Intangibly Mistaken

September 12, 2007 at 4:53 pm 1 comment


Blog gw baru-baru ini masuk di halaman Blog Review buletin kampus. Tapi alamat yang dicantumin disitu salah. Itu alamat blog lama gw, blog yang sebelum ini. Dan ada yang kurang; sang pereview lupa nambahin: “pemilik blog ini suka banget gonta-ganti desain blognya”.

Just like this time. Setelah nyoba template gratisan yang sangat biasa, akhirnya gw harus ngaku bahwa gw merindukan Hemingway. Gak ada template gratisan WordPress sebagus dan seFansi Hemingway.

Gw males ambil pusing.

Oke, gimana keadaan gw akhir-akhir ini?

Sibuk, gak di rumah, gak di kampus.

Sepi, gak di rumah, gak di kampus.

Gak semangat, kalo aja Michael Buble gak bernyanyi untuk gw.

Oh ya, hari Minggu gw tes masuk kursus EF cabang Plaza. Hasilnya sangaaaaat memuaskan. Gw gak perlu susah-susah melewati belasan level untuk sampe level, ehm… yah, antara 13-16. Tapi gw tetep stick to conversation club–itu yang gw incer di sekolah bahasa ini.

Pertama gw ngerjain tes tertulis. Ada 50 soal pilihan ganda yang bagi gw cukup mudah diselesain. Di bawahnya, ada spot kosong yang disediain untuk mengarang. Jadi gw tulis aja deh pengalaman liburan gw di Arab kemaren, tentunya dengan bahasa inggris yang kacau balau.

Kekacaubalauan itu–gak gw sangka–malah menarik perhatian sang Director of Studies EF cabang Plaza, Mr. Dennis Windsor. Ugh! Ternyata bule satu ini baik banget. Gw kira rasis (hehe). Gw harus jitakin kepala gw sendiri karena udah menghakimi dari cover.

Kita ngobrol deh dalam bahasa inggris, yang mana gw harus merhatiin tiap gerak-gerik bibirnya. Mirip orang gagu deh. Kalo gak gitu gw gak ngerti dia ngomong apa. Suara orang bule kan ‘tebel’ gitu. Beliau tanya-tanya tentang Arab, yang gw jawab dengan ragu dan grammar hancur. Sumpah, malu banget. Tapi dia fine-fine aja (ya iyalah).

Sampe akhirnya pembicaraan a la makhluk rimba ini diakhiri dengan pernyataan melegakan dari si bule, yang bilang, “your english is very good! You don’t make any mistakes. I should put you in high level. If you still confuse about your grammar, or anything about this course, you can always contact me, here in this room.”

Gw bales dengan sok akrab, “thank u!!! I’m sorry sir, can u please spell your name?” (gw lupa bilang “would u” instead of “can u” saking nervousnya)

Trus beliau ngangguk-ngangguk antusias, “sure!!! It’s D-E-N-N-I-S. Here is my card name.” kartu nama langka itu pun berpindah ke tangan gw. Trus beliau ngomong lagi, “I will always remember you. Your name is Fansi, it’s easy to remember hmm…” (sambil jalan). Sepertinya dia mengagumi nama gw.

Gw bales gak kalah antusias dan mengagumi keramahannya, “what does Fansi means??”

Beliau jawab seketika, “Fansi means not plain. Not simple.” (senyum)

Oh my God. Gw merasa ditinggikan.

Seandainya ortu gw pun mikir demikian, seandainya cowok gw pun mikir demikian, seandainya orang-orang yang mensalah-artikan gw pun mikir demikian. Alangkah indahnya hidup ini.

Sayangnya yang ngajar gw bukan Mr. Windsor.

Gw rasa udah dulu.

Entry filed under: Life Lessons, Screwed-up. Tags: .

But You Were Always On My Mind Me and Mrs. Jones

1 Comment Add your own

  • 1. aLdo  |  September 17, 2007 at 1:16 pm

    hahaha…
    lagi pengen kursus bahasa juga nih…
    lom sempet survey…

    huh…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Thank you for visiting my blog! I hope you enjoy your time here. Please forgive me for any bad words or pictures I might undeliberately put in here. Please leave some comments and thank you for coming back again.

RSS Quote of the Day

  • Al Franken
    "Mistakes are a part of being human. Appreciate your mistakes for what they are: precious life lessons that can only be learned the hard way. Unless it's a fatal mistake, which, at least, others can learn from."

My Tweets

Contact

Books I Love

Monthly Posts

Other Information

Click to view my Personality Profile page

Content copyrighted.


%d bloggers like this: