disebarluaskan di blog yang terlalu naif ini. Setuju? Iya.

Selesai naek wahana yang mengasyikkan-dan-memalukan itu, kita pulang. Cape banget… tapi enak tadi sempet makan es krim. Sebelum itu kita juga makan bakso. Di mobil, aku ketiduran, sampe tiba-tiba terdengar suara rem tangan berdecit tanda mobil berenti untuk waktu lama. Yep, it’s time to have lunch! (padahal udah jam tiga sore). Kita makan masakan Padang yang oh-so-yummy, trus abis gitu solat dulu di mesjid yang areal wudhu untuk perempuannya kerendem aer es sematakaki (it was freezing…). Dan setelah solat, dimulailah perjalanan kembali ke Surabaya.


NYATE: Adeku makan sate yang terbuat dari lilin.

Selama perjalanan, aku dan adek-adekku sempet ngemil chiki-chikian yang tadi dibeli dulu. Abis gitu, as I was stunned to see the clear, reddish sky outside the window of the fast-speed car (kinda my dad’s habit), aku dengerin lagu-lagu yang ada di PDA aku. Sampe akhirnya aku ketiduran lagi, beberapa saat setelah adzan maghrib terdengar sayup-sayup di luar. Jalanan macet, posisi duduk enak, mata jadi gak bisa diajak melek.

Sekitar jam setengah delapan kita udah masuk Surabaya, dan setelah itu langsung memasuki sebuah restoran di deket rumah untuk makan malem. Dan… here I am now, preparing to take a rest.

What a day, akhirnya bisa jalan-jalan ke luar kota lagi, with happy hearts… :)

June 26, 2008

Seminar Tugas Akhir

Seminar TA. Salah satu hal paling menakutkan di seantero peradaban manusia.

Kenapa sih TA harus diseminar-seminarin segala? Udah aja didemoin langsung ke dosen pembimbing dan dosen penguji. Bikin malu aja di depan temen-temen.

Makanya, kalo pas waktuku sidang nanti, aku gak mo ribut-ribut. Aku mo diem aja, menyimpan jadwal seminarku sendiri, supaya gak ada yang dateng. Ada sih yang dateng, tapi jumlahnya gak lebih dari sepuluh orang (plus dua dosen-tidak-pelit-nilai) dan tiga dari mereka telah kupersiapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya aku udah tau, nah gampang kan?

Tadi aku nonton dua seminar TA temen-temen seangkatan aku, dan hasilnya sekarang, bukannya kemotivasi, aku malah merasa seperti mau digigit harimau. Nakutin abis. Dosen pembimbing tertampan sedunia-akhirat (aku nulis ini bukan by purpose lho…) itu aja sampe ngomong hal-hal yang memanaskan telinga. Duh, gimana ama aku nanti ya? Mudah-mudahan dosen pengujiku nanti adalah dosen yang berhati lembut dan berwatak penyabar, pemurah serta pemberi. Bukan tipe dosen penguji kayak inisial R itu, ugh!! Oya, dan dosen pembimbingku juga abis dapet jatah dari istrinya malem sebelumnya.

Pelajaran yang bisa aku ambil (buat aku sendiri sih, tapi kali aja berguna buat kamu–not likely sih) dari kejadian horor tadi pagi dan siang:

1. Beberapa hari sebelum maju seminar, latihlah bicara dengan cara pura-pura lagi seminar, di depan kaca di kamar kamu. Pura-puralah sedang berbicara dengan audience, dan anggep aja dosen tertampan sedunia-akhirat itu selalu tersenyum bangga menatapmu (kok najis sih!?). Latian terus-menerus sampe mulut berbusa!

2. Pahami semua yang kamu tulis di slide presentasi dan program.

3. Begitu maju seminar, anggep aja semua yang nontonin kamu itu bukanlah manusia, tapi segerombolan kecoa atau anak-anak kucing yang sibuk mengeong-ngeong manja.

4. Suruh tiga orang temen-temen kamu nanya (pas sesi pertanyaan) dengan pertanyaan yang kamu kasi sendiri (do this before the seminar begins).

5. Pas seminar, kenakanlah baju yang cocok, rok yang pas, sepatu yang cantik, dan jilbab yang nyaman dipake. Jangan pake baju ketat yang tipis dan kusem, jangan pake rok ketat dan dibuat dari bahan yang gak keringet-proof, jangan pake sepatu ibuku yang kegedean dan modelnya kuno itu (asik! Beli sepatu baru!), dan jangan pake jilbab yang jatohnya lebar di leher, berbahan tipis dan transparan, atau malah ketebelan, dan menimbulkan efek muka jadi lebi gelap atau jelek (banyak tuh model jilbab jayak gitu).

Fiuh. Semoga sukses.

Anyway, emang kapan sih aku maju seminar? Kok udah heboh ngebahas itu? Kelar aja belom nih programnya! Uhuhu… adakah sukarelawan yang bersedia menolongku mengerjakan program TA ini? I beg you a lot. Hehehe… sambil nyelem minum aer.

Last word… ciao.