Menjelang 2023

Tulisan ini dibuat menjelang pergantian tahun 2022 ke 2023, dan aku berbaring di sebelah bayi mungilku yang tertidur sambil ngoceh2 pelan di dalam boxnya.

Tahun 2022 ternyata menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan dan membuatku sangat bersyukur. Pada tahun ini ternyata sebagian besar mimpi masa mudaku diwujudkan oleh Allah SWT, bahkan hingga sebelum aku mengetik tulisan ini.

Aku tadi melihat-lihat galeri foto di ponsel dan ber-flashback akan aneka kejadian yang tersimpan di dalamnya. Kehamilan, liburan, hewan peliharaan, perjalanan ke luar kota, keluarga, pekerjaan, hasil jahitan. Aku rindu menjahit baju-baju lagi. Semoga suatu saat aku punya banyak waktu lagi untuk melakukannya.

Atasan batik yang kujahit untuk seorang kawan. Polanya termasuk rumit untuk dibuat simetris di tengah (maklum pemula).
Kemeja batik yang kujahit untuk suamiku.

Menjahit kain batik punya kesulitan yang menyenangkan saat menyatukan pola agar simetris di bagian tengah baju. Mengukur, memotong, menjahit, mengobras, mencuci dan mensetrikanya adalah sebuah petualangan tersendiri.

Baiklah, semoga aku lebih sering menulis di blog ini di tahun 2023, dan semoga kita semua diberi kesehatan serta kebahagiaan dari Allah SWT.

December 31, 2022 at 9:22 pm Leave a comment

Anakku

Hidup menjalani mimpi yang indah, itu terjadi padaku kini. Kata orang, menjadi orang tua akan banyak mengubahmu, dan itu benar, karena itu bukan lagi hanya perkataan, tapi sesuatu yang berada di depan mataku, di sekelilingku.

Kehadiran anakku adalah kejutan, namun memang sudah selalu kunantikan. Aku sebetulnya tetap realistis serta tidak memaksakan diri sebab yang kuyakini adalah Allah lebih mengetahui kapan saat yang tepat untukku mengalaminya, tidak perlu berlebihan berharap.

Aku pasti pernah melakukan kebaikan di masa lalu, suatu kebaikan yang begitu hebat, sebab Allah telah membalasnya dengan memberiku titipan yang jauh lebih berharga: seorang anak. Anakku sendiri, yang lahir dari ketiadaan, sungguh suatu keajaiban dia kini ada dalam pelukanku, sesosok bayi kecil yang sebelumnya selalu membersamaiku selama 39 minggu lamanya, tumbuh besar dan sehat seiring tubuhku yang membesar dan beratku yang bertambah 19 kilogram.

Bahkan sejak saat dalam kandungan, anakku tidak pernah menyusahkan aku. Dia tidak membuatku mual, tidak membuatku malas, tidak membuatku harus minum obat atau kesakitan. Dia hanya membuatku makan dan tidur lebih banyak, dia tetap mengizinkanku mengemudi dan berjalan-jalan sendiri, dia memberiku kekuatan untuk aku tetap mandiri melakukan banyak hal. Dia anak yang sangat memahami ibunya.

Lalu dia pun hadir di dunia, dan masih tak berhenti bersikap baik kepada orangtuanya. Ditambah, dia sangat imut dan menggemaskan. Aku tahu semua bayi memang seperti itu tapi dia berbeda: dia menggemaskan dalam keadaan apapun, dia membuatku memaafkan dan menerima keharusanku bergadang di malam hari dan kehilanganku akan kebebasan.

Karena dia anakku, maka kami orangtuanya memberinya hanya yang terbaik untuk semua yang dia pakai dan gunakan. Rumah, tempat tidur, baju, produk-produk perawatan kulit, mainan, fasilitas penunjang lainnya… hanya yang terbaik. Tidak ada istilah ‘mending’ untuk anakku.

Aku yang tadinya tidak terbiasa mengurus orang lain, apalagi anak-anak, kini dipaksa melakukannya, tapi anehnya aku tidak merasa terpaksa. Ternyata aku menikmati setiap kesulitan, aku meningkatkan kesabaran, dan aku bertekad harus sehat agar dapat melindungi anakku. Setiap lelah (dan kurang tidur) yang kurasakan tak ada artinya dibanding melihat dia tidur dengan nyaman atau mengoceh sendiri dengan lucunya, menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Semuanya terlihat baru dari hari ke hari. Semuanya mengagumkan. Keajaiban yang terlahir dari ketiadaan.

Hidup yang tadinya hanya untukku, suamiku dan rumahku, kini pun menjadi milik anakku. Aku merasa punya tujuan, bangun tidur tidak lagi merasa ‘this is going to be an ordinary day’, dan berharap selalu diberi kesehatan agar aku bisa terus memberikan hidup yang layak untuk anakku. Sebab untuk itulah dia dilahirkan: agar hidupnya bahagia, sehat, dan menjadi anak sholeh yang dicintai orang-orang.

December 16, 2022 at 7:12 pm Leave a comment

Hang In There… Review Drama My Mister (2018)

Beberapa bulan atau tahun belakangan saya banyak menonton sampai tamat series asal Korea Selatan. Sebagian adalah series yang banyak dibahas alias viral, sebagiannya kurang dikenal (setidaknya tidak saya lihat di timeline atau tidak dibicarakan teman-teman).

Banyak yang bagus, namun baru satu series ini yang bagusnya sampai bikin saya mau menulis reviewnya di blog berdebu ini. Karena memang bagusnya tipe yang relatable dengan saya, dengan kehidupan pada umumnya. Saya bingung mencari nama genre dari series ini namun menemukannya pada salah satu review di Internet: Slice of Life. Yang saya bisa ungkapkan, ceritanya memang tentang hidup.

Sejujurnya bosan juga menonton drakor-drakor standar tentang romantic comedy, drama perselingkuhan, atau yang saya paling kurang berminat seperti fantasi.

Saya paling gemar menonton kisah-kisah kehidupan yang realistis, dan kalo bisa memberi insights untuk waktu lama. Baik karena ceritanya, aktor-aktrisnya, atau musiknya. Pada dasarnya saya menyukai dan memperhatikan hampir semua elemen dalam sebuah film atau series.

Sebelum saya lanjutkan, tulisan di bawah mungkin mengandung spoiler, so read at your own risk.

My Mister

My Mister (2018) menceritakan tentang seorang pria berusia 40-an yang kehidupannya berat karena tidak hangat dengan istrinya, tidak menyukai bosnya yang merupakan adik kelas dia saat kuliah, dan mesti menanggung hidup ibu serta kakak dan adiknya yang pengangguran.

Hidupnya terasa datar, suram, depressing hingga pernah terpikir bunuh diri, sampai semua pelan-pelan berubah, mulai berdetak, setelah mengenal seorang gadis berusia 20-an yang menjadi pegawai alih daya (outsourcing) di kantornya.

Serangkaian events menyebabkan mereka sering bertemu, dan ternyata saling mengubah hidup keduanya.

Awalnya pria bernama Park Dong-hoon itu hanya bersikap baik saja, seperti membelikannya buah di supermarket, karena beberapa kali mereka bertemu dan dia sering melihat Lee Ji-an tidak mampu belanja banyak-banyak di minimarket dan selalu hidup hemat. Ji-an tidak bergaul dan sangat kaku, diajak ngomong selalu diam dan menunduk. Tak ada yang mau mendekatinya, kecuali Dong-hoon. Bukan mendekati karena naksir loh ya. Tetapi karena Dong-hoon penasaran kenapa Ji-an selalu diam, dan mereka sering berpapasan di KRL atau jalanan – ternyata rumah mereka dekat.

Pada akhirnya Dong-hoon pun memahami alasan tertutupnya gadis itu, membuatnya mengenal teman-temannya di daerah tempat tinggal mereka dan juga di kantor, menyadarkannya bahwa masih banyak orang-orang yang sesungguhnya baik (termasuk rentenir yang selama ini abusif kepadanya), dan Ji-an pun tersentuh karena dirinya belum pernah menerima perlakuan baik dari orang lain sebelumnya. Bagi Dong-hoon, Ji-an adalah anak yang pintar dan mau menolong tanpa pamrih. Dia juga yang selalu memberi keberanian, dia yang mengungkap kenyataan di balik kesuraman hari-hari Dong-hoon, membuatnya bangkit dan alih-alih pasrah seperti biasanya, membuatnya dapat mengungkapkan emosi dan isi hati yang tertahan selama ini. Mereka, secara tidak terduga, saling dapat memahami hati dan karakter satu sama lain. Padahal tidak memiliki hubungan dekat. Padahal bukan siapa-siapa.

Park Dong-hoon menemukan dirinya, menjadi pria yang meraih kesuksesan, berkat Lee Ji-an.

Selain dua karakter utama, orang-orang di sekitar mereka juga punya masalah hidupnya sendiri-sendiri dan semuanya menarik ditonton. Tidak satu pun karakter yang sia-sia di sini, bahkan CEO menyebalkan Do Young-jeon (karena tanpa kebusukannya, dua tokoh kita tidak akan sedekat ini).

