Badai Pasti Berlalu

November 13, 2011 at 9:00 pm 2 comments


Akhir-akhir ini rasanya susah bagi Ofelia untuk senyum. Dirinya dilanda kecemasan yang sedang populer disebut galau akhir-akhir ini–merasa bingung, putus asa, khawatir, gundah gulana, sedih. Kadang tanpa disadarinya air matanya tumpah. Kadang tak diduga dirinya merajut tangis di kala bersimpuh setelah solat. Sebetulnya ada apa dengan Ofelia?

Gadis berusia pertengahan 20-an itu biasanya ramah, ceria, penuh semangat, dan hanya menangis ketika menonton film sedih. Namun tangis itu kini menjadi sahabat karibnya, yang hadir setiap hari, baik saat dia sedang sendiri maupun berkumpul dengan orang-orang terdekatnya.

“Ada apa, Ofelia?” pada suatu waktu aku bertanya, saat kulihat matanya basah tak kentara. Dia menjawab dengan senyum (yang aku tahu palsu), lalu mengelap hidung dengan segumpal tisu kusut. Aku tak ingin terus mendesak, maka kubiarkan dia tenggelam dalam praharanya sendiri. Aku merasa kasihan melihatnya berduka, dan aku sungguh ingin tahu hal kejam apa yang tega membuatnya menangis.

Lantas gadis manis ini bercerita. Betapa dirinya dilanda kekalutan yang sangat parah, terkait hubungannya dengan seorang pria beberapa bulan terakhir ini. Ternyata dia dihantui ketakutan akan kepergian pria yang dicintainya.

Dicarinya jawaban untuk menyudahi tangis berkepanjangan, dicobanya mengubah pola pikir agar imajinasinya tidak berkhayal akan yang bukan-bukan. Bukankah hari esok masih misteri? Bahkan bisa saja manusia mati pada jam berikut. Kenapa orang harus khawatir akan apa yang belum terjadi?

Kemudian aku mencoba memberi penawar. Sedikit, namun kuharap mampu sembuhkan paranoidnya. Sambil memandangi daun-daun berguguran di taman dekat rumah, aku mengajaknya bicara. Entah sudah berapa senyum palsu yang dia tunjukkan, dan aku harap aku dapat menolongnya.

“Jangan terlalu masukkan ke hati apa-apa yang membuatmu khawatir,” kataku. “Semua itu belum terjadi. Dan mungkin nggak akan pernah terjadi, jika dia betul-betul sayang kamu. Jadi, kenapa harus takut? Jalanin aja hidupmu hari ini sebaik mungkin.”

Seketika matanya yang coklat memandangiku lama. Maka kuteruskan.

“Cobalah untuk cuek, untuk tidak peduli dengan ketakutanmu. Jangan hiraukan dia. Itu adalah tipu daya setan, untuk membujukmu menjauh dari kuasa Allah,” lanjutku kalem.

“Aku tau aku harus percaya aja sama Allah,” jawab Ofelia. “Tapi saat aku sendirian, perasaan takut itu seringkali menyerang. Rasanya sakit. Semua terlihat nyata.”

Kupegang tangannya. “Memang, tapi jangan biarkan itu menggerogoti kebahagiaanmu,” kataku. “Kalo kamu membiarkan dirimu menggundahkan apa yang belum tentu terjadi, sama saja kamu menggali lubang kuburmu sendiri, karena badan kamu bisa sakit gara-gara mikirin yang bukan-bukan.

“Kamu harus bahagia, Ofelia,” lanjutku sambil menatap matanya. “Kamu hidup untuk nikmati bahagia. Jangan terlalu berharap sama orang lain. Bahagiamu, ada di tanganmu. Jangan pedulikan tingkah mereka. Yang penting kamu bersikap baik dan terus ikhtiar untuk yang terbaik.”

Ofelia mengalihkan tatapan dari wajahku, lalu memandangi pohon. Lama, hanya ada suara desau angin. Lalu sunyi. Si cantik itu memandangiku lagi, kali ini dengan segaris senyum di bibirnya.

“Terima kasih, Anggi,” sahutnya lirih, sebelum menyandarkan kepala di bahuku. “Kata-katamu sangat berarti buatku. Insya Allah, aku nggak mau sedih lagi. Sudah cukup air mata ini tumpah.”

Desau angin pun tetap terdengar di sudut ruang dengar, namun dengan kelegaan yang melebihi apapun. Kurasakan helaian rambutnya menampar pipi. Kuharap kamu bahagia, Ofelia. Hilangkan rasa takutmu, dan jangan sedih.

Sumber gambar: http://sudutpandangnta.blogspot.com

Entry filed under: Free Speechs. Tags: .

Merindukanmu 7 Cara Mengenali Perempuan yang Cocok Dijadiin Pendamping Hidup

2 Comments Add your own

  • 1. d0th  |  November 14, 2011 at 9:09 am

    Gile cadas banget ini cerpennya. Semacam pengalaman seseorang, seperti curhat gitu. Kalo komposer, pasti dibuat lagu, tapi ditangan blogger sukses dibikin menjadi tulisan yang mnarik. Good job *ala Rianti*

    Reply
    • 2. Fansi  |  November 14, 2011 at 1:41 pm

      You like it huh? Makasih makasih. Semoga aja tokoh Ofelia ini menemukan kembali kebahagiaannya bersama pria yang dia sayang, ya? Ayo berdoa bersama.. Pada hitungan ke-3.. *apa sih?*

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • G. K. Chesterton
    "There is a great deal of difference between an eager man who wants to read a book and the tired man who wants a book to read."

My Tweets

Contact

Books I Love

Monthly Posts

Other Information

Click to view my Personality Profile page

Content copyrighted.


%d bloggers like this: