The Kite Runner

June 10, 2008 at 11:22 pm 2 comments


Keprovokasi tulisan Djoko Pitono di kolom “Di Balik Buku” yang dimuat di Jawa Pos edisi Minggu, 1 Juni 2008 lalu, aku bertekad membeli novel The Kite Runner karya pengarang Afghanistan yang sekarang bermukim di AS, Khaled Hosseini. Esai singkat itu bener-bener provokatif, mendeskripsikan betapa Hosseini kepilih jadi salah satu tokoh paling berpengaruh di AS gara-gara sebiji novel itu. Dan… dua taun di daftar buku terlaris New York Times? Bener-bener buku yang wajib dibaca. Udah terbit sejak taun 2003 sih. Tapi di Indonesia baru dicetak awal taun ini.

Novel ini menceritakan tentang seorang anak berusia 11 tahun yang tinggal di ibukota Aghanistan, Kabul, bernama Amir. Ia tinggal di sebuah rumah dengan keadaan berkecukupan bersama ayahnya dan asisten rumahtangganya yang bernama Ali. Ali hampir sepantaran ayah Amir, dan pria yang menderita polio itu memiliki seorang anak laki-laki seusia Amir, Hassan. Amir dan Hassan bersahabat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Salah satu kenangan indah yang diingat Amir adalah, Hassan sangat jago memainkan layang-layang. Bagi Amir, Hassan adalah pengejar layang-layang sejati, sebab anak itu memahami trik-trik memutuskan tali benang layang-layang musuh, dan bagaimana mengejar layang-layang terakhir yang ia kalahkan.

Tapi suatu hari, pengkhianatan terjadi di antara mereka, dan seperti selayaknya hidup, kejadian sekecil apapun dalam satu hari, dapat mengubah keseluruhan takdir yang ada.

Intrik dalam cerita ini tidak hanya seputar Amir dan Hassan. Amir memiliki masalah dengan ayahnya, dimana ia kadang ingin menjadi seperti Baba-nya pada suatu ketika, dan membencinya di saat-saat lain. Dan takdir yang membawa ayah dan anak itu ke Amerika ternyata belum menghapus penyesalan Amir atas apa yang pernah ia lakukan terhadap Hassan, sehingga, sepanjang episode dalam kehidupannya yang “bahagia”, kenangan akan Hassan selalu menggentayang seperti mimpi buruk tiap kali insomnia-nya menyerang. Hassan tidak bisa begitu mudahnya dilupakan, seperti yang selalu ia yakinkan pada dirinya sendiri. Ia harus mengembalikan hak-hak sahabatnya itu, gimanapun caranya.

Diketengahkan juga sekelumit mengenai perpecahan yang terjadi di Afghanistan dari mulai awal 1980an, hingga kependudukan Taliban pada tahun 1998. Hosseini menuliskan semuanya dengan bahasa yang tidak rumit tetapi mengena, dan ulasan tentang perang dan kekerasan yang seringkali sangat membosankan (atau mengerikan) samasekali tidak termasuk di dalam buku ini.

Dan begitulah resensi (dengan sok pake bahasa resmi) tentang novel yang selesai aku baca dalam lima hari ini (kelamaan untuk novel setebel 478 halaman). So, what do I like from this novel?

1. Cerita yang menyentuh
2. Penokohan yang sangat kuat, bikin aku kenal every single character dari tiap tokoh
3. Penulisannya menarik, gak ngebosenin, runtut, bahasa yang ringan
4. Menghilangkan prasangka negatif tentang negara Afghanistan

Dan cuman satu hal yang aku gak suka. Kenapa sih buku ini diterbitin Qanita? Penerbit satu ini kan kualitas cetakannya jelek banget (no offense please… ini komentar pribadi). Pake kertas burem yang tipis banget dan warna kertasnya beda-beda. Gak enak megangnya… lagian, untuk sebuah buku yang bagus kayak gini, harusnya yang nerbitin adalah penerbit yang menjaga kualitas fisik buku dan yang nyetak adalah mereka yang tau bahwa kualitas kertas meningkatkan minat baca dan nilai buku itu sendiri… istilahnya, packagingnya lah. Me beloved one sez (pinjem istilahnya ya…) Indonesia ini tidak menganggap packaging sebagai sesuatu yang penting, jadi bikinnya langsung asal jadi gitu… menyakitkan! Memalukan! This book worth more! Coba kalo aku jadi pencetak, aku bakal bikin kemasan buku ini menjadi hardcover dengan kertas berwarna putih tulang yang tebel tapi ringan.

Oh ada lagi yang aku gak suka. Ilustrasi covernya. Kenapa juga ilustrasinya pake gambar poster film adaptasi buku ini? Kenapa gak niru aja tampilan cover aslinya? Aku kan murni mau baca bukunya, bukan baca buku untuk menebak jalan cerita filmnya (film ini lagi dibuat sekarang). Gak terlalu signifikan sih, cover itu. Tapi buat aku, cover sebuah buku selalu penting. Sepenting isinya. Hwehe.

And so it is. Nikmatilah buku ini. There’ll be lots you’ll get, many new things you’ll learn. I give this 9 of 10.

Entry filed under: Books. Tags: .

Cowok Jaman Sekarang versus Jilbab Upside Down = Madly In Love

2 Comments Add your own

  • 1. alitkarnajaya  |  June 11, 2008 at 3:01 pm

    Eh, berat ga nih novelnya? Aku pengeenn bgt beli pas waktu ini. Tapi gara2 liat ketebelan ama kertas yang tipis kerontang gitu jadi ragu..
    Btw ini novel favoritnya guy sebastian, si australian idol. Hehe..

    *nyanyi angel brought me here..*😀

    ga. enak banget bacanya. ga berasa udah empat hari empat malem aku ga makan, ga tidur, ga mandi, ga solat, ga nafas… this book is much too intoxicating *berlebihan*. eh, tu orang suka ama buku ini? wah, keren seleranya. ga tebel” banget kok, ga nyampe 500 lembar. cuman emang kemasannya ga bagus. tp isinya bagus ko. ayo, beli, beli…

    Reply
  • 2. Negara Konyol « Howdy, Fansi.™  |  October 3, 2008 at 8:40 pm

    […] directing Quantum of Solace, anyway) dan memenangkan belasan penghargaan, yang diambil dari novel best-seller yang luarbiasa bagusnya (it IS!), dan menurut banyak review adalah film yang sangat menyentuh hati, […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • G. K. Chesterton
    "There is a great deal of difference between an eager man who wants to read a book and the tired man who wants a book to read."

My Tweets

Contact

Books I Love

Monthly Posts

Other Information

Click to view my Personality Profile page

Content copyrighted.


%d bloggers like this: