Ganti Baju

Selama bertahun-tahun pake hp, atau hape, atau handphone, atau ponsel, atau telepon seluler, telepon genggam, atau smartphone (sebetulnya apa sih bahasa resminya?) apalagi hp yang masuk kategori flagship alias hp kelas atas kita pasti nggak bisa ngebiarin tuh hp berkelana mendampingi keseharian kita tanpa dipasangin baju alias case/casing. Alasannya tentu sebagai bentuk perlindungan dari kotor dan lecet akibat benturan atau pemakaian, dan nilai tambahnya juga bisa turut mempercantik hp tersebut.

Nothing wrong with that, even I myself have so many clothes for my phone, ada kali 20 biji, padahal hp udah 3 tahun ga ganti-ganti. Aku tuh rajin banget ganti case, menyesuaikan dengan mood, keinginan, atau outfit hari itu, dan alasan-alasan receh lain seperti ‘tiba-tiba pengen pake yang itu ah, lucu juga’. Itulah sebabnya aku menjadi begitu konsumtif dalam hal case hp — sesuatu yang mungkin menjadi prioritas keseribu bagi orang-orang. Dengan kata lain, orang-orang beli case ya satu aja dan dipake terus sampe rusak, kalo rusak baru beli lagi. Itu pun belinya ya sesuai fungsi aja. Nggak harus warna tertentu, bahan tertentu, model tertentu, pokoknya case sesuai hp, udah.

Not me. I’m a phone case maniac. Just like I’m a knitting yarn maniac (non acrylic, please). Aku punya case mulai bahan plastik transparan (standar), hardcase polos, hardcase motif, hardcase bertekstur, plastik bergambar, kaca, kaca air berpasir, kaca glow in the dark, case supertipis semi-hardcase (dan ini banyak), semi-hardcase bentuk permen, case tepinya doang tapi belakangnya akrilik, case polos tanpa bolongan logo, case dengan bolongan logo, case yang ada dudukan besinya, sampe case dengan popsocket/pegangan/dudukan tertempel di belakangnya. Dan meski mayoritas case aku warnanya pink, aku juga punya case warna hitam, putih, coklat, kuning, hijau, merah, biru, sampe yang tanpa warna. Nggak cuman satu warna tapi ada juga yang bergambar pelangi, langit, kucing (tentunya), rumah, pohon.

Dalam satu hari aku bisa ganti case 2-3 kali. Karena suka tiba-tiba nggak demen, jadi pengen ganti. Penggunaan terlama untuk satu case biasanya nggak pernah melebihi 1 minggu.

Prinsipku, tak apalah case ganti-ganti, yang penting setia sama hpnya.

Bertahun-tahun begitu, namun sejak 20 hari terakhir aku melakukan suatu perubahan. Tebak.

Ya. Aku berhenti menggunakan case untuk hpku.

Hp kubawa-bawa dalam keadaan telanjang tanpa pelindung apapun. Bener-bener memegang aslinya secara fisik. Dan rasanya seperti lega, karena memegang sesuatu yang asli. Yang tentunya lebih tipis dan ringan ketimbang saat dibungkus case. Rasanya seperti sensasi yang menyenangkan dan nyata. Tidak tertutupi. Pada dasarnya, model hpku juga sih faktor cukup besar yang membuatku jatuh cinta untuk kemudian memilihnya — that’s why I’m praising its naked body a lot.

Karena hp yang kugunakan ini bahannya licin dan halus, agar mengurangi risiko jatuh dari genggaman maka aku menempelkan popsocket di belakangnya. Which is a very big help. Memang jadi ada ganjelan, tapi menjadikan nyaman banget dipegang. Nggak perlu pake 2 tangan. Dan ini sudah berjalan selama 20 hari. Kalo aku bisa mencapai hari ke-30, itu berarti rekor.

Walaupun, rasanya kangen juga pake case lucu-lucu. I miss my phone cases. Terutama yang unik-unik. Nanti, lah, we’ll see how many more days I can bear with this beautiful naked phone of mine.

Anyway, pake hp polosan begini mesti jadi lebih hati-hati sih. Nggak bisa asal taro. Nggak bisa asal dimasukin ke tas. Nggak bisa memegangnya disambi megang alat-alat lain yang berpotensi menggores. Lebih vulnerable. But, whatever.

Oh, ya, saat aku bilang hpku totally naked, itu nggak cuma tanpa case doang. Tapi juga tanpa pelindung layar. Kalo pelindung layar ini sudah sejak 1-2 tahun terakhir sih aku nggak pake. I don’t like it. Merusak estetika dan mempertebal hp juga. Balik lagi, mungkin karena hpnya masuk kategori flagship (alhamdulillah), makanya dia lebih tahan banting. (Bener-bener literally pernah kebanting, tapi nggak luka, dong).

Seandainya hati bisa setahan-banting hp.

October 23, 2019 at 11:14 am Leave a comment

Si Merah

BIASANYA dia tidak tertarik merawat bunga. Apartemennya terlalu sempit, barang-barangnya terlalu banyak, alasan-alasannya terlalu bermacam.

“Buat apa menyimpan tanaman di apartemen sesempit ini? Bisa busuk nanti,” dia menampik saat seorang kerabat menyarankan untuk memberi sedikit nuansa alam di dalam ruangan apartemen bergaya minimalis.

Dan memang terus begitu: minimalis, namun entah kenapa sesak, bertahun-tahun.

Tetapi sekuntum mawar tidak sengaja dilihatnya di sebuah toko di pinggir jalan yang jarang dia lewati. Sekuntum mawar biasa. Merah, segar, berlapis-lapis, berbintik-bintik basah, habis disiram oleh pemilik toko. Sinar matahari berkilau di butiran bintiknya.

Hatinya bagai tertimpa hidayah. Cahaya kebenaran menyinari jiwa. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama.

Maka dibelinya sekuntum, bersama sebuah pot mungil dan pupuknya. Dipeluknya pot itu sepanjang perjalanan pulang, sambil terpana menikmati bunga cantik di atasnya. Dia tak yakin mampu merawatnya. Tapi pesona si merah nan indah itu menimbulkan kepercayaan diri yang tinggi akan kemampuannya merawat sang bunga.

Ya, dia menamainya si Merah.

Apartemennya tiba-tiba tidak lagi terasa penuh. Barang-barangnya seolah gampang dirapikan kembali, buang yang tidak dipakai. Baju-baju membosankan. Peralatan elektronik berdebu. Furniture rusak. Seolah memang itulah yang seharusnya dilakukan. Tak pernah terpikirkan.

Si Merah harus punya tempat khusus. Di birai jendela.

***

“KUKIRA kamu tak suka bunga,” tukas sahabatnya sambil mengambil sebuah kaleng minuman dingin berkarbonasi dari kulkas.

Akhir pekan itu cuaca sedang sangat hangat. Kesempatan bagus untuk memanjakan si Merah dengan cahaya matahari seharian, di balik jendela yang membuka lebar. Disemprotkannya obat insektisida, yang tak pernah absen dilakukannya sebulan sekali.

“Tapi bunga ini cantik sekali,” jawabnya penuh keterpanaan. Cintanya belum pudar.

Jika senja turun, jendela ditutup dan si Merah akan beristirahat di sudut ruangan. Kadang-kadang dia percaya bahwa ada sesuatu yang terlihat berupaya menyeruak dari dalam tanah, berwarna merah. Pasti anak-anak si Merah.

Tak sabar.

Seringkali dia merasa tubuhnya seperti habis diinjak-injak sepulang kerja. Pekerjaan sebagai jurnalis hanya mengijinkan dia istirahat saat benar-benar tak ada kegiatan yang bisa diliput, yang jarang terjadi. Begitu sibuknya, sampai-sampai waktunya habis hanya di kantor, event untuk diliput, dan apartemen.

Apartemen berarti si Merah.

Hatinya kembali bahagia setiap menemukan si Merah berdiri segar di sudut – apalagi kini Merah tak lagi sendirian.

“Hai, Merah, bagaimana harimu? Aku lihat kamu mulai beranak-pinak. Makin cantik, lho,” sapanya riang. Capek dan pegalnya mendadak sirna. Pupil matanya dipenuhi si Merah, begitu juga hatinya.

Pada hari-hari yang kurang beruntung, dia hanya bisa terkapar di ranjangnya yang berantakan dan tak ingin makan apapun. Suhu tubuhnya tinggi. Hanya bisa jatuh tertidur. Namun dengan sisa-sisa kekuatan, dia menggeser pot si Merah ke samping ranjang, lalu naik dan memiringkan tubuh di atas bantal, memeluk guling. Memperhatikan nuansa keindahan Merah sampai menutup mata.

Sepanjang hari si Merah mendapat asupan sinar matahari, meskipun hanya dari balik jendela. Agar si Merah, beserta anak-anaknya yang mungil, tidak jenuh dengan pengapnya apartemen. Mungkin dia bisa melihat-lihat kepadatan lalu lintas dunia manusia di bawah sana.

“Cukup aku yang merasa sesak, Merah,” katanya sambil membelai Merah dengan ujung jari telunjuk, kebiasaannya setiap pagi sebelum meninggalkan apartemen. “Kamu harus bahagia dan sehat.”

Kadang-kadang dia memasak sesuatu. Terus-terusan makan di luar jelas menguras dompet. Dipelajarinya cara-cara memasak yang mudah dari Internet, jika sudah selesai mempelajari banyak hal tentang cara memanjakan Merah.

“Aku membuat quesadilla, Merah, lihat,” ujarnya sambil menaburi potongan selada dan keju di atas kulit tortilla berwarna putih. “Seandainya kamu bisa ikut makan.”

Makanan khas Meksiko tersebut sebenarnya disajikan untuk 2 orang. Namun dia terpaksa memakannya sendirian. “Maafkan aku, Merah,” ucapnya lirih sambil mengunyah daging ayam. “Aku harus makan ini semua sendiri dan kamu hanya bisa melihat.”

Si Merah tidak pernah hidup kekurangan. Dia mempelajari segalanya, mulai dari cara menyiram, jenis obat, waktu-waktu produktif, kapan harus memotong ranting (yang dilakukannya dengan terpaksa), bahkan potnya sudah berganti lima kali karena berbelanja pot kini menjadi kegiatan adiktif.

Sesekali dia melatih kemahirannya memainkan piano. Meski piano di apartemennya hanyalah piano upright bekas kepunyaan nenek, dia tetap gemar memainkannya, terutama di kala sedih.

“Jika aku memainkan karya Chopin yang judulnya Ballade 1 in G Minor op 23, tak hanya aku, si Merah kurasa ikut menikmatinya,” katanya memberitahu sahabatnya. Ada setitik jumawa. Melihat wajah bingung sang sahabat, dia melanjutkan. “The Pianist, saat Wladyslaw Szpilman memainkan piano karena diperintah tentara Nazi?” Sahabatnya pun mengangguk paham.

Dia begitu percaya, rimbunan kuntum mawar yang semerbak berwarna merah darah itu akan selamanya menemani hari-harinya.

Sampai kemudian. Dia meletakkan handuknya seusai mandi di pagi hari, mengenakan pakaian kerja, lalu sebelum menuju dapur dikunjunginya si Merah. Di sekitar pot bertebaran kelopak-kelopak. Itu tak pernah terjadi. Merah tak pernah rontok.

Makin cepat hari berlalu, makin banyak si Merah menggugurkan kelopaknya.

“Apa yang kiranya terjadi padamu, Merah?” ucapnya lirih sambil menyiram pelan-pelan Merah dan semua anaknya. “Jika kamu sakit, cepatlah sembuh. Jangan sakit.”

Tetapi kondisi Merah makin buruk. Satu persatu kelopaknya gugur lalu mengering. Dia selalu membersihkannya setiap malam, setengah termenung, setengah bingung, setengah sedih – hanya untuk melihat lembaran-lembaran baru lagi di pagi hari. Dia menangis.

“Mungkin ada yang salah dengan obat insektisida barunya,” tutur sahabatnya mengira-ngira. “Sudahlah, keringkan airmatamu. Itu, kan, cuma bunga.”

Dia merasakan sengatan di hati. Kata-kata ‘cuma’ artinya meremehkan peran Merah dalam hidupnya. Seolah kekhawatiran dan kesedihannya tak cukup mengganggu hari-harinya belakangan ini. Tak disangka, seorang sahabat justru menghancurkan sisa-sisa harapan.

“Merah bukan cuma bunga. Dia pelipur lara yang sangat memahamiku,” tukasnya galak. “Aku telah bersamanya sejak dia masih sangat kecil dan sendirian. Aku tidur dengannya setiap malam. Sakitku sembuh karena dia menyemangatiku.”

Tak ada gunanya mendebat. Si Merah tetap berjatuhan bagai kepungan hujan deras yang tak mau berhenti menusuk bumi.

Dia tak sanggup lagi pergi bekerja. Bosnya tak paham kenapa dia terus mengajukan cuti. “Kamu tampak patah hati. Jangan membawa masalah pribadi di dalam ranah pekerjaan,” nasihatnya dengan lagak aku-sudah-biasa-menghadapi-staf-patah-hati.

Dia mendengus dan berlalu.

“Apa yang terjadi, Merah?”

Pot si Merah kini tergeletak di atas meja makan. Di atas meja yang sama, dia meletakkan dagu di atas lengannya selama berjam-jam, memandangi Merah dengan hampa. Ditekan-tekankannya jemarinya pada kelopak Merah, berharap keajaiban terjadi dan si Merah perlahan-lahan membaik. Kini hanya menyentuh kelopaknya sedikit saja, Merah tak tahan. Rontok.

Air matanya pun tak tahan. Berhamburan.

Si Merah kini ikut tidur di atas ranjang.

“Kumohon tetaplah bersamaku, Merah. Jangan pergi,” katanya sambil menangis di atas bantal. Diusapnya kelopak demi kelopak yang masih tersisa. Merah kini tak gembur dan segar lagi. Dia bahkan tidak lagi merah. Warnanya kini kecoklatan. Merah tak lagi harum, tak lagi halus. Merah tak lebih seperti daun kering ringkih yang jatuh dari pohon, berkerak jika terinjak.

Maka dia, seperti Merah, kehilangan pegangan dan gairah. Dia berhenti memasak. Dia tak lagi bicara dengan sahabatnya. Apalagi memainkan piano. Namun meski melupakan makan, dia tidak lapar atau sakit. Sedihnya terlalu dominan. Matanya merindukan warna merah.

Dini hari, dia tak mampu memejamkan mata. Apartemen itu pengap, meski pendingin udara terus menyala. Si Merah kini kembali sendirian, hanya ditemani sekuntum-dua kuntum anak-anak yang juga sekarat. Air matanya jatuh ke bantal. Tak rela berpikir ini saat-saat terakhir bersama Merah.

***

PAGI itu cerah seperti biasa. Dia membuka mata. Kedinginan. Sudah terbiasa dengan nuansa merah yang menghangatkan pagi, dia mulai menangisi ketiadaannya. Lalu kaku terduduk. Diusapnya matanya yang bengkak. Dirabanya wajahnya yang tirus.

Aneh. Mendadak dia sadar, ranjangnya kini berwarna merah. Dia menyentuhnya, yang ternyata adalah tumpukan kelopak bunga mawar merah. Segar dan harum. Banyak sekali. Memenuhi ranjang. Tak hanya itu. Meja tamu, ruang makan, sofa, hingga ke lantai, semua berlapis merah. Apartemennya tak lagi pengap. Kemana pun mata memandang dan tubuh bergerak, apartemen itu bagai hutan kelopak bunga mawar.

Dia menari-nari bahagia di tengah ruangan. Menempel-nempelkan kelopak merah di tubuhnya. Oh, Merah, terima kasih karena tidak pergi, isi hatinya bergumam, air matanya kembali mengalir.

Ruangan itu terasa seindah dan sehidup saat Merah pertama kali hadir di tempat itu: kecil, sendirian, bangga, dalam pot murahan.

Dikecupnya kelopak-kelopak itu. Merasa jatuh cinta sekali lagi.

Pot bunga yang indah berdiri di sudut, sendirian, kering.


P.S. Cerita ini kutulis tanggal 18 Oktober 2016, sesaat setelah mendengar berita kematian seorang kawan.

May 17, 2019 at 7:00 am Leave a comment

Alasan

Mungkin bagi sebagian orang, mengalami kejadian tertentu tak lebih sekadar suatu kesialan atau keberuntungan. Tak ada alasan. Tak merasa perlu mencari penyebab dan hikmah. Menganggap aneka insiden yang menimpa hidup tak lebih sebagai deretan takdir yang memang sudah seyogyanya terjadi dalam kehidupan semua insan bernyawa. Sekadar menerima dan membiarkannya berlalu.

Padahal tidak. Makin dirimu dewasa dan berpikir, dan jika kamu benar-benar menyempatkan diri untuk berkontemplasi pada suatu keheningan malam, kamu bisa mulai menyadari bahwa apapun yang terjadi padamu hari ini – detik ini – sesungguhnya adalah alasan mengapa certain things terjadi padamu di masa lalu. Yang mana, dulu tidak dapat kamu pahami alasannya. Yang membuatmu menangis di atas sajadah, mengiba berurai air mata, mengapa ini yang terjadi, ya Allah? Ketahuilah, jawabannya sebenarnya ada.

Semua pertemuan, perpisahan, kesedihan, kebahagiaan, keputusan, perubahan, ketidaksengajaan, penundaan, wajah, nama, tempat, kota, langkah… semuanya sesungguhnya berkonspirasi menuntunmu menuju takdir hidupmu, hidup yang kamu cita-citakan. Meski pasti pada saat suatu perpisahan terjadi maka bagimu dunia terasa runtuh dan saat kamu bahagia maka menurutmu tak mungkin kamu lebih bahagia lagi … ternyata tidak. Semuanya tak lebih dari sepenggal kisah yang saling bahu-membahu mengantarmu kepada sesuatu yang lain, yang baru, yang tak kamu sangka, yang padahal sebelumnya cuma bisa kamu bayangkan.

Itu sebabnya orang suka menasihati – yang mungkin tak suka kita simak pada saat galau: ‘ambil aja hikmahnya.’ Kita yang sedang kacau-balau tentu menerima nasihat itu sebagai basa-basi belaka. Kita akan berpikir sinis anak kecil juga tau ngomong begituan. Namun kesinisan itu akan berubah beberapa saat, atau beberapa bulan, atau beberapa tahun kemudian, saat kita mengalami kebahagiaan, yang jika dirunut sesungguhnya berawal dari ‘kesialan’ di masa lalu. Kita akan kaget sendiri saat sadar bahwa kalau saja hal yang buruk dulu tidak terjadi, maka kebahagiaan yang sedang kita nikmati sekarang juga tak akan terjadi. Lalu kita pun akan menyadari betapa beruntungnya dan betapa baiknya Tuhan sesungguhnya. Semua penderitaan di masa lalu tak lain ternyata hanyalah sarana untuk memberikan kita anugerah di masa sekarang.

Kita akan menyadari, inilah hikmah yang dimaksud oleh nasihat basa-basi tadi.

Jadi, meski keterpurukan sanggup membuat kita yakin untuk mengakhiri hidup, percayalah bahwa semua kesedihan dan ketidakberuntungan itu hanya sebuah fase, sesuatu yang tak kekal, dan semuanya akan digantikan dengan kebahagiaan berlipat-lipat, karena begitulah janji Tuhan jika kita terus percaya dan bersyukur kepadaNya.

Allah berfirman dalam surah Al Baqarah 155-156: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar sehingga bisa hidup bahagia menurut Islam. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami kembali).”

Ada ungkapan yang pernah kubaca dalam buku gubahan Paulo Coelho: hidup akan membuatmu bahagia, tapi sebelumnya hidup akan membuatmu kuat terlebih dahulu.

Sebab semuanya, baik maupun buruk, hitam maupun putih, memiliki alasan.

May 16, 2019 at 3:06 pm Leave a comment

Pamit

Sudah deket, akrab, nyaman, tau-tau ditinggal? Aku kira itu sesuatu yang mustahil, awalnya, sebab mana bisa seseorang main pergi begitu aja saat sudah ‘terkoneksi’ dengan orang lain? Seperti, terkoneksi dengan pekerjaan, pernikahan, keluarga, bisnis, dan semua ikatan-ikatan lain. Manusia yang sudah committed pasti berupaya terus bersama, kan? Jika memang mau melepaskan diri, maka bicara dulu, pamitan, izin, diskusi.

Jadi kalo faktanya kepergian banyak orang tak diawali dengan pamitan dulu – ujug-ujug ngilang – maka tentu ini dapat menghasilkan sebentuk prahara. Atau kemarahan. Minimal kebingungan. Mengapa tiba-tiba pergi? Mengapa mendadak menghilang?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan tersebut pun lama-lama akan jadi tak penting lagi, seiring berlalunya waktu. Karena toh yang ditanya kan sudah pergi. Jadi kita yang ditinggal ya hanya bisa berasumsi, lalu ikhlas, menjadi dewasa (kalo bisa). Kebenaran tetap dia yang memiliki; alasan mengapa tak pamit pun, dia satu-satunya yang tahu jawaban validnya. Namun kenapa tak ungkapkan saja semuanya secara terbuka? Selamanya harus menjadi misteri Ilahi kah?

Ya, makin kita dewasa, makin kita ngerti bahwa dunia ini tak akan berjalan hitam-putih seperti harapan. Akan selalu ada ketimpangan, dan tak semua pertanyaan dapat terjawab. Tak semua yang ada di sisi benar-benar ingin ada di sisi. Dan tak semua yang kita pikir bisa dibicarakan santai sambil ngopi, bisa dibicarakan. Kadang, orang tiba-tiba mau pergi saja. Merasa cukup.

Tak ada kata berpisah. Tapi secara fisik menghilang. Memisahkan diri. Meninggalkan segala yang sudah dilewati seolah semuanya tak berarti. Ya, memang bagi dia pasti tak berarti, lah. Kalo berarti kan nggak pergi. Nah, pertanyaannya, kenapa dia menganggap semuanya yang berarti bagiku adalah hal tanpa arti, sehingga membolehkan dia merasa layak begitu saja pergi?

Maksudku, kalo memang mau pergi, mbok ya ngomong. Bilang alesannya apa. Walaupun mungkin akan sulit diterima, namun setidaknya sudah pamitan. Lepas dari aku mengizinkan atau nggak, nothing I can do to stop them if they have no intentions to stay. Ya sudah, I will let go.

Oh, ya, aku orang yang akan mudah melepaskan, jika yang ingin kupertahankan memang memilih pergi. Mudah di sini bukan berarti aku suka atau bahagia melakukannya ya. Tapi dalam arti ya sudah – jika itu pilihannya, tak akan kupaksakan menuruti mauku.

Nah, kalo main pergi aja? Kesan pertama tentu heran. Lalu kaget. Terpana. Bertanya-tanya. Apalagi tak merasa ada yang salah. Jadi kenapa mendadak berubah? Sudah capek-capek bertanya pun, tetep tak ada jawabannya.

Kepergian tiba-tiba sungguhlah bisa masuk kategori kriminalitas.

Sebab dampaknya sungguh negatif: pertanyaan tak terjawab, kesedihan tak berujung, kemarahan tanpa akhir, kepasrahan tiba-tiba, penerimaan di balik air mata. Hal-hal yang dapat menjatuhkan produktivitas dan nilai hidup siapapun, bisa jadi untuk jangka waktu lama.

Itu sebabnya, jika aku adalah seseorang yang ingin melepaskan diri, aku akan pamit dulu. Minimal menunjukkan tanda-tanda ketidakbetahan. Yah, mungkin bagi banyak orang, pamit adalah suatu tindakan pahlawan, sebab yang namanya pengecut memang tak akan sanggup berkata jujur, bahkan untuk sekadar pamitan.

P.S. Post ini ditulis bukan karena aku habis ditinggal pergi baru-baru ini. Tapi kasus ditinggal-tinggal ini pernah beberapa kali terjadi di masa lalu, dan pada saat-saat itu, aku masih inget how heartbroken I was, yang kalo diinget suka jadi sebel dan heran sendiri, sehingga aku pun menuliskannya secara ngalor-ngidul di sini.

April 16, 2019 at 9:19 pm Leave a comment

Belum Pernah

Dari banyak hal di dunia ini yang bisa dengan mudah bikin air mataku jatuh ke pipi, salah satu penyebab terbesar adalah: mengetahui fakta bahwa di luar sana, ada seorang pria yang jatuh cinta setengah mati dengan seorang wanita dan rela mempertaruhkan apapun demi bisa hidup bersama wanita itu, sesulit apapun, semahal apapun, sesibuk apapun, selama apapun.

Pasti bingung, kan, apanya yang sedih dari itu? Bukannya itu hal yang membahagiakan? Ya, memang senang mendengar atau membaca tentangnya, namun hal itu tanpa terhindarkan pasti membunyikan ‘bel’ di sudut otakku yang tanpa tedeng aling-aling mengingatkan bahwa: tak pernah, atau belum pernah, ada sosok pria yang melakukan itu kepadaku sebelumnya.

Ya. Bagiku ini kedukaan. Layak ditangisi. Dipertanyakan. Dinanti-nanti. Bukan di hadapan siapapun, kecuali kepada Tuhanku semata, di atas sajadah atau di tempat tidur. Sebab manusia mana yang bisa menjawab pertanyaan menurutmu kenapa aku belum pernah mengalaminya sejauh ini?

Untuk mempermudah gambaran dan mengikis keheranan kalian, berikut contoh-contoh kasus yang mendeskripsikan kenapa aku menangis:

  • Pria yang rela menempuh jarak ratusan kilometer demi untuk melamar atau menikahi wanitanya. Meski harus bolak-balik ratusan kilometer dan menghabiskan waktu serta biaya, si pria tetap menepati janji untuk menikahi wanitanya. Menuruti syarat dan permintaan dari keluarga wanitanya. Selalu kembali, dan seiya-sekata dengan perbuatan.
  • Pria yang selalu berkirim kabar dengan wanitanya meski hubungan mereka terkendala banyak hal, yang membuat komunikasi mereka menjadi terbatas/sulit/mahal. Namun tetap dijalani. Misalnya tetap berkirim surat di kala perang. Atau tetap menelepon setiap hari meski sedang berhubungan jarak-jauh (LDR).
  • Pria yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, menjadikan mereka jarang ketemu, namun tetap menyisihkan waktu dan uang untuk berupaya menikahi wanitanya. Atau sekadar menemuinya. Kesibukan tidak menghalangi pria itu untuk mencintai dan menikahi wanitanya, dan kemudian membawanya hidup bersama.
  • Pria yang sudah ditinggalkan si wanita namun tetap mencintainya. Entah hanya dalam doa atau tulisan, atau sampai berjuang mendapatkannya kembali. Berjuang meski sulit atau terlarang.
  • Pria yang sangat mementingkan wanitanya, mengistimewakannya, mengutamakannya, menjadikannya prioritas, memikirkan perasaannya, menimbang-nimbang pilihannya. Concern terhadap apapun yang dirasakan dan diinginkan si wanita.

Begitulah. Lalu kalian akan bertanya, bukankah pria yang waktu itu melakukannya? Hei, baiklah, dari sekian banyak pria yang kukira mengisi hati dan nantinya hari-hari bersamaku, yang kepadanya kupercayakan hatiku, belum ada seorangpun yang mau seberusaha itu untuk bersamaku. Yah, kalau memang ada, tentunya saat ini aku tak mungkin menulis ini sendirian sambil dengerin piano Glassworks gubahan Valentina Lisitsa, kan?

Kata kuncinya adalah berusaha dan kesamaan hatiku dengan hatinya (mutual). Selama salah satu faktor tidak dimiliki, maka pria tersebut tidak eligible untuk diberi ‘tantangan’ ini. Dan beberapa yang kukira memilikinya, yang kupikir dapat menjadi tempat hatiku bertambat, ternyata malah bikin sambat…

Maka, itu sebabnya, mari kembali lagi ke paragraf pertama tulisan ini.

April 10, 2019 at 9:17 pm Leave a comment

Jarak

Jarak hanya angka, ukuran, sesuatu yang seharusnya tidak menjadi penghalang untuk pertemuan. Sebab sejauh apapun sebuah jarak, dia tetap memiliki dua ujung yang saling merindu untuk bertemu.

Tapi jarak selalu menuntut pengorbanan dan harga yang harus dibayar. Jarak menuntut waktu, menuntut sabar, menuntut ikhlas, menuntut keberanian. Jarak bukan untuk mereka yang kalah oleh mahalnya nominal, bukan untuk mereka yang jantungnya berdegup ragu oleh ketakutan akan perkataan orang lain.

Adanya jarak menciptakan keberanian, sebab menjelajah jarak menunjukkan ketulusan hati. Keberanian menempuh dan mengatasi segala takut dan ragu. Jarak sesungguhnya tak berarti karena di ujung sana, sesuatu yang dirindukan pun menantimu. Dia hidup di dunia yang sama. Udara yang sama. Jarak yang jauh tidak menjadikan hidup kalian lantas menjadi jauh juga, seperti berbeda dimensi atau masa.

Jadi, kenapa mempermasalahkan jarak? Kalau benar-benar rindu, maka jarak hanyalah sekelumit jentikan jempol yang patut diremehkan. Apalagi di dunia seperti yang kita tempati hari ini, dimana perjalanan dan komunikasi menjadi begitu mudah dan cepat dilakukan.

Maka, hubungan seharusnya tidak mengalah oleh jarak. Dan agar tulisan ini tidak dikata-katai sebagai ‘halah ngomong gampang’ maka sebagai manusia, kita punya tools yang tertanam sejak lahir bahwa manusia ditakdirkan hidup penuh upaya dan tidak menyerah pada nestapa. Surviving is part of living, not the other way around. Dan sebagai hadiah untuk usahamu, Tuhan pasti anugerahkan keajaiban-keajaibanNya padamu, sesuai janjiNya untukmu, hamba yang berusaha menepis jarak sebagai monster penghancur rindu.

March 29, 2019 at 2:00 pm Leave a comment

Satu Frekuensi

Sebetulnya apa yang paling penting dalam hal membina hubungan dengan seseorang? Hubungan yang kubahas adalah hubungan kekasih alias romansa. Ada yang bilang, kalau pengen tau seperti apa perasaan sejatimu kepada seseorang, ‘telanjangi’-lah dia. Not the perverted way, for sure, tapi maksudku telanjangi hal-hal ekstrinsik seperti harta, pekerjaan, jabatan, atau fisiknya seperti ketampanan dan caranya berpakaian yang classy. Jika tanpa hal-hal itu kamu masih mencintai dia, apa adanya dia tanpa segala embel-embelnya, maka cintamu dapat dikatakan sejati.

Tapi banyak sekali orang yang mencintai atau terpaksa membersamai seseorang karena kenyamanan finansialnya atau kerupawanan fisiknya. ‘Supaya bisa ngebelanjain terus’ atau ‘supaya gak malu-maluin dibawa ke acara keluarga’. Sungguh, cinta tidak semurahan itu. Tapi bisa apa? Di tengah segala kegilaan dan kebobrokan dunia sekarang ini, mungkin sudah bisa dikatakan wajar jika orang lebih memilih hidup nyaman meski hati menjerit atau tersakiti. Banyak yang lebih ikhlas melukai jiwa, daripada tidak bisa makan atau merana dikata-katain ‘gak laku karena gak nikah-nikah’. Yang penting menikah; urusan bahagia sih nanti dulu (atau mungkin karena kebahagiaan itu tidak penting?).

Kembali ke pertanyaan pertama: jadi, apakah yang penting? Bagiku, kesamaan, kecocokan dan kenyamanan dengan seseorang adalah sesuatu yang penting dan mutlak harus ada dalam hubungan (jenis apapun, sebetulnya, tapi konteks tulisan ini adalah hubungan romansa). Kesamaan minat, visi, harapan, nilai, cara pandang, pola pikir, selera humor, latar belakang keluarga, semuanya adalah frekuensi yang saling tarik-menarik dengan frekuensi lain yang sama. Maka orang-orang yang tidak satu frekuensi pasti segera menemukan keanehan atau ketidakcocokan dan akhirnya menjadi tidak bersemangat dalam mengupayakan kebersamaan. Kalaupun memutuskan bersama, pasti ada motif lain selain kenyamanan yaitu tekanan sosial, bertambahnya usia, atau alasan agama (‘yang penting agamanya bagus; kalo agama bagus maka sikap juga bagus’). Mungkin mereka bisa saja (tetap) bersama. Tapi, ketidaksemangatan tadi akan menggerogoti jiwa dan mengancam hubungan yang rapuh tersebut.

Pasangan yang memiliki frekuensi sama tidak akan bekerja terlalu keras dalam melengkapi ‘puzzle’ kehidupan, sebab mereka memberi sumbangsih yang setara dalam menyusun kepingan demi kepingan yang ukurannya cocok dan pas demi menjadi puzzle utuh. Makin dini kepingan itu disusun, makin kuat pondasi hubungan, sebab mereka sudah terlatih saling mengisi dan menyambung bahkan dari hal-hal kecil, yang sudah terbentuk saat hubungan baru dimulai, dan itu terus berkembang secara natural.

Maka jika sejak awal sudah ada ketidaksamaan, akan lebih sulit menyatukan puzzle tersebut. Bukannya tidak bisa, hanya butuh waktu lebih lama dan tentu penyesuaian di sana-sini demi mencocokkan kepingan puzzle agar utuh. Akan lebih banyak yang dikorbankan atau dikikis demi kelangsungan hubungan. Padahal ini masih tahap menyusun puzzle, belum sampai memantapkan kestabilan puzzle tersebut agar tidak rapuh dan hancur, which is a much harder task.

Seperti tulisanku di post sebelum ini, hubungan dengan orang yang tepat adalah justru yang tak butuh upaya keras untuk mewujudkannya. Bersamanya akan menjadikan hati lapang, jiwa tenang, kamu menjadi lebih produktif dan bahagia, kamu akan berfokus menjadikan hidupmu dan hidupnya kompak menjalani kehidupan bersama-sama tanpa merasa harus atau dipaksa. Senatural itu kamu menjadi manusia yang lebih baik.

Akan ada orang yang berpendapat bahwa bukan kesamaan frekuensi yang penting, melainkan keinginan untuk tetap bersama di atas segala perbedaan. Sebab dengan sabar dan ikhlas maka disitulah letak kekuatan cinta sejati. Aku sedikit setuju, sebab kondisi ‘sabar dan ikhlas menghadapi perbedaan’ ini bedanya teramat-sangat tipis dengan keterpaksaan seperti ‘ya udahlah, mau gimana lagi’ atau ‘kalo pisah, susah/males lagi nyari yang baru’ dan ribuan alasan serupa. Mungkin kembali lagi ke niat awal, apakah bersama karena mencintai orangnya secara personal atau hanya mencintai faktor-faktor ekstrinsik di awal tadi? Yah, tapi ini bahasan lain, dan itu sebabnya pilihan yang satu ini menurutku sebaiknya tidak dipilih. Tentunya hidup akan lebih enak dijalani jika hati, jiwa dan tubuhmu bahagia membersamai seseorang tanpa rasa pasrah berbentuk ‘ya udahlah’ atau kekecewaan yang konstan karena begitu banyak perbedaan, kan?

March 20, 2019 at 9:11 pm Leave a comment

Older Posts


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • Christopher Hampton
    "Asking a working writer what he thinks about critics is like asking a lamppost how it feels about dogs."

My Tweets

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Other Information

Click to view my Personality Profile page