Drama ini dasarnya adalah tentang bagaimana dalam hidup itu akan selalu ada orang-orang yang berhati tulus dan dapat membantu menjadikan kita a better person. Jadilah baik dan jujur. Masa lalu tidak akan penting jika kita tidak menganggapnya penting. Cintailah seseorang apapun masa lalu mereka.

Salah satu quote dari series ini to live by: If you take the time to think about it, each and every interpersonal relationship is quite fascinating and precious. You must repay them. Live a happy life. That’s how you can repay the people in your life.

This drama makes me cry, padahal sebetulnya bukan kisah yang sedih (justru sebaliknya). Simply, melihat para tokoh akhirnya tersenyum. Melihat mereka saling menyemangati. Mereka tak berhenti saling mencintai namun bukan jenis cinta yang harus bersatu sebagai pasangan (meski sejujurnya saya kurang suka pada istri Dong-hoon karena telah menyakitinya – dan dilihat-lihat, mereka seperti tidak compatible, terlihat seperti berasal dari dunia yang berbeda, dan oleh karenanya menjadi dingin satu sama lain). Bagi saya, ‘cinta’ sejati Dong-hoon sesungguhnya adalah Ji-an.. hati mereka bertaut, namun seperti sepasang sahabat.. atau sosok yang dihormati dan dicintai.. cinta yang akan mendukungmu menjadi pribadi yang lebih baik. Menutupi kekuranganmu. Membuatmu senyum lebar. Menjadikanmu lebih bahagia. Cinta yang tak akan berakhir apapun situasinya. Justru, cinta seperti ini lah yang akan bertahan selamanya… dan itu sangat tercermin pada bagian akhir drama ini. Sungguh menyenangkan melihat mereka bahagia dengan jalannya sendiri pada akhirnya.

Dan saya sesungguhnya diam-diam menginginkan mereka menjadi pasangan, sebab sangat jelas sekali bahwa pertemuan ini, yang disinyalir terjadi sekitar 3-5 tahun setelah perpisahan sebelumnya, adalah pertemuan yang sangat dinanti-nanti baik oleh Dong-hoon maupun Ji-an. Senyum mereka, tatapan mereka, cara Dong-hoon menjabat tangan Ji-an menunjukkan segalanya. Dan jangan lupa kata-kata Ji-an soal keinginannya mentraktir makanan enak dengan Dong-hoon dan pria itu menjawab dengan senyuman, dengan pandangan berfokus lembut pada Ji-an (caranya memandang Ji-an berbeda dengan caranya memandang istrinya dulu). Ini adalah harapan baru. Seperti a new beginning for them.

Jika diingat-ingat, saat Ji-an dulu menyatakan akan pindah ke Busan, ekspresi Dong-hoon menunjukkan sedih dan sesal. Dia bahkan mengatakan, ‘kenapa jauh sekali?’ seperti tidak ingin kehilangan Ji-an. It’s subtle. Perpisahan itu tidak diinginkan oleh mereka, tetapi harus terjadi. Makanya, mereka tidak bisa menghindari senyum ear-to-ear dan tatapan mata penuh harap saat bertemu kembali bertahun-tahun kemudian… saat mereka sudah bahagia dengan hidup masing-masing.

Balik lagu, seperti kata quote di atas, yang merupakan kata-kata nenek Ji-an (kata-kata ini pun diungkapkan dalam bahasa isyarat – sungguh indah!): bahagialah. Itu adalah caramu membalas kebaikan orang lain.

Be happy.

I cried a river watching this scene, but I cried an ocean watching everything.

It’s a must watch. For your mental sanity, for your happiness. Oh ya, saya menonton semua episodenya dalam waktu 3 hari saja. Tidak ada yang saya skip atau lewati. Sedikit hal yang bikin ilfil mungkin product replacements di beberapa adegan. Tidak terlalu mengganggu namun cukup obvious, bikin cringey.

Tentu saja mungkin drama ini bukan untuk semua orang. Bagi yang mencari hiburan, tawaria, romansa, tidak ingin berpikir berat-berat, atau merasa hidupnya sudah cukup berat (?), mungkin tidak akan menikmatinya.

Hwaiting!

Dan jangan lupakan juga musik-musik pendukungnya. Sangat cocok dengan jalan cerita, sangat bagus didengarkan dan menyehatkan jiwamu yang sepi (or maybe it’s just me).

Score: 9/10.

July 14, 2020 at 11:14 am Leave a comment

Older Posts


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • Jef Mallett
    "An opinion should be the result of thought, not a substitute for it."

Most Popular

Other Information

Click to view my Personality Profile page