My Kind of Jilbab

April 3, 2008 at 11:56 pm 3 comments


Jilbab! Udah hampir satu dasawarsa aku pake kain pelengkap identitas sebage perempuan muslim ini. Sejak pertamakali make di umur 12, yang aku pikirin cuman “gimana supaya Ayah gak marah”. Tapi sekarang, bahkan mulai beberapa tahun belakangan (gak jauh sih), aku udah mulai memikirkan hal-hal lain yang jauh lebih, yah, ‘esensial’ dalam hakikat pemakean jilbab itu.

Aku baca blog-blog berikut:
» http://azg.blogs.friendster.com
» http://littlebee.blogsome.com
» http://joesatch.wordpress.com

imut.And I’m glad to know what boys really think about my kind. Coba deh baca situs-situs di atas. Ini salah satu kutipan pernyataan cowo-cowo mengenai pendapat mereka tentang perempuan berjilbab yang aku comot dari blog pertama (FYI, aku lebi suka nyebut ‘perempuan’ daripada ‘cewek’ soalnya ‘perempuan’ itu istilah untuk perempuan semua umur dan terdengar manis, kalo ‘cewek’ kedengeran kayak ABG banget, remaja banget, gaul banget, halah… No hard feelings ah.):

“Cewek berjilbab di mataku adalah ibarat kue yang dibungkus rapi dan ditaruh di dalam etalase, sehingga kesannya ‘mahal’. Laler yang suka bawa kotoran juga nggak bisa nempel. Tapi, kalo yang nggak jilbaban ya sebaliknya, yang nggak beli juga bisa megang-megang, cuma biar jilbabnya jadi lebih berwibawa lagi, yang penting adalah sosok di dalemnya yang kudu bisa ngebawa nama baik ‘jilbab’ itu sendiri. Karena jilbab kan simbol Islam, artinya kalo bungkusnya bagus, tapi isinya nggak bagus, ya sama aja boong! Ibarat kue di dalem etalase yang dibungkus rapi, tapi jadi basi! Hii, jadi lebih ‘hina’ dibanding ama kue yang nggak dibungkus kan?” (Boim LeBon)

Hehehe. He’s quite right! Kadang komentar-komentar kek ginilah yang bikin aku kuat dan mampu berpegang teguh dengan keadaan aku sekarang. You know, ada aja godaan dan tekanan dari berbagai pihak di sekitarku, yang intinya nge-disgrace jilbab ini. Ya Allah, kuatkan aku!

ngaji. Ngomong-ngomong soal disgrace, kadang hal ini menghambatku untuk mengunjungi beberapa lokasi tertentu. Seperti restoran, mall, tempat karaoke, dan yang kek gitu-gitu. Oke, mungkin I’m not supposed to be in such places, tapi… apa salah? Restoran, terutama resto yang berkelas dan keliatan mahal (padahal kadang-kadang gak juga kok), kadang bikin aku mikir sebelum aku mengunjunginya: gak papakah perempuan berjilbab masuk kesini? Yah, sama halnya dengan mall dan tempat karaoke. Oya, aku baru sekali nyoba ke karaoke, dengan tujuan untuk melepas stres dan tekanan dengan nyanyi sepuasnya, dan ini bukan sesuatu yang dosa, apalagi aku kesono berdua temen perempuan aku yang udah pengalaman karaokean, jadi kita bener-bener yang, let’s say, gila-gilaan! Hehehe. Seru banget. Ada juga institusi-institusi yang ngelarang karyawannya kerja dengan mengenakan jilbab. Puh!

Bdw, sedikit cerita (gak penting) tentang sejarah berjilbabku yah. Hehehe. Mo baca makasih-I-owe-you-then, mo nge-skip silaken. Hihi… Yah, once upon a time, the first day I went to school with jilbab, waktu itu sama sekali gak ada trend untuk sebuah kain lebar penutup bagian kepala dan dada itu. Jilbab pertamaku waktu itu adalah jilbab berwarna biru donker dari bahan kaen katun yang nyaman dan nyerep keringet. Modelnya out-of-date banget, secara itu jilbab sama sekali gak ada lekukan, belahan, potongan, hiasan, dsb yang kayak jilbab-jilbab model sekarang. Dulu aku minder banget pake jilbab, karena gak ada temen-temen sebaya yang pake. Guru-guru aja jarang ada yang pake. Dan jilbab model itu terus aku pake sampe lulus SMP. Really, I looked so nerd and ugly (guess so). Tapi biar gitu, tetep aja ada yang naksir, hehehe. Ups! Astaghfirullahal’adzim. Na waktu SMA, model jilbab yang aku pake mulai agak-agak memendek. Sampe akhirnya cuman jilbab yang dililit di leher gitu. Kata orang sekarang, model ‘turtleneck’. Ugh, turtleneck apaan. Itu mah bukannya model baju tebel yang lehernya tinggi itu ya? Yang kalo dipake, bisa menimbukan efek seksi pada pemakenya. Huehe. Dulu aku kira aku udah cukup ‘keren’ dengan jilbab seperti itu, plus baju-baju berbahan ringan dan celana jeans. Oh ya, biar kata suka pake kaos, aku gak suka memperlihatkan kulit aku. Yang keliatan cukup kulit muka, kulit telapak tangan (dan sedikit banget lengan, kadang) dan kulit telapak kaki. Jadi gak ada cerita aku memperlihatkan leher, rambut, dada, pinggul, dsb (insyaallah) dan kalopun ada, insyaallah itu merupakan suatu ketidaksengajaan. ga mirip kok.

Bdw, kenapa sih aku ga pake baju-baju yang lebar dan bener-bener nutup aurat? Pengen banget, apalagi baru-baru ini (waktu jaman SMA mah gak niat kesitu, hiks), rasanya akan jauh lebih terhormat, lebih tenang, lebih aman, dan lebih dihargai. Jadi cowo-cowo beriman jongkok itu gak bakal sembarangan ngeliat ke spot-spot yang emang bukan tempatnya untuk jadi ‘barang dagangan’ (cerewet ah).

Begitu masuk kuliah, aku gak lagi pake jilbab yang ngelilit leher itu. Sejak memasuki gedung kampus untuk pertamakalinya, demi sebuah acara persiapan PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru), aku udah pake jilbab yang kaennya panjang. Gak tau ya. Bosen kali’ pake yang pendek-pendek gitu. Lagian, leher jadi gak bebas gerak. Gak sekalian aja ngelilitnya pake tambang ato benang karet. Dan secara agama, itu salah. Jilbab itu, pengertian awamnya, adalah kain yang menutupi rambut (kepala) dan terus turun sampe dada. Jadi, dari mulai leher sampe bawahnya dada itu ketutup kain, selain baju lo ya. Dan alhamdulillah, sampe sekarang aku pake jilbab yang modelnya insyaallah ‘mendekati’ peraturan itu, well, masi jauh sih, tapi… mendekati! Aku gak suka sih pake yang diiket di leher gitu. Risih dan salah. Hihi. CMIIW.

Anyway… Kayaknya tulisan ini harus segera diakhiri deh. Takutnya, selaen emang gak fokus, lama-lama jadi narsis. Dari tadi udah narsis? Ya udah deh… Segera ditutup…

Later.

Entry filed under: Religions & Beliefs. Tags: .

Lelaki Tersayang Puzzled

3 Comments Add your own

  • 1. Iroy  |  April 4, 2008 at 12:31 am

    hm…..mau komentar apa ya?
    bingung neh saking situ ngomongin diri sendiri he….

    yang pasti aku gak bebas klo jalan ma ce berjilbab, harus jaga sikap.pulang jangan malam, jaga jarak ditempat umum(“tempat sepi????????*&%^#$&#*@*”)
    gak ketempat remang2(dalam hal ini seperi cafe jalanan dipinggir jalan yang sepi tuh)
    but i fell enjoy

    iya, narsis mode banget. tapi ga niat gitu sih. ga tau ah, pengen aja nulis soal ini. mmm, pulang jangan malem”, itu kan berlaku untuk semua jenis cewe? kasian banget yg gak pake jilbab pulangnya gak diatur. nah, ini dia salah satu alesan jilbab diwajibkan, hihi. ke tempat sepi? ngapain? banyak tempat rame yang asik dikunjungin. karaoke, misalnya. rame ngantrinya. hehe. anyway, thanks komennya ya de’… eh, bdw, bukan brati kmu gak nyaman ama… ama… pok ama ama…😉

    Reply
  • 2. joesatch yang legendaris  |  April 4, 2008 at 11:04 am

    hahaha, ada perbedaan rasa antara perempuan dengan cewek ya? kalo saya, sih, waktu itu gimana mempersingkat waktu pengetikan aja, kekekeke

    akunya aja yg terlalu mendramatisir, mungkin. hihi.

    Reply
  • 3. Iroy  |  April 4, 2008 at 3:07 pm

    ha…….belalang kapa-kapa saing makan nasa !
    tak lanjutin nyanyinya, wah aku nyantai koq justru itu sebagai pengendalinya…..

    wah, baru tadi aku nyanyi lirik yang sama di depan “dia”. hihihi. iya, justru malah enak kan kalo ada “batesan”nya? kalo ga ada bates, tar balik ke jaman purba (kalo ada) dong.😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • Al Franken
    "Mistakes are a part of being human. Appreciate your mistakes for what they are: precious life lessons that can only be learned the hard way. Unless it's a fatal mistake, which, at least, others can learn from."

My Tweets

Contact

Books I Love

Monthly Posts

Other Information

Click to view my Personality Profile page

Content copyrighted.


%d bloggers like this: