Menjadi Orang Bijak

September 28, 2011 at 9:15 pm 5 comments


Bagaimana cara menjadi orang bijak? Seperti Socrates?

Definisi bijak menurut saya adalah kemampuan seseorang untuk bersikap adil, tidak berat sebelah, atau mampu memilah mana yang merupakan urusannya (yang harus diselesaikan) dan mana yang merupakan persoalan di luar kepentingannya.

Menjadi jelas disini, lingkup “permasalahan di luar kepentingan” semestinya menjadi batas dari apa yang dapat seseorang permasalahkan. Bingung, ya? Mari kita jabarkan definisi “bijak” pake contoh.

Ofelia lagi sedih. Kekasihnya, Joko, tiba-tiba ninggalin dia tanpa sebab jelas. Yang Ofelia tau, cowok yang sudah dipacarinnya selama tiga tahun itu memergokinya sedang berduaan dengan sahabatnya di sebuah kedai pizza dekat rumah Ofelia.

Joko nggak percaya, betapapun Ofelia berkali-kali meyakinkannya bahwa Mulyanto, sang sahabat, itu memang betul-betul sahabat dan pertemuan mereka di kedai pizza itu terjadi secara tidak disengaja. Cowok berpostur kecil itu tetap saja pergi, padahal Ofelia sampai menangis memohon agar Joko nggak pergi.

Di kampus, gadis bermata bulat itu jadi nggak banyak ngomong gara-gara masalah Joko ini. Selain mogok ngomong, dia juga mogok makan dan mogok ketawa. Seharian murung melulu.

Keanehan ini tentu memancing perhatian Sandrine, temen sekelasnya. Biasanya Ofelia adalah sosok yang selalu ngelawak dan bikin ketawa semua orang. Maka didekatinya temennya itu.

Sandrine bertanya ada apa? namun Ofelia menggeleng sambil memaksakan senyum. Matanya basah. Tidak, jawabnya, lalu menekuri pohon-pohon. Tampak jelas, Ofelia tidak ingin membicarakan masalahnya dengan Sandrine. Dia sedang tidak ingin bicara, hanya ingin sendiri saja.

Namun Sandrine memaksa. Ayolah ceritakan, ada apa? dorongnya. Lalu dia duduk di sebelah Ofelia. Mungkin aku bisa menolongmu, lanjut dia. Yang ditanya tetap menggeleng, sedikit lebih keras, bahkan mulai merasa terganggu.

Oke, sampai disini, coba tebak: akankah Ofelia menceritakan permasalahannya kepada Sandrine? Gimana menurutmu, bijakkah tindakan Sandrine?

Betul sekali, saudara-saudari. Mudah sekali menilai kebijaksanaan seseorang, dalam hal ini perihal hubungannya dengan orang lain. Sandrine, bisa kita katakan tidak bijaksana. Kenapa? Karena dia nggak paham posisinya. Sebetulnya apa urusan dia memaksa-maksa Ofelia untuk bercerita? Apa pentingnya? Apa memang betul ingin membantu? Lalu kenapa Ofelia malah merasa jengah karena ditanya-tanya terus sama Sandrine, bukannya merasa terbantu?

Karena Ofelia merasa terganggu, maka disini jelas: Sandrine tidak bersikap bijaksana. Kalo memang pengen membantu, apa harus diawali dengan paksaan? Dan sekali dia membuat orang tidak nyaman, maka dia sudah melakukan kesalahan.

Tidak seorangpun akan senang ketika mereka sedang bermasalah lalu orang lain mendesak ingin tahu permasalahannya. Memangnya mereka apa, wartawan? Untuk apa sih orang-orang ini tahu? Untuk jadi bahan perbincangan dengan teman-teman lain? Untuk bahan gosip? Untuk bahan fitnah?

Sekali seseorang mengganggu privasi orang lain, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut akan menjadi sangat muak gara-gara kehidupan pribadinya menjadi semacam headline news dan dibahas semua orang.

Padahal kita tau, begitu satu berita terucap dari mulut satu orang, maka persepsi yang ditimbulkan bisa bermacam-macam. Tergantung asumsi yang diterima orang yang mendengar, atau tergantung sebrengsek apa orang tersebut memodifikasi cerita, agar terdengar lebih heboh dan trending (kalo di jagad Twitter). See? Parah, kan, efeknya?

Itulah kenapa kebijaksanaan sangat dibutuhkan dalam berhubungan antar manusia. Dibutuhkan hati nurani yang tulus dan mau memahami karakter serta pilihan orang lain. Bukannya malah sibuk mencari celah untuk kemudian menghakimi, seperti yang banyak terjadi. Seolah mereka memegang takdir orang itu, dengan mengantongi juicy stories tentangnya.

Biarkan masing-masing orang dengan pilihan hidup mereka sendiri; kalo mereka bener, mereka bisa menularkan kepositifan itu dengan sesama, dan kalo mereka salah, mereka bisa usaha sendiri selesaikan masalahnya (yang akhirnya juga membentuk kedewasaannya) dan orang lain nggak perlu lagi menambah masalah baru dengan cara menjadikannya bahan gosip yang justru malah menghancurkan reputasinya.

“Fitnah lebih kejam dari pembunuhan.” Dan itu sangat betul. Maka jagalah mulutmu dari omongan-omongan kotor. Dari penghakiman-penghakiman subjektif yang merusak kehidupan orang lain. Mau bukti dalam contoh film? Simak film Malèna dan Edward Scissorhands; film-film ini menunjukkan bahwa fitnah, yang sebetulnya “cuma” bermula dari bisik-bisik orang-orang sekitar yang kurang kerjaan, malah jadi menghancurkan kehidupan seseorang.

Oh, ya, kebijaksanaan seseorang tidak dapat diukur dari strata pendidikannya atau usianya. Lulusan pascasarjana bisa kok jadi orang paling celometan di dunia, sementara lulusan SMA bisa jadi sosok paling kalem dan filosofis. Kayak Socrates.

Entry filed under: Life Lessons. Tags: .

6 Tingkah Ganjil Orang-orang di Sekitarku Selama Ramadan (Versiku) Lirik Lagu “Know You by Heart” Bikinan Sendiri

5 Comments Add your own

  • 1. revolisnav  |  September 29, 2011 at 12:05 am

    Oke.

    Reply
  • 2. d0th  |  September 29, 2011 at 11:53 am

    Kebijaksaan itu sendiri butuh proses. Harus banyak makan asam manis kehidupan. Tentunya ngga instan dong. Minimal jadi manusia yang bijak untuk diri sendiri.

    Nice post! Suka sama ide-idemu. Keren banget pokoknya! Aaah.. otakku ngga nyampe kalo disuruh nulis begituan.

    Reply
    • 3. Fansi  |  September 29, 2011 at 12:15 pm

      Ga perlu harus mengalami segalanya untuk jadi bijak. Kamu bisa ambil pelajaran dari orang lain, buku, film, kisah2 sahabat atau mantan pacarmu, dan macem2 lagi.

      Aku ga bikin ide kok, cuman mengungkapkan uneg2. Hehe. Aku sendiri masih belajar untuk jadi bijak. Terutama memahami pilihan orang lain.

      Reply
      • 4. d0th  |  September 30, 2011 at 11:58 pm

        Hhmm..kurang tepat juga sih kalau harus dapet pelajaran dari orang lain atau sejenisnya. Pengalaman sendiri bakal lebih seru. Ibaratnya gini; kamu cuma diceritain enaknya bebek ireng, tapi kamu ngga pernah makan. Gimana bisa kamu bagi pengalaman itu ke orang lain. Tapi kalau untuk sekedar referensi, bolehlah😀

        Apa sih? Mulai ngaco ngomongnya. Wis ga usah direken. Pokok’e tulisanmu sangar! lanjut gan..!!

        Reply
        • 5. Fansi  |  October 1, 2011 at 9:40 am

          Betul juga sik bang. Intinya kita bisa ambil pelajaran dari mana2. Walopun, yang dialamin sendiri pasti lebih “dalem” efeknya.

          Komenmu juga sangar😀

          Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • G. K. Chesterton
    "There is a great deal of difference between an eager man who wants to read a book and the tired man who wants a book to read."

My Tweets

Contact

Books I Love

Monthly Posts

Other Information

Click to view my Personality Profile page

Content copyrighted.


%d bloggers like this: