Ternyata Ya, Dokter Disini Itu…

December 19, 2008 at 8:25 pm 1 comment


Kenapa banyak orang Indonesia yang sakit trus berobatnya ke rumahsakit di luar negeri? Biasanya mereka memilih Singapura atau Amerika Serikat sebagai negara tujuan pengobatan karena fasilitas kesehatan di negara-negara itu luarbiasa bagus. Kenapa gak berobat di Indonesia aja? Apa mereka mementingkan gengsi, biar keliatan ‘berlebih’ di mata orang lain? Apa mereka emang kelebihan duit? Apa mereka luarnegeri-minded dan nganggep negara kita gak ada bagus-bagusnya? Bukankah fasilitas kesehatan di Indonesia banyak yang bagus dan berkelas?

Ya, mungkin jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas mayoritas adalah ‘ya’. Tapi gak semua. Sama sekali. Ada satu faktor lagi; sesuatu yang sangat sepele tapi sekaligus penting, well, subjektif. Tapi menurutku itu penting, walaupun sederhana. Apa itu? Ternyata, kenapa orang Indonesia lebih memilih berobat di luar negeri, gak laen adalah karena faktor dokter.

Ada apa dengan dokter? Apa mereka punya relevansi yang cukup sehingga bisa dijadiin salah satu faktor penentu?

Definitely. Menurut orang Indonesia yang sakit, yang mereka dapatkan ketika berkonsultasi ke dokter adalah jawaban-jawaban yang ‘sok tau’, ‘sok menghakimi’, dan mereka sama sekali gak mau dengerin keluhan pasien sebenernya. Artikel tentang dokter budeg ini pernah dimuat di halaman Opini Jawa Pos, tapi aku lupa edisi tanggal berapa; kira-kira dua atau tiga bulanan silam.

It happened to me. Jadi kemaren aku konsultasi ke dokter spesialis gigi perihal gigi depanku yang nyeri kalo makan atau minum yang terlalu panas atau terlalu dingin, dan dokter itu memberikan jawaban yang cepet, bicara seolah pendengarnya ngerti intonasinya yang cepet itu (padahal dia pake bahasa kedokteran yang gak awam-minded), dan kalo aku nanya atau nyela, dia gak langsung menjawab melainkan menyelesaikan kalimatnya dulu; kadang nafasnya sampe agak ngos-ngosan saking jarangnya dia bernafas pas sibuk ngoceh. Maksutnya, bukankah sebagai pasien, kita berhak untuk ‘cerewet’? Kita kan pengen tau banget apa yang terjadi pada tubuh kita. Harusnya sebagai dokter kan, mereka mendengar, memahami, dan apapun yang kita komentarin atau tanyain itu menjadi kewajiban mereka untuk memberi jawaban yang memuaskan; paling nggak, mereka mau menjawab every single question we ask. Apapun yang kita ucapkan adalah such a honor for the doctors to answer. Kalo sebagai dokter mereka gak mau dengerin kita, dan sibuk berkutat dengan analisisnya sendiri, gimana kita bisa nyaman berobat ke dia? Tiap orang kan beda, harusnya mereka tidak memperlakukan kita dengan sama kan.

Beberapa hari kemudian aku berobat lagi ke dokter spesialis gigi untuk keluhan berbeda, kali ini dia lebih senior. He is a professor. Aku kira dia bisa lebih ‘mendengar’, tapi ternyata gak beda ama dokter sebelumnya. Kalo ngomong cepet, kalo ditanya jawabannya kayak asal dan ogah-ogahan (bosen kayaknya, mendengar pertanyaan yang sama dari pasien-pasien sebelumnya), dan tidak menunjukkan ketertarikan minat terhadap keluhan penyakitku. Uh… I got it now! Aku juga lebih memilih berobat di luar negeri dengan dokter yang lebih pengertian daripada di dalem negeri yang dokternya cuek gini! Bayar mahal gapapa, seimbang kok ama hasilnya. Daripada bayar dokter disini, udah gak murah (di rumahsakitku, tiap konsultasi bayar Rp100.000), harga obat mahal, belum tentu sembuh, lagi.

Begitulah fakta di lapangan. Jadi jangan underestimate duluan ya kalo denger kabar tentang orang-orang sakit yang berobat di luar negeri. Kemungkinan besar, dokter kita sendirilah biang keroknya…

*Had I were a doctor, I’d behave nice…*

P.S. I’m getting a surgical operation next Monday, it’s so terrified for me…

Entry filed under: Life Lessons, Screwed-up. Tags: , .

I’m Done. What An End of the Year

1 Comment Add your own

  • 1. indrapamungkas  |  December 24, 2008 at 8:19 am

    whey, what kind of surgical operation fan?
    operasi gigi? pasang behel?

    btw, I think you just unlucky. .several doctors I’ve encountered most of them were nice. I have no idea is it me at the first place that emitting ‘nice aura” so they would response nice in return!😛

    sometimes it’s the patient that having ‘nyolot’ attitude in the middle of doctors exhaustive day. hehuehuee. . but yeah, i agree that most of our ‘service workers’ in our country do not know how to treat their customer well.🙂

    operasi gigi. it was oke until the after effect, now i get this swollen cheek dan ga tau sampe kapan harus begini. *nangis*
    dokter yg pertama ga nyebelin-nyebelin banget sih. masi agak mau mendengarkan. yg ngoperasi aku ini yg agak judes… masa’ aku kan slese operasi trus keluar ruangan trus masuk lagi ama ibuku, trus ibuku nanya ke dokternya, gimana-gimananya tadi, eh dokternya ngomong ‘sudah, sudah tadi..’ sambil mengibaskan tangan gitu… seperti mengusir. well, resiko jadi dokter kan harus siap capek karena memang itulah tugas mereka, thats kinda social profession. nyolot itu hak kita dong, masa diem aja disuru-suru dokter begini-begitu, divonis ini-itu… :p

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • G. K. Chesterton
    "There is a great deal of difference between an eager man who wants to read a book and the tired man who wants a book to read."

My Tweets

Contact

Books I Love

Monthly Posts

Other Information

Click to view my Personality Profile page

Content copyrighted.


%d bloggers like this: