Losing You

July 14, 2008 at 10:13 pm 1 comment


Udah lama mengenalnya, mengenal tiap lekuk tubuhnya, melakukan semua hal baik terpuji maupun melukainya, dan sekarang… dia akan pergi? No I won’t just let him go, I promise I would give him my everything, my best of me…

Awalnya aku takut ketika dia muncul untuk pertamakalinya, menggantikan posisi yang dulu, yang jauh lebih besar dan dapat diandalkan di segala medan, dengan bibir yang juga lebih tipis. Dia hadir membawa keraguanku akan kemampuanku terhadap kendalinya; akankah ia menuntut banyak hal? Akankah perbedaannya dengan pendahulunya itu mengekangku untuk berbuat baik kepadanya?

Ketika pertamakali dia muncul dan berdiri di hadapanku dengan senyum polosnya (aku bisa merasakan aura gugup yang menyelimuti tubuhnya yang berkulit gelap), aku begitu senang menatap kecantikannya. Dia sangat cocok denganku. Tubuh kami sama-sama mungil (walau bibirnya agak maju), dan rasanya dia dapat diandalkan. Dan itu benar. Kemanapun aku membawanya pergi, dia selalu membuat orang lain iri karena keindahannya, kemulusannya, kecemerlangannya, betapa cocoknya kami berdua, dan betapa jauhnya dia dari masalah-masalah sepele.

Tapi dia hanya sesosok makhluk yang punya salah. Dia membuatku kesal ketika tiba-tiba di suatu sore yang mendung aku harus segera pulang. Dia ngotot gak mo diajak pulang bareng. Ya Tuhan… aku sampai harus membutuhkan bantuan orang lain untuk membujuknya pulang. Dan kejadian serupa terjadi sekali-dua kali lagi; tapi aku udah mulai terbiasa. Aku udah siap menerima keburukannya, sikap moodynya. Namun ternyata sampe sekarang dia gak pernah lagi membuatku kesal seperti itu–oh, dia maniiiiis sekali. Dia selalu ada saat kubutuhkan. Dia selalu tampil memukau, tak peduli bahwa pada faktanya dia belum mandi atau membersihkan diri, tak peduli dia sedang kelaparan, dan walaupun sinyal-sinyal akan rasa laparnya itu sampai harus dia tunjukkan di depanku (dia pasti marah sekali waktu itu, sampe harus seeksplisit itu), dia akan kembali tersenyum ketika dahaganya aku puaskan, dan dia tak pernah mengungkit-ungkit kembali kelaparan-yang-tak-aku-perhatikan itu.

Aku sangat mengenalnya. Aku tau seberapa jauh dia bisa bergerak, walaupun mataku tidak membuka sepenuhnya. Dia menyimpan semua kenanganku, semua benda-benda berharga dariku, dan dia tak pernah membiarkan dirinya direbut orang lain. Aku mengetahuinya dalam sekejap ketika dia terbentur dan terjatuh; dia tidak menangis, tapi aku tau dia kesakitan. Kadang lukanya terkamuflase oleh cahaya yang coba dia pijarkan untuk mengelabui aku–tapi aku, pada akhirnya, selalu tau. Aku mencintainya karena dia selalu ada untukku. Aku mencintainya karena dia tau apa yang aku maksutkan untuknya, tanpa harus kuucap sepatah kata.

Lalu kepergiannya kini membayang di pelupuk mataku. Ya, dia sudah terlalu tua. Dia sudah terlalu lama bersamaku. Kurasa dia tak ingin pergi, namun usianya memaksa dirinya untuk harus berada di posisi dimana semua orang bisa melihatnya dan mulai menawarnya dengan harga terendah yang bisa mereka dapat. Aku ingin menangis. Betapa murah harga dirinya, sesuatu yang selalu aku cintai ini. Teman yang selalu menemaniku ketika aku butuh. Pemahamannya akan diriku membuatku terluka. Aku tidak ingin melepasnya… tapi sesosok calon teman baru ini, sesuatu yang juga secantik dirinya (tidak, yang satu ini lebih cantik), tiba-tiba menampakkan diri. Mencoba menarik perhatianku. Mencoba merebut cintaku yang sebenarnya telah kuberikan sepenuhnya kepada yang dulu.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena kepergian teman terbaikku berada di luar kendaliku. Aku hanya bisa memanfaatkan saat-saat terakhirku bersamanya, menikmati sekali lagi lekuk liku tubuhnya, merawatnya seperti dia adalah milikku selamanya. Cinta pertamaku. Aku harus melepaskannya…

Entry filed under: Free Speechs. Tags: .

Forget Me Not, Jatim Park… Baca Buku is the Best Thing to Do!

1 Comment Add your own

  • 1. aLdo  |  July 15, 2008 at 2:33 pm

    aerionya mau dijual?

    wah, pdahal aq suka tuh…

    tapi dpet gnti yg bru, khan…😉

    hik… hik… *speechless saking sedihnya*
    eh klo kmu suka, brati mau dong beli? 100 deh klo bwat kmu, ehehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • Mae West
    "His mother should have thrown him away and kept the stork."

My Tweets

Contact

Books I Love

Monthly Posts

Other Information

Click to view my Personality Profile page

Content copyrighted.


%d bloggers like this: