Ternyata Hidup “Enak” Butuh Syarat

April 27, 2011 at 10:40 pm 6 comments


Betapa anehnya ketika seseorang dinilai bukan lagi dari kepribadiannya, pola pikirnya, atau problem solvingnya; namun malah dari status sosialnya, pekerjaannya, bentuk fisiknya, gelar yang menempel di namanya, latar belakang keluarganya, jumlah uang di rekening banknya…

image

Betapa semu semua penilaian itu namun betapa hampir semua manusia, sadar maupun tidak, menuntut kesemuan terkutuk itu.

Aku benci ketika seseorang dinilai dan dihakimi dari hal-hal lahiriah yang nampak di kulit, buku tabungan, isi dompet, atau kertas2 ijazah rapuh. Rasanya pengen nyobek-nyobek ijazah itu, pengen ngebotakin orang itu, pengen ngerampok, menjatuhkan semua kebanggaan yang dia sukai dengan tololnya itu.

Apa dia hanya punya arti ketika semua itu menempel di tubuhnya? Apa dia hanya diterima jika memakai gelar sarjana di namanya, lalu jika tidak maka dia hanya sampah? Apa dia hanya menarik ketika memakai baju-baju bagus, lalu ketika tampil biasa maka semua orang mengacuhkannya?

Ini nggak bisa diterima pake akal maupun nurani. Betapa semua kebohongan ini, semua nilai-nilai nggak penting yang dielu-elukan orang dalam rangka satu kata: penerimaan, pujian, gengsi–sudah begitu merasuk bahkan dalam pojok tersempit sendi-sendi kehidupan… Untuk apa? Untuk memisah-misahkan dan mengkotak-kotakkan kita? Memecah belah persatuan, meruntuhkan harapan? Dan cinta… Cinta rupanya juga sekejam itu.

Katanya, cinta itu tanpa syarat. Ah, sungguhlah itu istilah kuno dan naif. Kalo cinta tanpa syarat, kenapa cinta harus memilih yang bergelar sarjana, yang tampan, yang berlatar belakang keluarga berada, yang bisa ini, yang bisa itu…?

Nggak jarang semua “syarat” itu harus dipenuhi dalam rangka gengsi. Aaah, the hell with gengsi! “Iya dong, kan biar nggak malu-maluin kalo diliat orang.” “Cari yang kerjaannya oke dong, dokter kek, karyawan bank kek, biar hidupmu enak.” Aku nggak butuh orang dengan pekerjaan spesifik kalo cuman untuk bikin hidupku enak. Lagian siapa juga yang menuntut hidup enak? What am I, Paris Hilton? Hidup enak itu kan relatif sekali.

Hah… Lama-lama jadi curhat colongan. Dan karena ini adalah posting yang ditulis dari perangkat nirkabel (dalam keadaan ngantuk pula), ada kemungkinan aku akan menghapusnya kalo ternyata kurasa nggak menarik nantinya. Maka bacalah. Tapi jangan pernah memasukkannya ke hati.

Entry filed under: Screwed-up. Tags: .

Overjoyed Beautiful (Me)ss

6 Comments Add your own

  • 1. d0th  |  April 28, 2011 at 12:04 am

    hohoho..pemikiran yang menarik. Tapi ada benang merah yang harus ditarik, persiapan.

    okelah tidak ada penilaian ‘kan enak punya suami dokter’, tapi siap ga seandainya dia *maaf* tukang gali kubur?
    Se-enggaknya ada persiapan pmikiran yang matang, sebelum melangkah.

    Reply
    • 2. Fansi  |  April 28, 2011 at 8:33 am

      Pekerjaan apapun seharusnya bukan menjadi patokan kebahagiaan seseorang. Tapi kayaknya hidup nggak sesederhana itu ya. Tukang gali kubur, tukang becak, tukang kredit, kuli… When it comes to love, everything surprisingly changes based on the (sentimental) corridor of love. Menurutku.

      Reply
  • 3. sugenk  |  April 28, 2011 at 1:48 am

    Setuju!

    Suatu kebahagiaan tersendiri untuk saya karena sudah sempat membaca posting ini sampai khatam. Setidaknya sudah sempat, sehingga tidak menyesal jika nantinya postingan inipun jadi dihapus🙂

    Saya setuju hidup “enak” itu butuh syarat, yaitu hati dan pikiran yang bisa nerima dengan ikhlas, setelah berusaha dengan maksimal sekaligus optimal. Ini adalah tergantung sepenuhnya kepada diri kita masing-masing dalam memahami arti kebahagiaan. Itulah kenapa ada yang masih bisa tersenyum saat disiksa sekalipun, jadi kita tidak perlu dan tidak boleh sinis terhadap keadaan orang lain.

    Untuk cinta saya setuju tanpa syarat/alasan, kecuali alasan karena Dzat Yang Maha Kekal. Iya, kalau menurut saya Allah adalah satu2nya alasan yg boleh dibuat untuk alasan kita mencintai sesuatu, karena kalau bergantung dengan alasan yang lain pasti kita semua hanya akan mendapatkan kecewa, karena tidak kekal. Sedangkan cinta kepada Allah adalah tetap harus yang paling tinggi diantara cinta-cinta kepada yang lain.

    Sedangkan kalau menikah, saya setuju 100% harus dengan syarat. Selain syarat juga ada rukunnya. Apa saja syarat dan rukunnya? saya kira itu sudah jelas dibahas dalam kitab-kitab fiqih🙂. Yang jelas tidak boleh menikah dengan robot ijo😀, juga nggak ada syarat kekayaan, gelar sarjana, syarat tampang ganteng/cantik, berdarah biru. Saya berani potong leher kalo ada syarat seperti itu didalam ajaran agama kita.

    Selamat hidup enak dan mencintai dengan bebas. Semoga ini semua tidak hanya sekedar kata-kata, tapi harus bisa dibuktikan… diperjuangkan dengan hati, pikiran, dan perilaku kita dalam kehidupan sampai akhir hayat.

    … Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid:20).

    Fabiayyiaalaairobbikumaatukadzdzibaan?.. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman:13)

    See you.

    Reply
    • 4. Fansi  |  April 28, 2011 at 8:37 am

      Bersikap ikhlas terhadap semua yang ada dalam hidup kita, sebenernya itu aja syarat hidup enak. Sayang sekali manusia sering terbutakan oleh kesenangan-penuh-tipuan di dunia yang bentar lagi ancur ini.

      Btw ini postingan kayanya ga kuapus kok :p

      Reply
  • 5. Romadhani Hasan  |  April 29, 2011 at 12:46 am

    Ane malah maklum sama semua itu kok. Karena variabel-variabel semacam status sosialnya, pekerjaannya, bentuk fisik, gelar sarjana, latar belakang keluarga, jumlah uang dapat diidentifikasi secara singkat dan mudah. Berbeda halnya dengan variabel pola pikir, kpribadian, n problem solving. Kita tidak bisa menilai hanya dalam sekali pengamatan saja.

    Ibarat statistik kumpulan variabel pertama mempunyai standard deviasi dan error term yang rendah. which is it reliable, stabil,n well identified. vice versa with second variable.

    Jadi sebagai makhluk yg lebih dikuasai oleh logika dibandingkan insting/emosi, maka manusia cenderung untuk memilih kumpulan variabel pertama.

    Dan kenapa cewek lebih cenderung memilih cowok kaya, sedangkan cowok lebih memilih cewek cantik n seksi? Mungkin jawabannya bisa dibaca disini http://ekonomgila.blogspot.com/2011/02/velentinomics-dan-komodifikasi-cinta.html (blognya tmen2 ane neh)

    Jd ane maklum aja ketika marriage proposal ane ditolak karena blum lulus. Yang lebih parah lagi ane pernah ditolak hang out sama cewe karena alasan yang sama. Padahal rencananya ane mw hang out bareng teman2 yg lain. Dia bilang

    “KAMU LULUS DULU TUH”

    Reply
    • 6. Fansi  |  April 29, 2011 at 9:30 pm

      Nice reply.
      Berarti manusia lebih dikuasai logika ketimbang perasaan, right?
      Itulah gunanya kenal sama orang. Kenal yang ga sekedar kenal kulit luar. Tapi juga menyelami isi hati dan pikirannya. Apa sekelompok orang pantas disebut “kawan” kalo sebetulnya mereka saling menghakimi satu sama lain? Tidak betul2 mengenal pribadi satu sama lain?
      Kalo belum apa2 sudah menghakimi, dua belah pihak sama2 rugi. Yang satu rugi karena tidak dipahami dan hanya dinilai dari “pencitraan” yang mungkin susah payah dia tampilkan. Dan yang satu juga rugi karena kehilangan kesempetan untuk memahami keunikan khusus temen barunya, yang keburu ketutup oleh prasangka (yang cenderung negatif).
      Alangkah menyenangkan kalo semua ini dilakukan tanpa terhalang buruk-sangka.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • Al Franken
    "Mistakes are a part of being human. Appreciate your mistakes for what they are: precious life lessons that can only be learned the hard way. Unless it's a fatal mistake, which, at least, others can learn from."

My Tweets

Contact

Books I Love

Monthly Posts

Other Information

Click to view my Personality Profile page

Content copyrighted.


%d bloggers like this: