Surabaya yang Menyebalkan!

June 23, 2008 at 3:22 pm 8 comments


Oh, Surabaya, Surabaya… I’m really loathed you! Segala birokrasi busuk, segala prosedur sampah, segala peraturan geblek, segala manusia tolol… cukup sudah, heh kota yang suhunya aja gak cukup bikin mendidih ini!

Spesies pertama yang pengen aku gampar trus kubur idup-idup adalah para pejabat desa aku. Ya segala rupa RT, RW, Lurah itu deh. They make simple things become sooo complicated! Padahal mereka menempati rumah yang berdeketan, sekompleks bahkan sejajar, tapi relasi antara mereka harus dibuat dalam bentuk kertas-kertas prosedural yang buang-buang waktu dan energi. Blom lagi mereka pada sibuk pegi mulu! Uuuhh… padahal all I need is a signature, but they make me wanna cut their fingers just for a signature, untuk setelahnya itu jari-jari direbus dan kaldunya dijadiin sop. Keren. Sop Jari Erte. I’ve gotta visit kantor hak paten untuk mematenkan nama sop ini!

And then comes this education government service, yang sama-sama sucks-nya dalam hal melayani publik. Orang cuman pengen pindah sekolah doang, syaratnya ribeeeet banget. Mungkin syarat-syarat itu emang diperluin sih. But can they make it a little, well, simpler? Gimana kalo semua syarat itu dipasang aja di internet (dan semua form-form pentingnya bisa diprint aja), jadi kita gak usah jauh-jauh ke kantornya yang terletak di jalan Jagir (yang susah ditemukan) itu? Ah, Diknas tolol… bikin cape… bikin bensin abis… bikin pala pusing…

Trus trus? Apa lagi yang membuat napsu psikopat saya kambuh? Ini dia daptar jenis-jenis makhluk yang pengen aku, uhmm, pengen aku… yell at?

1. Anak-anak SMP yang baru lulus dan ngelakuin konvoi naek motor di jalan, dengan memamerkan seragam sekolah yang di-pylox-in ancur-ancuran, dan parahnya mereka naek motor tanpa jaket, helm, dan dengan posisi duduk seolah mereka duduk di sofa, dan mereka naek motor dengan ugal-ugalan serta bikin macet di lampu merah, aaarrggghhh… pengen aku tamparin satu-satu itu anak-anak gak berotak…

2. Seorang bapak-bapak pengendara sepeda motor yang marah pas aku motong jalannya dia. Padahal all I did was muter-balik, secara di jalanan itu gak ada puter-balik yang resmi dan jarak terdekat untuk puter-balik resmi itu adanya nun jauh di ujung jalan… eh si bapak-sok-pinter itu marah-marah gitu! Siapa suruh naek motor kenceng banget! Lagian… aku kan muter-balik juga pas jalanan lagi agak sepi, kenapa dia tiba-tiba muncul ya!? Dengan mata melotot dan naekin helm, dia tereakin aku, “ngawur!!!” dan aku, yang aslinya ketakutan, langsung nyetel muka dengan tampilan kombinasi jutek, kesel, gak-peduli, cuek, dan pura-pura-gak-tau, dan langsung tancep gas. Takut dikejar sebenernya… tapi ternyata gak tuh. Fiuh. Tapi keselnya masi. Dasar orang Surabaya! Gitu doang marah! Ya maap…

(updated) 3. Satu lagi yang tadi bikin aku sedikit bermulut ‘manis’ adalah, melihat perempuan-perempuan yang nyetir motor. Ups, maap kalo tulisan di nomor tiga ini agak-agak nyinggung kaum hawa. Ini gak mukul-rata kok, saudariku. Hanya pengamatan berdasarkan survey yang telah saya lakukan beberapa tahun belakangan ini aja (wuih, kok niat ya!?). Nah, kenapa ya, cewek tuh kalo bawa motor bawaannya takut, ragu, gugup, trus style-nya tuh yang suka miring-miring, posisi di tengah-tengah, hobi nyalip jalur, dan kalo mo belok tuh pasti beloknya yang setengah hati gitu? (sekali lagi, ini gak semua cewek.) Pokonya style yang membuat para pengendara (mobil, terutama) waswas. Mending kalo nyalipnya lancar (kayak cowok), nah kebanyakan cewek tuh bego banget kalo nyalip! Aku menyarankan, cewek-cewek tuh gak usah deh nyetir motor. Bawaannya bikin takut aja! Tar kalo ditabrak mobil, dia pasti gak mo disalahin! Huh! Seandainya aku jadi presiden RI, aku bakal bikin UU yang mengharamkan perempuan mengendarai motor. Semua perempuan di Indonesia bakal aku sumbangin satu mobil. Jadi mereka gak bakal lagi bikin grogi para pemake jalan dengan tingkah naek-motor-yang-sembarangan itu! Beres perkara. Ho… ho…

Dan begitulah… begitu nyampe kampus, dengan tujuan mulia menemui bapak dosen tertampan sedunia-akhirat (yang ternyata gak jadi cuz doi lagi nguji sidang TA), kondisiku adalah campuran dari cape, ngantuk, laper, dan kesel. Kesel karena gak nemu temen, hiks! Sendirian aja deh di perpus. Tapi kesendirian itu gak berlangsung lama sih… walo sekarang turns out I’m left alone again.🙂

Duh, kerjain TA dong… please pleASE PLEASE!!!

Well, gotta go home now.

Image courtesy of http://www.ladybikermagazine.com.

Entry filed under: Screwed-up. Tags: .

No Longer Lonely Seminar Tugas Akhir

8 Comments Add your own

  • 1. indrapamungkas  |  June 27, 2008 at 9:41 am

    eh Fan, belum tentu kale kalo cewe dikasi mobil jalanan menjadi lebih aman tentram sejahtera sentausa. . .yang ada tambah bikin macet!

    no offense, cewe itu kalo nggak nyetirnya pelan-lelet banget ya Gradakan nggak karuan. I dunno, pokoknya nggak pas gitu. .

    Mind you, My mom’s car was 3 times worse than my car!, goresan, penyok, beset disana sini,,….ancuuurrrr. .

    Huaehaaaa. .

    *piss*

    klo mobil, at least, klo cewe itu lg grogi ga keliatan. jd ga bikin kita yg ngeliat waswas. hhe. tau ah. kalo ga pelan bgt, sradak-sruduk gitu ya? aku ga gitu ah, aku stabil” saja. hehe lg..

    Reply
  • 2. sapimoto  |  June 28, 2008 at 11:14 am

    Namanya bukan tempat puter balik dipakai puter balik, pasti aja yang lagi pake jalur marah. Ibaratnya make istri orang, trus ketauan sama suaminya.

    wah, analoginya sedikit berlebihan ah. yg make jalan kan banyak, it’s supposed to be a public property, isn’t it? lagian, itu jalurnya lg sepi… dia aja yg ngebut. hehehehehehe

    Reply
  • 3. dookie  |  July 8, 2008 at 3:19 pm

    “i mean, go change the residues, don’t be influenced by history, and just… please, just take it easy and start all over again. it’ll be so much fcuked up to see the government do practise cruelty and all we’re doing just sitting idly.”

    It’s about corruption and status quo. There is no reason whatsoever the entire system can’t be automated. (abolish kelurahan/rt/rw) Basic paperwork can be accomplished at kecamatan level.

    But that means deregulation, rewriting UU kependudukan, removing several hundred thousands of pegneg employments, etc.

    Just follow what a “camat” does each days. Most are mundane bureaucratic job, the rest is bullshit. It’s quite amazing the amount of nonsense they do each day.

    It’s one one of the biggest drag to the national economy.

    yea, there’d be too much to change if we only think about “abolishing”. why don’t we change them steadily? one by one? i dunno any regulations about bureaucracy (in fact i pretty hate them) so i hope somebody who’s got competency in it would give us a hand. hahaha.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • G. K. Chesterton
    "There is a great deal of difference between an eager man who wants to read a book and the tired man who wants a book to read."

My Tweets

Contact

Books I Love

Monthly Posts

Other Information

Click to view my Personality Profile page

Content copyrighted.


%d bloggers like this: