Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu – Sebuah (Sok) Analisis Tentang Bahasa

Baru aja beli buku Kumpulan Cerita Leo Tolstoy: Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu terbitan Jalasutra. Buku ini pasti mengandung pesona magis yang kuat, sebab aku–yang dikenal sangat strict dalam membeli buku: buku yang kubeli harus masih rapat terbungkus plastik, nggak lecek, dan bersih–tetap membelinya walaupun kondisi buku ini sudah nggak terbungkus plastik dan terdapat bekas-bekas sidik jari orang di sana-sini. Kertasnya juga sudah agak lecek di beberapa tempat.

Leo Tolstoy's God Sees the Truth, But Waits

Tapi aku tetap membelinya. Kenapa?

  1. Karena, dibaca sekilas di awal-awalnya, buku ini kelihatannya bagus
  2. Buku ini adalah satu-satunya stok yang ada di toko buku diskon yang aku datangi itu
  3. Buku ini berisi karya-karya salah seorang sastrawan paling termahsyur yang pernah ada di dunia.

Namun aku menemukan kesalahan yang cukup mengganggu pada salah satu cerita, yaitu yang berjudul Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu. Tepatnya pada kalimat terakhir. Pada versi bahasa Inggris, yang aku baca di The Literature Network dengan judul God Sees the Truth, But Waits, terdapat kalimat berikut.

In spite of what Aksionov had said, Makar Semyonich confessed, his guilt. But when the order for his release came, Aksionov was already dead.

Dan pada versi yang ada di buku, begini terjemahannya.

Makar Semyonich masih belum merasa puas. Ia mengakui kesalahannya kepada yang berwajib. Ketika Aksionov akan dibebaskan, ia dijumpai sudah tak bernyawa lagi.

Lihat perbedaannya? Saat aku membaca bukunya, aku mendapat asumsi bahwa yang meninggal disini adalah Makar Semyonich. Namun setelah membaca versi bahasa Inggrisnya, aku menangkap kesan bahwa Aksionov-lah yang meninggal. Ini hal yang sangat fatal. Jika pembaca memiliki perbedaan kesan mengenai siapa yang akhirnya meninggal dalam cerita ini, maka cerita yang ingin disampaikan Tolstoy menjadi rancu dan tidak tersajikan dengan baik, hanya karena penerjemah salah memilih kalimat. Penerjemah harus bertanggung jawab terhadap jutaan pembaca yang salah tangkep maksud dari seorang Leo Tolstoy!

Menurutku, seharusnya kalimat terakhir itu lebih baik diganti dengan:

Ketika akan dibebaskan, Aksionov dijumpai sudah tak bernyawa lagi.

Dengan kalimat ini, pembaca tak akan mendapat kerancuan mengenai siapa yang meninggal, sebab–menurut analisis ngacoku tentang bahasa–kalimat tersebut mengandung subjek yang diletakkan dalam dua kalimat yang terpisah, namun memiliki hubungan. Tak ada kata-kata “dia” yang cenderung membangkitkan perbedaan persepsi. Sebab “dia” yang dimaksud pengarang dan “dia” yang ditangkap pembaca sangat memungkinkan menghasilkan perbedaan pendapat; apalagi jika kalimatnya tidak disusun dengan baik. Sangat fatal!

Coba lihat contoh berikut.

Ani dan ibunya pergi ke supermarket. Ani tahu, dia akan membeli banyak bahan makanan untuk acara malam nanti.

Pertanyaannya, siapakah yang akan membeli banyak bahan makanan untuk acara malam nanti? Ani atau ibunya? Apa kamu menemukan kerancuan dalam mengidentifikasi kalimat ini? Gimana menurut kamu tentang apa yang kuduga sebagai kesalahan terjemahan pada buku sepenting karya sastrawan Rusia yang hidup pada awal abad 20 ini? Atau aku yang memang salah? Yuk diskusi!

January 7, 2012 at 6:07 pm Leave a comment

Senandung Hujan

image

Biru

Senandung hujan di malam penanda tahun yang segera berganti.

Berusaha mengepak pada sayap-sayap rapuh yang telah berlalu, pun bukan berarti menguat.

Tahun ini menyisakan jejak-jejak pahit manis hidup.

Kesibukan baru.
Hobi baru.
Telepon genggam baru.
Pergaulan baru.
Pola pikir baru.
Dan cinta… Cinta yang bertahan dan berjuang.

Setiap tahun, setiap nyawa, bukankah memang begitu?

Ingin aku dapat syukuri segala yang kurasa kulupakan bahwa kumiliki.

Ingin kurasa sesal karena kerakusanlah yang kerap menyandingi relung keinginan.

Di atas semua yang kumiliki secara cuma-cuma: tubuh ini, wajah ini, keluarga ini, harta ini, dan.. Lalu.. Cinta ini.

Alhamdulillah.

Jika aku masih diizinkan menghirup duniaNya esok pagi, maka rayakanlah.

Kesempatan. Pilihan.

Tidak semua orang memilikinya.

Sebab apa guna berpesta, untuk temukan pedih di saat-saat dimana kau pikir kau hidup selamanya?

Maka bersyukurlah. Untuk kemudian kau rasuki ke mimpi-mimpi mesra.

Antara doa dan hatimu.

Dan hujan masih.

Basah, basahi tanah.

Di rumah dan ruang sepi.

Hampa bergolak bertaut dengan angan.

Namun kuyakin, esok cerah masih dapat kumiliki.

Alhamdulillah.

Posted from WordPress for Android

December 31, 2011 at 10:45 pm 3 comments

Pergantian Tahun Ini

Sebenernya nggak kepikir untuk nulis sesuatu yang spesifik disini, tapi setelah diperhatiin ternyata bulan Desember aku belum menulis satu hurufpun dan itung-itung ini pun menjadi postingan terakhir di tahun 2011, so here I write another piece of crap.

Ngebahas apa, ya? Tahun baru? Hmmm. Basi, sih. Tapi mari menulisnya dari perspektif pribadi. Yaitu hal-hal yang identik pada tahun baru.

1. Merayakan malam pergantian tahun

Dulu setiap malem tahun baru biasanya aku keluar rumah. Entah sama keluarga (paling sering), temen-temen, sampe pacar (kalo pas punya). Tapi entah sudah beberapa tahun terakhir ini, ada kali 4 tahun, aku menghabiskan malem yang katanya penting itu di rumah aja. Ngapain di rumah? Nonton TV dan makan. Udah. Selain males kemana-mana, aku kurang nyaman sama suasana yang terlalu rame, udara malem yang dingin, dan jam tidur yang kebuang sia-sia.

Lagian sebetulnya, bukankah setiap hari adalah hari baru yang mestinya pun patut dirayain? Karena rupa-rupanya nggak semua orang memiliki keberuntungan bangun di pagi hari dalam keadaan sehat dan bahagia? Kenapa cuma tahun baru? Tahun kan cuma sekedar angka. Pertambahan umur, oke. Tapi bukanlah umur yang ternyata menentukan kualitas hidup seseorang. Umur, sekali lagi, cuma sekedar angka. Begitu juga tahun baru.

2. Bikin resolusi

Sebetulnya nggak ada masalah dengan membuat resolusi. Tapi coba, deh, seberapa persen sih resolusi itu biasanya sanggup dijalanin? Pasti banyak yang nggak terkabul, kan? Membuat resolusi seringkali berarti meninggikan harapan: well, berharap adalah sesuatu yang sangat baik, namun adanya resolusi mengakibatkan harapan menjadi semacam obsesi–yang ujung-ujungnya malah menjerumuskan kita ke tindakan-tindakan yang malah bertentangan dengan norma dan etika pribadi maupun bermasyarakat. #belajarPPKN

Aku nulis gini bukannya nggak suka bikin resolusi. Buku-buku harianku tiap tahunnya dipenuhi oleh resolusi-resolusi. Tapi tahun ini aku mau ngubah pola pikir: nggak perlu banyak-banyak berresolusi, jalanin aja sebaik-baiknya hidup ini dan nikmatin aja setiap tawa, air mata, bahagia, atau siksaan yang mungkin menerpa. Yang pasti jangan lupa untuk selalu berpikir positif dan nggak mudah dikalahin keadaan seburuk apapun. Sebab pasti selalu ada jalan :)

3. Tahun baru = hari baru (yang lain)

Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota aku biasa bersepeda sama adekku atau temen kantor aku. It takes me to wake up too early at such holiday tapi aku menikmatinya. Disadari atau nggak, pada tanggal 1 Januari 2012, sebuah hari baru yang baru aja dirayain orang-orang dengan gegap gempita karena bagi mereka hari ini adalah “sesuatu”, hanyalah suatu hari baru berisi rutinitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Jadi kenapa harus membuang uang, energi, dan waktu untuk sekedar menunggu hari berganti (menurut penanggalan buatan Julius Caesar)? Toh, ketika bangun, kita nggak lantas menjadi orang yang 1,000 kali lebih kaya atau tiba-tiba aku jadi istri Josh Hartnett atau James Franco… It’s just another day, kalo kata Paul McCartney :)

Pastinya kita harus selalu merenung atau melakukan kontemplasi akan apa yang sudah kita hadapi setahun terakhir ini. Apakah ada pencapaian, kemunduran, atau stagnan? Apapun itu, tak ada yang harus dirisaukan. Jika kita merasa banyak melakukan dan mendapat kebaikan, mari bersyukur. Jika stagnan, mari ditingkatkan dengan cara positif. Jika menurun, kocok dadunya trus maenin ulernya maka waktunya kita untuk belajar dan bekerja dengan lebih semangat!

Selamat datang, 2012!

Sumber gambar: http://the-best-newcar-2011.blogspot.com

December 31, 2011 at 5:24 pm 4 comments

Older Posts


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • John Ruskin
    "Every increased possession loads us with new weariness."

My Tweets

  • I'm at Kapas Krampung Plaza (KAZA) (Jalan Kapas Krampung No. 45, Surabaya) http://t.co/r3Gf0jlu 2 hours ago
  • Udah lewat jalan alternatif tetep aja rame. Tapi MERR ini bikin cepet juga. http://t.co/blyfHWMq 2 hours ago
  • Nyela2 bentuk fisik orang (i.e. gendut, jelek, cungkring, memble, tonggos, bogel dll) berarti sama aja nyela2 karya seni Allah. 9 hours ago
  • Karaoke sambil jejeritan. Alhamdulillah. :)) 15 hours ago
  • Kalo kerjaannya tetap, rutin, bertahun, dan penting, kenapa cuma dikasih status kontrak? Gak mau 'rugi' ngasih fasilitas macem2 ya? 15 hours ago

Contact

New Writings

Monthly Posts

Other Information

Click to view my Personality Profile page

Content copyrighted.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 330 other followers