Julia’s Eyes (2010) – Antara Review dan Opini

August 1, 2011 at 10:48 pm 2 comments


Jadi, Julia’s Eyes pada dasarnya memang film horor. Tapi semakin dalam kamu menyimak plotnya, semakin terbawa masuk kamu ke dalam misteri di balik kasus bunuhdiri seorang wanita bernama Sara–epilog film berbahasa Spanyol ini.

Sederhana saja: Sara ditemukan bunuhdiri dengan cara menggantung dirinya di basement rumahnya, untuk kemudian ditemukan oleh saudara kembarnya, yang kemudian curiga bahwa penyebab kematiannya adalah dibunuh, bukan bunuhdiri, meskipun polisi menegaskan bukti-bukti yang mengatakan bahwa hal itu dilakukan atas keinginan Sara sendiri.

Tidak lekas percaya, serta mengandalkan intuisi seorang saudara kembar, Julia pun menyelidiki latar belakang sang adik akhir-akhir ini: apa yang telah dia lakukan, dengan siapa dia berkencan, kemana saja dia pergi, dan lain-lain.

Julia tetap bersikeras, meskipun suaminya melarangnya untuk terlalu khawatir dan mengajaknya melupakan Sara dikarenakan kondisi penglihatannya–yang menderita progressive vision loss–sudah semakin parah, yang akan membuatnya buta dalam waktu dekat, seperti yang sudah terjadi pada saudara kembarnya setahun sebelumnya.

Dan hal-hal mengejutkan pun terjadi, silakan kamu tonton sendiri.

Spoiler Alert! What I think of this film…

Sampe disini lebih baik kamu berhenti membaca, sebab ini akan menjadi bocoran cerita film paling menyebalkan kalo kamu belum dan pengen nonton film ini!

Oke, pada bagian ini aku akan menulis tentang pendapatku tentang film besutan Guillem Morales ini. Film yang melabeli diri sebagai film horor, namun ternyata semakin mendekati akhir aku semakin tidak menganggapnya horor. Ini sebuah drama, sebuah ironi, sebuah kisah psikologis, yang seharusnya membuatmu berpikir, begitu credits mulai bergulir.

Film ini menunjukkan bahwa kekuatan pikiran dan sugesti itu benar-benar berakibat fatal. Ketika kamu percaya bahwa kamu adalah seorang A, ditambah orang-orang terdekatmu pun dengan yakin dan mungkin agak “memaksa” melabelimu sebagai seorang A, dan hal itu berlanjut sejak kamu berusia sangat muda bahkan kanak-kanak, tak mengherankan bahwa kamu akan benar-benar tumbuh sebagai seorang A, betapapun sesungguhnya kamu terlahir jauh dari A.

Film ini juga mengajak kita semua membuka mata, bahwa setiap manusia pada dasarnya punya keinginan kuat untuk dicintai, didengarkan, dan dipahami. Banyak orang tidak memiliki kemampuan berkomunikasi yang benar namun berharap, apa yang tak dapat mereka komunikasikan secara “normal” akan mampu ditangkap oleh orang lain untuk kemudian dimengerti. Namun bagaimana membuat orang lain mengerti jika kita tidak dapat membicarakannya? Ini yang seringkali menimbulkan stres, depresi, lalu gangguan-gangguan psikis.

Sebetulnya kalau saja karakter “Iván” disini mau dan mampu menunjukkan keinginannya yang sesungguhnya, tidak disertai hal-hal destruktif, dan dia mau lebih percaya pada dirinya sendiri serta tidak minder dan begitu tertutup, dia tidak perlu membunuhi orang-orang. Apa boleh buat, pikirannya sudah gamang dari sananya.

Indikasi kegamangan jiwanya dapat kita lihat dari kalimat-kalimatnya ini:

You have no idea what fear is!

Real fear.

Fear of being ignored and rejected.

Look at me. Look at me!

You don’t know what it’s like to live in the dark and hide in another world.

A world full of silence, getting used to measuring your steps.

Always wearing the appropriate clothes.

Making your voice one voice and none.

And your eyes, two eyes and none.

It takes so long that eventually you become a shadow.

But one day you find out that blind girls realise that you’re there, that you’re breathing, that you are still alive.

That you can offer them your eyes for theirs, your hands for theirs…

That’s why our relationship is so perfect.

Ngerti? Ya, pria yang merasa dirinya invisible–tidak kelihatan–ini, yang merasa tersiksa karena kerap tidak dipedulikan orang lain, yang selalu merasa diacuhkan, tidak dibutuhkan, dan yang kemudian akhirnya betul-betul merasa tidak berarti dan tidak dicintai, menemukan cinta dan penerimaan pada sosok seorang buta. Dia merasa nyaman sebab bersama si buta dia dapat membantunya menjalani hidup: menjadi “matanya”, menjadi “pegangannya”, tanpa perlu dilihat oleh pasangannya, dan karena itulah dia merasa dirinya penting dan nyaman.

Itulah mengapa dia ingin menjadikan Sara tetap buta meskipun wanita itu sudah melakukan operasi cangkok mata. Juga melakukan yang sama terhadap sang saudara kembar. Agar dia bisa terus dicintai, tanpa perlu “terlihat”.

Aku pikir, “Iván” mempunyai tingkat kepercayaan diri yang amat sangat rendah. Dia memiliki fobia sosial: takut kepada orang-orang, takut menjadi pusat perhatian, takut bajunya tidak pantas, dan lain-lain.

Fobia yang, aku rasa, pun kerapkali menghinggapi pikiran-pikiran terburukku. Hanya saja, aku tidak separah dia. Dia betul-betul menghindari dilihat orang. Namun separah-parahnya fobia tersebut, dia tak bisa pungkiri kenyataan bahwa dirinya, sebagai manusia, juga ingin dicintai.

Jadi sebetulnya dia bukanlah orang jahat. Hanya… kesalahan pola asuh sejak kecil dan fobia akut yang tidak terobati, ketidakmampuannya berkomunikasi, juga rasa kesepian yang menyakitkan dan menakutkan, yang membuatnya tidak mengandalkan akal sehat juga manusiawinya sehingga dia pun tega berbuat jahat.

Dan, kalau saja orang-orang mau mendengarkan dan memahami.

Entry filed under: Films. Tags: .

7 Cara Menghemat Konsumsi Baterai Smartphone Android (Versi Saya) “Merdeka”, Sebuah Cerpen (Ceritanya Menghayati Hari Kemerdekaan…)

2 Comments Add your own

  • 1. d0th  |  August 2, 2011 at 1:26 am

    Pikiran manusia itu dibagi 3; Unconscious / alam tidak sadar, Subconscious / alam bawah sadar dan Conscious / alam sadar. Secara garis besar, pembagian susunan jalan berpikir tersebut seperti piramid. Alam sadar menempati ujung piramid ( daerah paling kecil), disusul alam bawah sadar (pertengahan piramid) dan alam tidak sadar yang menempati porsi piramid paling besar.

    Nah dalam kasus Ivan, kurangnya kepercayaan diri dan penolakan dari sekitarnya memicu tekanan dari alam sadar menuju alam bawah sadar sampai alam tidak sadar. Dan ketika alam tidak sadar terus mendapat tekanan yang kuat, maka akan membuat orang tersebut mengambil tindakan nyata.

    Kurang lebih seperti ini skemanya:
    [Rangsangan sadar] -> [Alam sadar] -> [Tekanan kuat] -> [Alam tidak sadar] -> [Tekanan kuat] -> [Alam tidak sadar] -> [respon] -> [Pikiran Sadar] -> [Tindakan sadar]

    Karena ini kasus Ivan, tindakan sadar yang dia lakukan adalah merubah dirinya menjadi physcho (yang kejam).

    Dan saya setuju mengenai orang yang mau mendengar dan memahami.Sebab dengan didengar dan dipahami, maka pikiran manusia itu dapat dimanipulasi untuk menerima saran, masukan, atau melakukan segala sesuatu yang kita inginkan dalam koridor yang positif.

    Sebab, kita hanya “melihat” sebagian kecil pribadi seseorang, tanpa kita pernah tahu seperti apa jiwanya.

    Reply
    • 2. Fansi  |  August 2, 2011 at 4:16 am

      Komenmu mantap! Mengena! Persis seperti yg aku maksud.

      Iya, sebetulnya dia itu kasian, korban dari tekanan2 di alam bawah sadar, padahal kalo aja dia diobati, yg proses awalnya adalah dipahami, mungkin dia ga perlu membunuh2.

      Makasih loh bang, komennya super.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • G. K. Chesterton
    "There is a great deal of difference between an eager man who wants to read a book and the tired man who wants a book to read."

My Tweets

Contact

Books I Love

Monthly Posts

Other Information

Click to view my Personality Profile page

Content copyrighted.


%d bloggers like this: