Daftar Toko Benang Rajut di Surabaya


Untuk mengakomodir apa yang menjadi kegemaranku beberapa bulan terakhir ini–crochet–maka aku perlu membeli perlengkapan untuk menunjangnya. Perlengkapan wajib untuk mengerjakan crochet adalah benang rajut (tentu saja!) dan crochet hook atau hakpen aneka ukuran.

Baca selengkapnya

August 5, 2012 at 11:17 pm

Crochet As Hobby? No, It’s Life!


Aku kurang suka saat seseorang bilang bahwa hobi hanya sekedar hobi, sehingga dipandang sebelah mata. Melakukan hobi terkesan hanya untuk mengisi waktu luang (which, in my case, is a lot indeed). Padahal menurutku melakukan sesuatu yang disukai itu adalah suatu bentuk kebahagiaan, sebab kita melakukannya dengan sukarela, penuh sukacita, meskipun nggak dibayar. Bukankah itu menyenangkan?

Peralatan merajutku

Read more

July 27, 2012 at 3:38 pm Leave a comment

Resep-resep Kehidupan


Dunia yang kita kenal seringkali tidak berjalan seperti apa yang kita pikirkan. Kadang rasanya memang tidak ideal, tidak adil; meskipun makna adil sendiri seringkali sulit kita deskripsikan, mengingat betapa relatifnya definisi ‘adil’ tersebut.

Read More..

July 27, 2012 at 1:44 pm Leave a comment

Pindah Rumah


Aku berniat mindahin seluruh isi blog ini ke rumah baru. Alamatnya http://www.fansi.web.id. Situs “resmi” tentang aku ini sudah online sejak 2009, tapi insya Allah baru tahun ini aktif. Insya Allah aku bakal lebih konsisten ngeblog disana. Tapi bukan berarti blog yang doyoufancyme ini aku tutup. Blog ini adalah saksi perjalananku sejak tahun 2007, blog ini tau cerita-cerita hidupku baik pahit dan manis, and it’s counting, entah sampe kapan. Bisa konsisten ngeblog aja udah hebat banget sekarang, due to my business (belagu).

Emang kenapa, sih, kok “pindah rumah” segala? Disini kan PageRank-nya sudah bagus, menempati nomor satu di Google kalo kamu googling namaku, serta sudah nyimpen ratusan tulisan hasil nyampah bertaun-taun? Ya, aku kira sudah waktunya aja aku menempati rumah yang lebih “tetap” dan “meyakinkan”. Blog gratisan gini kan–lepas dari kualitas isi–terkesan kurang bonafid dan profesional. Masa’ berkarya pake sesuatu yang gratis. Walaupun itu nggak salah, tapi dari upayaku mengeluarkan uang untuk sesuatu yang bisa kuseriusi kurasa sudah bisa menjadi wujud dari keseriusanku itu sendiri. Bahwa aku mau eksis tapi nggak main-main, gitu. Bukan berarti yang gratis itu main-main loh. Cuma ya itu tadi, dengan keluarnya uang, artinya aku betul-betul eksis di dunia maya secara nyata.

Bingung ah. Pokoknya intinya gitu. Semoga maksudku bisa ditangkep dengan bener.

Disana ntar nggak cuma ada blog. Tapi juga ada portfolio dan beberapa tambahan kecil lain. Mungkin yang lebih jadi perhatian adalah bentuk dan tampilannya yang agak unik dan cerah ceria. Kayaknya sih, tetep blogkulah yang mendominasi isinya.

Terus kapan mau mulai pindah? Sebenernya dari beberapa waktu lalu aku sudah pindahin sebagian besar isi blog ini ke rumah baru. Jadi, prosesnya bertahap. Kalo kamu main ke rumah baru aku, mungkin ada beberapa tampilan yang kurang rapi. Namanya juga masih proses :D

Anyway, there’s no goodbyes to what I’ve done, but I do hope that you visit my new house (which I built myself) in time!

March 30, 2012 at 2:47 pm 2 comments

Ayah dan Nintendo


Dari jutaan kenangan yang secara ajaib masih selalu terkuak di waktu-waktu aku melamun, kadang ingatan beradu pada masa-masa aku kecil, di suatu siang yang panas entah tanggal berapa: aku melangkah turun dari bus sekolah, lalu menangkap wujud ayahku di teras rumah, melambai pada kami, dan kurasakan kelebat bahagia demi memandang senyum lebarnya siang itu–sosoknya dinaungi cahaya kuning.

“Ayah!” kudengar aku dan adikku berteriak menyambut ayah yang rupanya sudah kembali dari perjalanan dinasnya di luar kota. Dulu, senang rasanya menanti ayah pulang dari luar kota–yang memang sering beliau lakukan–sebab pulangnya ayah berarti hadiah.

Dan itulah hadiah yang kami terima: seperangkat Nintendo. Mata kami berbinar. Tak hanya console-nya, tapi juga beberapa permainan seperti Super Mario Bros dan Tetris. Mainan-mainan itu terbungkus dalam kotak kertas pembungkusnya masing-masing; kotak pipih besar kira-kira seukuran harddisk komputer saat ini, berwarna abu-abu. Sungguh suatu penemuan! Kami belum pernah benar-benar memainkan permainan komputer seperti ini!

Maka kami pun mulai belajar mengenal komputer, dan tentu saja bahasa Inggris, sejak saat itu. Betapa senangnya memainkan Nintendo itu. Dalam sekejap aku sudah menjadi ahli Mario Bros. Dan adikku mulai meminta game-game lain, seperti Tennis, Clu Clu Land, dan kompilasi game-game lucu yang dikumpulkan dalam satu ‘kaset’.

What a sweet memory, to look back at those sunny, happy days, back when I was just a little girl, about twenty years ago.

March 2, 2012 at 11:14 pm 3 comments

Khawatir


Kenapa manusia cenderung khawatir akan hal-hal yang belum tentu terjadi?

Contoh:
1. Aduh kerjaan besok gimana ya, bisa selesai nggak ya?
2. Aduh umur udah segini, kok belom kawin-kawin juga ya?
3. Aduh temen-temen seangkatan udah pada punya anak, kok aku masih gini-gini aja ya?
4. Aduh mobil penyok nyerempet trotoar, kalo ke bengkel bisa abis berapa ya?
5. Aduh gebetan mau dateng ke rumah, pake baju apa ya yang gak mengesankan “berharap” tapi tetep manis?

Dan keluhan lain untuk ribuan, ratusan, jutaan jenis masalah yang manusia biasa hadapi, baik besar maupun kecil, dan itu subjektif.

Kenapa, sih, manusia mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi? Memang ada kemungkinan akan terjadi, tapi ada juga kemungkinan tidak terjadi, kan? Kenapa manusia harus fokus terhadap yang negatifnya? Kenapa tidak yakini saja yang baik-baiknya? Sudah sifat dasar manusia, kali ya? Adanya ketakutan jika terus berharap yang baik-baik nantinya kalau tidak terjadi maka jadinya akan kecewa?

Lantas kenapa harus takut hal-hal baik tidak akan terjadi? Biasanya, menurut pengamatan super-awam, faktor-faktor yang mendasari ketakutan itu adalah:
1. Pesimisme
2. Rendah diri
3. Inferior
4. Pengecut
5. Pengalaman buruk orang lain (aneh, pengalaman buruk orang kok dicontoh?)

Semua orang, seoptimis dan sebahagia apapun, pasti punya minimal satu dari faktor di atas. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam menyikapinya. Ada yang dijadikan motivasi. Ada juga yang disugestikan tidak ada.

Dari semua kekhawatiran, ingatlah prinsip dasar: untuk apa, sih, kita khawatir? Bukankah khawatir hanya memperburuk hari yang saat ini sedang kita jalani, yang justru sesungguhnya kemungkinan besar menjadi salah satu hari penyokong keberhasilan kita di masa mendatang? Dan bukankah khawatir berarti tidak percaya Tuhan? Manusia macam apa yang berprasangka buruk kepada penciptanya?

Firman Allah dalam surat Al-Waqi’ah ayat 61: “Dan kami jadikan kamu dalam keadaan tidak mengetahui.”

Firman Allah menurut riwayat Nabi: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Karena itu, berbaiksangka-lah kepada-Ku.”

Firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat 53: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas kepada diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”

Kata Leo Tolstoy: “Tuhan maha tahu, tapi Dia menunggu.”

Kata Saib-e-Tabrizi (favoritku!): “Manusia tidak dapat menghitung bulan-bulan yang berpendar di balik atap atau seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dinding.”

Maka, bagi yang sedang sedih, bagi yang sedang takut, bagi yang tak percaya bahwa hari esok akan berpihak padamu… Tenanglah. Ingatlah bahwa tak sedetikpun dari apa yang kamu jalani saat ini luput dari tatapanNya. Dari perhatianNya. Dan, utamanya, dari rencanaNya. Jangan patah semangat lalu bersedih hati. Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok… jangankan besok, lima menit dari sekarang saja apapun bisa terjadi. Iya, kan?

Jika apa yang kamu inginkan belum kamu dapatkan, kemungkinannya hanya ada dua:
1. Kamu belum siap menerimanya saat ini;
2. Kamu akan diberi yang jauh lebih baik dari yang kamu inginkan.

Satu hal: jangan pernah bandingkan dirimu dengan orang lain. Orang menikah di umur 20, bukan berarti kamu juga harus menyamai mereka. Orang meninggal di umur 60, bukan berarti kamu akan meninggal di umur segitu juga. Tak seorangpun tahu mengenai apapun. Maka, seorang bijak pernah berfatwa: orang yang paling bijak adalah orang yang paling tidak tahu…

Bersemangatlah! Berprasangka baiklah! Kita semua harus bahagia. :)

February 29, 2012 at 2:32 pm 4 comments

Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu – Sebuah (Sok) Analisis Tentang Bahasa


Baru aja beli buku Kumpulan Cerita Leo Tolstoy: Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu terbitan Jalasutra. Buku ini pasti mengandung pesona magis yang kuat, sebab aku–yang dikenal sangat strict dalam membeli buku: buku yang kubeli harus masih rapat terbungkus plastik, nggak lecek, dan bersih–tetap membelinya walaupun kondisi buku ini sudah nggak terbungkus plastik dan terdapat bekas-bekas sidik jari orang di sana-sini. Kertasnya juga sudah agak lecek di beberapa tempat.

Leo Tolstoy's God Sees the Truth, But Waits

Tapi aku tetap membelinya. Kenapa?

  1. Karena, dibaca sekilas di awal-awalnya, buku ini kelihatannya bagus
  2. Buku ini adalah satu-satunya stok yang ada di toko buku diskon yang aku datangi itu
  3. Buku ini berisi karya-karya salah seorang sastrawan paling termahsyur yang pernah ada di dunia.

Namun aku menemukan kesalahan yang cukup mengganggu pada salah satu cerita, yaitu yang berjudul Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu. Tepatnya pada kalimat terakhir. Pada versi bahasa Inggris, yang aku baca di The Literature Network dengan judul God Sees the Truth, But Waits, terdapat kalimat berikut.

In spite of what Aksionov had said, Makar Semyonich confessed, his guilt. But when the order for his release came, Aksionov was already dead.

Dan pada versi yang ada di buku, begini terjemahannya.

Makar Semyonich masih belum merasa puas. Ia mengakui kesalahannya kepada yang berwajib. Ketika Aksionov akan dibebaskan, ia dijumpai sudah tak bernyawa lagi.

Lihat perbedaannya? Saat aku membaca bukunya, aku mendapat asumsi bahwa yang meninggal disini adalah Makar Semyonich. Namun setelah membaca versi bahasa Inggrisnya, aku menangkap kesan bahwa Aksionov-lah yang meninggal. Ini hal yang sangat fatal. Jika pembaca memiliki perbedaan kesan mengenai siapa yang akhirnya meninggal dalam cerita ini, maka cerita yang ingin disampaikan Tolstoy menjadi rancu dan tidak tersajikan dengan baik, hanya karena penerjemah salah memilih kalimat. Penerjemah harus bertanggung jawab terhadap jutaan pembaca yang salah tangkep maksud dari seorang Leo Tolstoy!

Menurutku, seharusnya kalimat terakhir itu lebih baik diganti dengan:

Ketika akan dibebaskan, Aksionov dijumpai sudah tak bernyawa lagi.

Dengan kalimat ini, pembaca tak akan mendapat kerancuan mengenai siapa yang meninggal, sebab–menurut analisis ngacoku tentang bahasa–kalimat tersebut mengandung subjek yang diletakkan dalam dua kalimat yang terpisah, namun memiliki hubungan. Tak ada kata-kata “dia” yang cenderung membangkitkan perbedaan persepsi. Sebab “dia” yang dimaksud pengarang dan “dia” yang ditangkap pembaca sangat memungkinkan menghasilkan perbedaan pendapat; apalagi jika kalimatnya tidak disusun dengan baik. Sangat fatal!

Coba lihat contoh berikut.

Ani dan ibunya pergi ke supermarket. Ani tahu, dia akan membeli banyak bahan makanan untuk acara malam nanti.

Pertanyaannya, siapakah yang akan membeli banyak bahan makanan untuk acara malam nanti? Ani atau ibunya? Apa kamu menemukan kerancuan dalam mengidentifikasi kalimat ini? Gimana menurut kamu tentang apa yang kuduga sebagai kesalahan terjemahan pada buku sepenting karya sastrawan Rusia yang hidup pada awal abad 20 ini? Atau aku yang memang salah? Yuk diskusi!

January 7, 2012 at 6:07 pm 3 comments

Older Posts


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • E. Joseph Cossman
    "Drive-in banks were established so most of the cars today could see their real owners."

My Tweets

  • Memilih itu gampang. Mempertahankannya yg susah. 10 hours ago
  • Kayak ga cocok makan all-you-can-eat pas buka puasa. Secara makanku ga bisa banyak. 13 hours ago
  • Aku tetep dukung Prabowo tapi aku tetep dukung siapapun yang menang. Semoga beliau bisa bikin negeri ini jadi jauh lebih baik. 2 days ago
  • Mood yg bagus ditandai dengan diperdengarkannya A Sky Full of Stars berulang-ulang. 3 days ago
  • Ini Qur'an yg cantik, bikin pengen bacain. *ketauan males baca *ngacir *liat 'in'-nya twitpic.com/e8nry4 3 days ago

Contact

Books I Love

Monthly Posts

Other Information

Click to view my Personality Profile page

Content copyrighted.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 383 other followers