Si Bejo’s Speech

March 6, 2011 at 7:07 pm 9 comments


Baru saja film The King’s Speech dimulai, belum-belum, si Bejo, salah satu sahabatku–yang biasanya tidak pernah menangis–sudah menitikkan air mata menyaksikan detik-detik menjelang Bertie berpidato.

Sungguh menakutkan.

Dan orang-orang biasanya akan tertawa: apa susahnya sih tinggal ngebacot doang? Halah, cuman ngomong tok, kenapa mesti takut? Dan reaksi terparah adalah kalimat berbau ‘makanya’ seperti makanya banyak bergaul dong! Makanya jangan banyak diem dong! dan lain-lain.

What the fuck, for God’s sake they have no idea!, pikir si Bejo.

Bicara di depan umum, bagi penduduk Amerika Serikat, berdasarkan hasil riset tahun 1985 oleh Wall Street Journal yang pernah si Bejo baca, adalah ketakutan nomor satu. Bicara di depan umum. Coba. Sesuatu yang bagi banyak kenalannya semudah mengedipkan mata. Entah kenapa si Bejo dikelilingi oleh orang-orang yang normal, yang sangat lancar berbicara di depan orang banyak, yang pemberani, dan yang terpenting, mereka tidak gagap.

Waktu kelas 3 SD, si Bejo bercerita padaku, dia ingat hal memalukan yang terjadi di ruang kelasnya. Saat itu gurunya mengabsen satu-satu muridnya, yang harus dijawab oleh si murid dengan menyebutkan nilai hasil ulangan x, untuk beliau catat. Giliran namanya dipanggil semakin dekat, dan dia sungguh gugup. Ya. Gugup. Hanya karena akan menyebutkan nilai di depan teman-teman sekelas. Bukannya nilainya buruk; nilainya justru sangat tinggi, seratus, dan si Bejo merupakan salah satu dari segelintir pemilik nilai cemerlang itu. Itulah yang membuatnya semakin gugup. Dia akan harus berteriak menyebut nilainya yang berhuruf depan ‘s’–lebih-lebih nilainya sangat tinggi. Si Bejo tidak mengerti, kenapa hal sesederhana ini membuatnya begitu tegang? Bisakah pria yang sudah sepuluh tahun terakhir menjadi sahabatku ini mengucapkannya dengan lantang?

Tidak. Kegagapan menyerang si Bejo. Sungguh memalukan, amat sangat memalukan, saat itu katanya usianya 9-10 tahun, dan ditertawakan seluruh penjuru kelas rasanya lebih buruk daripada berada di neraka.

Dan sejak itu si Bejo mengaku, dia jadi sulit bicara. Jika harus bicara dengan kata berhuruf depan ‘s, ‘p’, ‘c’, ‘k’, atau ‘b’, huruf-huruf konsonan itu… lidahnya beku. Dirinya memilih tidak bicara, daripada harus menahan malu karena gagap. Dan predikat anak pendiam pun disematkan kepada si Bejo. Begitu lebih baik. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian, menjadi pemimpin, menjadi orang yang pekerjaannya melibatkan omongan demi omongan dengan orang lain. Apapun dia lakukan, asal tidak berdiri di tengah keramaian dan harus bicara.

Nervous

Demikian juga Bertie. Dia memilih untuk tidak menjadi raja, daripada harus dicela oleh masyarakat karena kegagapannya. Si Bejo, menghela napas, sangat paham. Dia amat sangat paham, lebih dari siapapun yang tidak tahu seperti apa rasanya menjadi gagap. Dibutuhkan keberanian dan dukungan yang amat sangat besar untuk mampu menghadapi banyak orang dan berbicara. Mungkin terdengar berlebihan, tapi seperti pengakuan si Bejo, “dua hal itulah yang luar biasa penting bagi kami”.

Alhamdulillah, semakin kesini kurasa si Bejo semakin sembuh. Kurasa lingkungan yang baik dan nyaman mengurangi kegagapannya. Menurutku gagap sendiri adalah sesuatu yang tidak akan sembuh begitu saja; pada situasi tertentu, tergantung tingkat emosional, tergantung dengan siapa orang tersebut bicara, gagap bisa dengan mudah menyerang lagi.

Yang penting bagi mereka, para ‘penderita’, adalah bagaimana menjalani hidup normal tanpa ejekan dan tekanan karena disfungsi bicara ini. Bagaimana orang mau memahami, sabar, mendengarkan, dan tidak menjadikannya olok-olokan. Memiliki orang yang mengerti, seperti Queen Consort (atau Queen Elizabeth?) di film ini, akan sangat memberi arti, terlebih dengan komentarnya yang begitu menguatkan: he stammers so beautifully they’ll leave us alone.

Lebih daripada itu, film yang sangat sederhana (tanpa action berlebih, tanpa adegan percintaan sok romantis) ini menyajikan jalinan cerita yang menarik, terkesan kocak (padahal serius), sungguh tidak membosankan, dalam, dan tetap bersahaja. Penonton diajak menyelami emosi dan karakter sang calon raja beserta keluarga dan terapisnya, mengenali seluk beluk kerajaan di Inggris Raya (namun tidak terlalu mendalam) dan secara tidak langsung dididik untuk memahami sebuah kekurangan/’disfungsi’ yang agaknya selama ini kurang begitu ‘dikupas’ dan, yang terpenting, dipahami keberadaannya.

Sumber gambar: google.com, varsitarian.net

Entry filed under: Films, Life Lessons. Tags: .

Sok Wasiat “Why Do You Love Him?”

9 Comments Add your own

  • 1. aLdo  |  March 7, 2011 at 10:44 am

    hey.. you’re back..
    nice to read your post [again]…
    🙂

    Reply
    • 2. Fansi  |  March 7, 2011 at 9:36 pm

      Of course! Makasih sudah baca2 lagi, insyaallah mau terus menulis😀

      Reply
  • 3. d0th  |  March 8, 2011 at 7:58 am

    si bejo yang jual pentol depan kampus itu ya?
    hihihihi..

    ngulas film2nya jason Statham dong, biar kliatan cowo banget git😀

    Reply
    • 4. Fansi  |  March 8, 2011 at 4:14 pm

      Iya maunya gitu, nanti ya aku nonton “film2 cowo” dulu. Model2 Princess Diaries, Cinderella Story, gitu kan?

      Reply
      • 5. d0th  |  March 25, 2011 at 3:59 pm

        wah kalo film yang cwo banget itu mah “suster keramas”, “hantu tanah kusir”, “diperkosa setan” model model gitu.

        Reply
  • 6. Diffa  |  March 8, 2011 at 7:36 pm

    aku kok bosen ya nontonnya, filmnya garing, banyak ngomong tok.. Hehehe..

    Reply
    • 7. Fansi  |  March 9, 2011 at 8:28 am

      Relatif, masalah selera aja kok🙂

      Reply
  • 8. wisnu  |  March 11, 2011 at 11:06 am

    menarik menyimak kenangan2 si bejo. anda perhatian sekali dengan teman anda. dan menyimak korelasi film dan kisah hidup seseorang, merupakan pengalaman yang menambah pengetahuan dan meningkatkan kebijaksanaan hidup seseorang.

    Reply
    • 9. Fansi  |  March 11, 2011 at 9:32 pm

      Makasih😉

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • Al Franken
    "Mistakes are a part of being human. Appreciate your mistakes for what they are: precious life lessons that can only be learned the hard way. Unless it's a fatal mistake, which, at least, others can learn from."

My Tweets

Contact

Books I Love

Monthly Posts

Other Information

Click to view my Personality Profile page

Content copyrighted.


%d bloggers like this: