Hang In There… Review Drama My Mister (2018)

Beberapa bulan atau tahun belakangan saya banyak menonton sampai tamat series asal Korea Selatan. Sebagian adalah series yang banyak dibahas alias viral, sebagiannya kurang dikenal (setidaknya tidak saya lihat di timeline atau tidak dibicarakan teman-teman).

Banyak yang bagus, namun baru satu series ini yang bagusnya sampai bikin saya mau menulis reviewnya di blog berdebu ini. Karena memang bagusnya tipe yang relatable dengan saya, dengan kehidupan pada umumnya. Saya bingung mencari nama genre dari series ini namun menemukannya pada salah satu review di Internet: Slice of Life. Yang saya bisa ungkapkan, ceritanya memang tentang hidup.

Sejujurnya bosan juga menonton drakor-drakor standar tentang romantic comedy, drama perselingkuhan, atau yang saya paling kurang berminat seperti fantasi.

Saya paling gemar menonton kisah-kisah kehidupan yang realistis, dan kalo bisa memberi insights untuk waktu lama. Baik karena ceritanya, aktor-aktrisnya, atau musiknya. Pada dasarnya saya menyukai dan memperhatikan hampir semua elemen dalam sebuah film atau series.

Sebelum saya lanjutkan, tulisan di bawah mungkin mengandung spoiler, so read at your own risk.

My Mister

My Mister (2018) menceritakan tentang seorang pria berusia 40-an yang kehidupannya berat karena tidak hangat dengan istrinya, tidak menyukai bosnya yang merupakan adik kelas dia saat kuliah, dan mesti menanggung hidup ibu serta kakak dan adiknya yang pengangguran.

Hidupnya terasa datar, suram, depressing hingga pernah terpikir bunuh diri, sampai semua pelan-pelan berubah, mulai berdetak, setelah mengenal seorang gadis berusia 20-an yang menjadi pegawai alih daya (outsourcing) di kantornya.

Serangkaian events menyebabkan mereka sering bertemu, dan ternyata saling mengubah hidup keduanya.

Awalnya pria bernama Park Dong-hoon itu hanya bersikap baik saja, seperti membelikannya buah di supermarket, karena beberapa kali mereka bertemu dan dia sering melihat Lee Ji-an tidak mampu belanja banyak-banyak di minimarket dan selalu hidup hemat. Ji-an tidak bergaul dan sangat kaku, diajak ngomong selalu diam dan menunduk. Tak ada yang mau mendekatinya, kecuali Dong-hoon. Bukan mendekati karena naksir loh ya. Tetapi karena Dong-hoon penasaran kenapa Ji-an selalu diam, dan mereka sering berpapasan di KRL atau jalanan – ternyata rumah mereka dekat.

Pada akhirnya Dong-hoon pun memahami alasan tertutupnya gadis itu, membuatnya mengenal teman-temannya di daerah tempat tinggal mereka dan juga di kantor, menyadarkannya bahwa masih banyak orang-orang yang sesungguhnya baik (termasuk rentenir yang selama ini abusif kepadanya), dan Ji-an pun tersentuh karena dirinya belum pernah menerima perlakuan baik dari orang lain sebelumnya. Bagi Dong-hoon, Ji-an adalah anak yang pintar dan mau menolong tanpa pamrih. Dia juga yang selalu memberi keberanian, dia yang mengungkap kenyataan di balik kesuraman hari-hari Dong-hoon, membuatnya bangkit dan alih-alih pasrah seperti biasanya, membuatnya dapat mengungkapkan emosi dan isi hati yang tertahan selama ini. Mereka, secara tidak terduga, saling dapat memahami hati dan karakter satu sama lain. Padahal tidak memiliki hubungan dekat. Padahal bukan siapa-siapa.

Park Dong-hoon menemukan dirinya, menjadi pria yang meraih kesuksesan, berkat Lee Ji-an.

Selain dua karakter utama, orang-orang di sekitar mereka juga punya masalah hidupnya sendiri-sendiri dan semuanya menarik ditonton. Tidak satu pun karakter yang sia-sia di sini, bahkan CEO menyebalkan Do Young-jeon (karena tanpa kebusukannya, dua tokoh kita tidak akan sedekat ini).

Drama ini dasarnya adalah tentang bagaimana dalam hidup itu akan selalu ada orang-orang yang berhati tulus dan dapat membantu menjadikan kita a better person. Jadilah baik dan jujur. Masa lalu tidak akan penting jika kita tidak menganggapnya penting. Cintailah seseorang apapun masa lalu mereka.

Salah satu quote dari series ini to live by: If you take the time to think about it, each and every interpersonal relationship is quite fascinating and precious. You must repay them. Live a happy life. That’s how you can repay the people in your life.

This drama makes me cry, padahal sebetulnya bukan kisah yang sedih (justru sebaliknya). Simply, melihat para tokoh akhirnya tersenyum. Melihat mereka saling menyemangati. Mereka tak berhenti saling mencintai namun bukan jenis cinta yang harus bersatu sebagai pasangan (meski sejujurnya saya kurang suka pada istri Dong-hoon karena telah menyakitinya – dan dilihat-lihat, mereka seperti tidak compatible, terlihat seperti berasal dari dunia yang berbeda, dan oleh karenanya menjadi dingin satu sama lain). Bagi saya, ‘cinta’ sejati Dong-hoon sesungguhnya adalah Ji-an.. hati mereka bertaut, namun seperti sepasang sahabat.. atau sosok yang dihormati dan dicintai.. cinta yang akan mendukungmu menjadi pribadi yang lebih baik. Menutupi kekuranganmu. Membuatmu senyum lebar. Menjadikanmu lebih bahagia. Cinta yang tak akan berakhir apapun situasinya. Justru, cinta seperti ini lah yang akan bertahan selamanya… dan itu sangat tercermin pada bagian akhir drama ini. Sungguh menyenangkan melihat mereka bahagia dengan jalannya sendiri pada akhirnya.

Dan saya sesungguhnya diam-diam menginginkan mereka menjadi pasangan, sebab sangat jelas sekali bahwa pertemuan ini, yang disinyalir terjadi sekitar 3-5 tahun setelah perpisahan sebelumnya, adalah pertemuan yang sangat dinanti-nanti baik oleh Dong-hoon maupun Ji-an. Senyum mereka, tatapan mereka, cara Dong-hoon menjabat tangan Ji-an menunjukkan segalanya. Dan jangan lupa kata-kata Ji-an soal keinginannya mentraktir makanan enak dengan Dong-hoon dan pria itu menjawab dengan senyuman, dengan pandangan berfokus lembut pada Ji-an (caranya memandang Ji-an berbeda dengan caranya memandang istrinya dulu). Ini adalah harapan baru. Seperti a new beginning for them.

Jika diingat-ingat, saat Ji-an dulu menyatakan akan pindah ke Busan, ekspresi Dong-hoon menunjukkan sedih dan sesal. Dia bahkan mengatakan, ‘kenapa jauh sekali?’ seperti tidak ingin kehilangan Ji-an. It’s subtle. Perpisahan itu tidak diinginkan oleh mereka, tetapi harus terjadi. Makanya, mereka tidak bisa menghindari senyum ear-to-ear dan tatapan mata penuh harap saat bertemu kembali bertahun-tahun kemudian… saat mereka sudah bahagia dengan hidup masing-masing.

Balik lagu, seperti kata quote di atas, yang merupakan kata-kata nenek Ji-an (kata-kata ini pun diungkapkan dalam bahasa isyarat – sungguh indah!): bahagialah. Itu adalah caramu membalas kebaikan orang lain.

Be happy.

I cried a river watching this scene, but I cried an ocean watching everything.

It’s a must watch. For your mental sanity, for your happiness. Oh ya, saya menonton semua episodenya dalam waktu 3 hari saja. Tidak ada yang saya skip atau lewati. Sedikit hal yang bikin ilfil mungkin product replacements di beberapa adegan. Tidak terlalu mengganggu namun cukup obvious, bikin cringey.

Tentu saja mungkin drama ini bukan untuk semua orang. Bagi yang mencari hiburan, tawaria, romansa, tidak ingin berpikir berat-berat, atau merasa hidupnya sudah cukup berat (?), mungkin tidak akan menikmatinya.

Hwaiting!

Dan jangan lupakan juga musik-musik pendukungnya. Sangat cocok dengan jalan cerita, sangat bagus didengarkan dan menyehatkan jiwamu yang sepi (or maybe it’s just me).

Score: 9/10.

July 14, 2020 at 11:14 am Leave a comment

Ganti Baju

Selama bertahun-tahun pake hp, atau hape, atau handphone, atau ponsel, atau telepon seluler, telepon genggam, atau smartphone (sebetulnya apa sih bahasa resminya?) apalagi hp yang masuk kategori flagship alias hp kelas atas kita pasti nggak bisa ngebiarin tuh hp berkelana mendampingi keseharian kita tanpa dipasangin baju alias case/casing. Alasannya tentu sebagai bentuk perlindungan dari kotor dan lecet akibat benturan atau pemakaian, dan nilai tambahnya juga bisa turut mempercantik hp tersebut.

Nothing wrong with that, even I myself have so many clothes for my phone, ada kali 20 biji, padahal hp udah 3 tahun ga ganti-ganti. Aku tuh rajin banget ganti case, menyesuaikan dengan mood, keinginan, atau outfit hari itu, dan alasan-alasan receh lain seperti ‘tiba-tiba pengen pake yang itu ah, lucu juga’. Itulah sebabnya aku menjadi begitu konsumtif dalam hal case hp — sesuatu yang mungkin menjadi prioritas keseribu bagi orang-orang. Dengan kata lain, orang-orang beli case ya satu aja dan dipake terus sampe rusak, kalo rusak baru beli lagi. Itu pun belinya ya sesuai fungsi aja. Nggak harus warna tertentu, bahan tertentu, model tertentu, pokoknya case sesuai hp, udah.

Not me. I’m a phone case maniac. Just like I’m a knitting yarn maniac (non acrylic, please). Aku punya case mulai bahan plastik transparan (standar), hardcase polos, hardcase motif, hardcase bertekstur, plastik bergambar, kaca, kaca air berpasir, kaca glow in the dark, case supertipis semi-hardcase (dan ini banyak), semi-hardcase bentuk permen, case tepinya doang tapi belakangnya akrilik, case polos tanpa bolongan logo, case dengan bolongan logo, case yang ada dudukan besinya, sampe case dengan popsocket/pegangan/dudukan tertempel di belakangnya. Dan meski mayoritas case aku warnanya pink, aku juga punya case warna hitam, putih, coklat, kuning, hijau, merah, biru, sampe yang tanpa warna. Nggak cuman satu warna tapi ada juga yang bergambar pelangi, langit, kucing (tentunya), rumah, pohon.

Dalam satu hari aku bisa ganti case 2-3 kali. Karena suka tiba-tiba nggak demen, jadi pengen ganti. Penggunaan terlama untuk satu case biasanya nggak pernah melebihi 1 minggu.

Prinsipku, tak apalah case ganti-ganti, yang penting setia sama hpnya.

Bertahun-tahun begitu, namun sejak 20 hari terakhir aku melakukan suatu perubahan. Tebak.

Ya. Aku berhenti menggunakan case untuk hpku.

Hp kubawa-bawa dalam keadaan telanjang tanpa pelindung apapun. Bener-bener memegang aslinya secara fisik. Dan rasanya seperti lega, karena memegang sesuatu yang asli. Yang tentunya lebih tipis dan ringan ketimbang saat dibungkus case. Rasanya seperti sensasi yang menyenangkan dan nyata. Tidak tertutupi. Pada dasarnya, model hpku juga sih faktor cukup besar yang membuatku jatuh cinta untuk kemudian memilihnya — that’s why I’m praising its naked body a lot.

Karena hp yang kugunakan ini bahannya licin dan halus, agar mengurangi risiko jatuh dari genggaman maka aku menempelkan popsocket di belakangnya. Which is a very big help. Memang jadi ada ganjelan, tapi menjadikan nyaman banget dipegang. Nggak perlu pake 2 tangan. Dan ini sudah berjalan selama 20 hari. Kalo aku bisa mencapai hari ke-30, itu berarti rekor.

Walaupun, rasanya kangen juga pake case lucu-lucu. I miss my phone cases. Terutama yang unik-unik. Nanti, lah, we’ll see how many more days I can bear with this beautiful naked phone of mine.

Anyway, pake hp polosan begini mesti jadi lebih hati-hati sih. Nggak bisa asal taro. Nggak bisa asal dimasukin ke tas. Nggak bisa memegangnya disambi megang alat-alat lain yang berpotensi menggores. Lebih vulnerable. But, whatever.

Oh, ya, saat aku bilang hpku totally naked, itu nggak cuma tanpa case doang. Tapi juga tanpa pelindung layar. Kalo pelindung layar ini sudah sejak 1-2 tahun terakhir sih aku nggak pake. I don’t like it. Merusak estetika dan mempertebal hp juga. Balik lagi, mungkin karena hpnya masuk kategori flagship (alhamdulillah), makanya dia lebih tahan banting. (Bener-bener literally pernah kebanting, tapi nggak luka, dong).

Seandainya hati bisa setahan-banting hp.

October 23, 2019 at 11:14 am Leave a comment

Si Merah

BIASANYA dia tidak tertarik merawat bunga. Apartemennya terlalu sempit, barang-barangnya terlalu banyak, alasan-alasannya terlalu bermacam.

“Buat apa menyimpan tanaman di apartemen sesempit ini? Bisa busuk nanti,” dia menampik saat seorang kerabat menyarankan untuk memberi sedikit nuansa alam di dalam ruangan apartemen bergaya minimalis.

Dan memang terus begitu: minimalis, namun entah kenapa sesak, bertahun-tahun.

Tetapi sekuntum mawar tidak sengaja dilihatnya di sebuah toko di pinggir jalan yang jarang dia lewati. Sekuntum mawar biasa. Merah, segar, berlapis-lapis, berbintik-bintik basah, habis disiram oleh pemilik toko. Sinar matahari berkilau di butiran bintiknya.

Hatinya bagai tertimpa hidayah. Cahaya kebenaran menyinari jiwa. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama.

Maka dibelinya sekuntum, bersama sebuah pot mungil dan pupuknya. Dipeluknya pot itu sepanjang perjalanan pulang, sambil terpana menikmati bunga cantik di atasnya. Dia tak yakin mampu merawatnya. Tapi pesona si merah nan indah itu menimbulkan kepercayaan diri yang tinggi akan kemampuannya merawat sang bunga.

Ya, dia menamainya si Merah.

Apartemennya tiba-tiba tidak lagi terasa penuh. Barang-barangnya seolah gampang dirapikan kembali, buang yang tidak dipakai. Baju-baju membosankan. Peralatan elektronik berdebu. Furniture rusak. Seolah memang itulah yang seharusnya dilakukan. Tak pernah terpikirkan.

Si Merah harus punya tempat khusus. Di birai jendela.

***

“KUKIRA kamu tak suka bunga,” tukas sahabatnya sambil mengambil sebuah kaleng minuman dingin berkarbonasi dari kulkas.

Akhir pekan itu cuaca sedang sangat hangat. Kesempatan bagus untuk memanjakan si Merah dengan cahaya matahari seharian, di balik jendela yang membuka lebar. Disemprotkannya obat insektisida, yang tak pernah absen dilakukannya sebulan sekali.

“Tapi bunga ini cantik sekali,” jawabnya penuh keterpanaan. Cintanya belum pudar.

Jika senja turun, jendela ditutup dan si Merah akan beristirahat di sudut ruangan. Kadang-kadang dia percaya bahwa ada sesuatu yang terlihat berupaya menyeruak dari dalam tanah, berwarna merah. Pasti anak-anak si Merah.

Tak sabar.

Seringkali dia merasa tubuhnya seperti habis diinjak-injak sepulang kerja. Pekerjaan sebagai jurnalis hanya mengijinkan dia istirahat saat benar-benar tak ada kegiatan yang bisa diliput, yang jarang terjadi. Begitu sibuknya, sampai-sampai waktunya habis hanya di kantor, event untuk diliput, dan apartemen.

Apartemen berarti si Merah.

Hatinya kembali bahagia setiap menemukan si Merah berdiri segar di sudut – apalagi kini Merah tak lagi sendirian.

“Hai, Merah, bagaimana harimu? Aku lihat kamu mulai beranak-pinak. Makin cantik, lho,” sapanya riang. Capek dan pegalnya mendadak sirna. Pupil matanya dipenuhi si Merah, begitu juga hatinya.

Pada hari-hari yang kurang beruntung, dia hanya bisa terkapar di ranjangnya yang berantakan dan tak ingin makan apapun. Suhu tubuhnya tinggi. Hanya bisa jatuh tertidur. Namun dengan sisa-sisa kekuatan, dia menggeser pot si Merah ke samping ranjang, lalu naik dan memiringkan tubuh di atas bantal, memeluk guling. Memperhatikan nuansa keindahan Merah sampai menutup mata.

Sepanjang hari si Merah mendapat asupan sinar matahari, meskipun hanya dari balik jendela. Agar si Merah, beserta anak-anaknya yang mungil, tidak jenuh dengan pengapnya apartemen. Mungkin dia bisa melihat-lihat kepadatan lalu lintas dunia manusia di bawah sana.

“Cukup aku yang merasa sesak, Merah,” katanya sambil membelai Merah dengan ujung jari telunjuk, kebiasaannya setiap pagi sebelum meninggalkan apartemen. “Kamu harus bahagia dan sehat.”

Kadang-kadang dia memasak sesuatu. Terus-terusan makan di luar jelas menguras dompet. Dipelajarinya cara-cara memasak yang mudah dari Internet, jika sudah selesai mempelajari banyak hal tentang cara memanjakan Merah.

“Aku membuat quesadilla, Merah, lihat,” ujarnya sambil menaburi potongan selada dan keju di atas kulit tortilla berwarna putih. “Seandainya kamu bisa ikut makan.”

Makanan khas Meksiko tersebut sebenarnya disajikan untuk 2 orang. Namun dia terpaksa memakannya sendirian. “Maafkan aku, Merah,” ucapnya lirih sambil mengunyah daging ayam. “Aku harus makan ini semua sendiri dan kamu hanya bisa melihat.”

Si Merah tidak pernah hidup kekurangan. Dia mempelajari segalanya, mulai dari cara menyiram, jenis obat, waktu-waktu produktif, kapan harus memotong ranting (yang dilakukannya dengan terpaksa), bahkan potnya sudah berganti lima kali karena berbelanja pot kini menjadi kegiatan adiktif.

Sesekali dia melatih kemahirannya memainkan piano. Meski piano di apartemennya hanyalah piano upright bekas kepunyaan nenek, dia tetap gemar memainkannya, terutama di kala sedih.

“Jika aku memainkan karya Chopin yang judulnya Ballade 1 in G Minor op 23, tak hanya aku, si Merah kurasa ikut menikmatinya,” katanya memberitahu sahabatnya. Ada setitik jumawa. Melihat wajah bingung sang sahabat, dia melanjutkan. “The Pianist, saat Wladyslaw Szpilman memainkan piano karena diperintah tentara Nazi?” Sahabatnya pun mengangguk paham.

Dia begitu percaya, rimbunan kuntum mawar yang semerbak berwarna merah darah itu akan selamanya menemani hari-harinya.

Sampai kemudian. Dia meletakkan handuknya seusai mandi di pagi hari, mengenakan pakaian kerja, lalu sebelum menuju dapur dikunjunginya si Merah. Di sekitar pot bertebaran kelopak-kelopak. Itu tak pernah terjadi. Merah tak pernah rontok.

Makin cepat hari berlalu, makin banyak si Merah menggugurkan kelopaknya.

“Apa yang kiranya terjadi padamu, Merah?” ucapnya lirih sambil menyiram pelan-pelan Merah dan semua anaknya. “Jika kamu sakit, cepatlah sembuh. Jangan sakit.”

Tetapi kondisi Merah makin buruk. Satu persatu kelopaknya gugur lalu mengering. Dia selalu membersihkannya setiap malam, setengah termenung, setengah bingung, setengah sedih – hanya untuk melihat lembaran-lembaran baru lagi di pagi hari. Dia menangis.

“Mungkin ada yang salah dengan obat insektisida barunya,” tutur sahabatnya mengira-ngira. “Sudahlah, keringkan airmatamu. Itu, kan, cuma bunga.”

Dia merasakan sengatan di hati. Kata-kata ‘cuma’ artinya meremehkan peran Merah dalam hidupnya. Seolah kekhawatiran dan kesedihannya tak cukup mengganggu hari-harinya belakangan ini. Tak disangka, seorang sahabat justru menghancurkan sisa-sisa harapan.

“Merah bukan cuma bunga. Dia pelipur lara yang sangat memahamiku,” tukasnya galak. “Aku telah bersamanya sejak dia masih sangat kecil dan sendirian. Aku tidur dengannya setiap malam. Sakitku sembuh karena dia menyemangatiku.”

Tak ada gunanya mendebat. Si Merah tetap berjatuhan bagai kepungan hujan deras yang tak mau berhenti menusuk bumi.

Dia tak sanggup lagi pergi bekerja. Bosnya tak paham kenapa dia terus mengajukan cuti. “Kamu tampak patah hati. Jangan membawa masalah pribadi di dalam ranah pekerjaan,” nasihatnya dengan lagak aku-sudah-biasa-menghadapi-staf-patah-hati.

Dia mendengus dan berlalu.

“Apa yang terjadi, Merah?”

Pot si Merah kini tergeletak di atas meja makan. Di atas meja yang sama, dia meletakkan dagu di atas lengannya selama berjam-jam, memandangi Merah dengan hampa. Ditekan-tekankannya jemarinya pada kelopak Merah, berharap keajaiban terjadi dan si Merah perlahan-lahan membaik. Kini hanya menyentuh kelopaknya sedikit saja, Merah tak tahan. Rontok.

Air matanya pun tak tahan. Berhamburan.

Si Merah kini ikut tidur di atas ranjang.

“Kumohon tetaplah bersamaku, Merah. Jangan pergi,” katanya sambil menangis di atas bantal. Diusapnya kelopak demi kelopak yang masih tersisa. Merah kini tak gembur dan segar lagi. Dia bahkan tidak lagi merah. Warnanya kini kecoklatan. Merah tak lagi harum, tak lagi halus. Merah tak lebih seperti daun kering ringkih yang jatuh dari pohon, berkerak jika terinjak.

Maka dia, seperti Merah, kehilangan pegangan dan gairah. Dia berhenti memasak. Dia tak lagi bicara dengan sahabatnya. Apalagi memainkan piano. Namun meski melupakan makan, dia tidak lapar atau sakit. Sedihnya terlalu dominan. Matanya merindukan warna merah.

Dini hari, dia tak mampu memejamkan mata. Apartemen itu pengap, meski pendingin udara terus menyala. Si Merah kini kembali sendirian, hanya ditemani sekuntum-dua kuntum anak-anak yang juga sekarat. Air matanya jatuh ke bantal. Tak rela berpikir ini saat-saat terakhir bersama Merah.

***

PAGI itu cerah seperti biasa. Dia membuka mata. Kedinginan. Sudah terbiasa dengan nuansa merah yang menghangatkan pagi, dia mulai menangisi ketiadaannya. Lalu kaku terduduk. Diusapnya matanya yang bengkak. Dirabanya wajahnya yang tirus.

Aneh. Mendadak dia sadar, ranjangnya kini berwarna merah. Dia menyentuhnya, yang ternyata adalah tumpukan kelopak bunga mawar merah. Segar dan harum. Banyak sekali. Memenuhi ranjang. Tak hanya itu. Meja tamu, ruang makan, sofa, hingga ke lantai, semua berlapis merah. Apartemennya tak lagi pengap. Kemana pun mata memandang dan tubuh bergerak, apartemen itu bagai hutan kelopak bunga mawar.

Dia menari-nari bahagia di tengah ruangan. Menempel-nempelkan kelopak merah di tubuhnya. Oh, Merah, terima kasih karena tidak pergi, isi hatinya bergumam, air matanya kembali mengalir.

Ruangan itu terasa seindah dan sehidup saat Merah pertama kali hadir di tempat itu: kecil, sendirian, bangga, dalam pot murahan.

Dikecupnya kelopak-kelopak itu. Merasa jatuh cinta sekali lagi.

Pot bunga yang indah berdiri di sudut, sendirian, kering.


P.S. Cerita ini kutulis tanggal 18 Oktober 2016, sesaat setelah mendengar berita kematian seorang kawan.

May 17, 2019 at 7:00 am Leave a comment

Older Posts


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • Will Rogers
    "There is nothing as stupid as an educated man if you get him off the thing he was educated in."

Other Information

Click to view my Personality Profile page