Posts filed under 'Screwed-up'
Ternyata Ya, Dokter Disini Itu…
Kenapa banyak orang Indonesia yang sakit trus berobatnya ke rumahsakit di luar negeri? Biasanya mereka memilih Singapura atau Amerika Serikat sebagai negara tujuan pengobatan karena fasilitas kesehatan di negara-negara itu luarbiasa bagus. Kenapa gak berobat di Indonesia aja? Apa mereka mementingkan gengsi, biar keliatan ‘berlebih’ di mata orang lain? Apa mereka emang kelebihan duit? Apa mereka luarnegeri-minded dan nganggep negara kita gak ada bagus-bagusnya? Bukankah fasilitas kesehatan di Indonesia banyak yang bagus dan berkelas?
Ya, mungkin jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas mayoritas adalah ‘ya’. Tapi gak semua. Sama sekali. Ada satu faktor lagi; sesuatu yang sangat sepele tapi sekaligus penting, well, subjektif. Tapi menurutku itu penting, walaupun sederhana. Apa itu? Ternyata, kenapa orang Indonesia lebih memilih berobat di luar negeri, gak laen adalah karena faktor dokter.
Ada apa dengan dokter? Apa mereka punya relevansi yang cukup sehingga bisa dijadiin salah satu faktor penentu?
Definitely. Menurut orang Indonesia yang sakit, yang mereka dapatkan ketika berkonsultasi ke dokter adalah jawaban-jawaban yang ’sok tau’, ’sok menghakimi’, dan mereka sama sekali gak mau dengerin keluhan pasien sebenernya. Artikel tentang dokter budeg ini pernah dimuat di halaman Opini Jawa Pos, tapi aku lupa edisi tanggal berapa; kira-kira dua atau tiga bulanan silam.
It happened to me. Jadi kemaren aku konsultasi ke dokter spesialis gigi perihal gigi depanku yang nyeri kalo makan atau minum yang terlalu panas atau terlalu dingin, dan dokter itu memberikan jawaban yang cepet, bicara seolah pendengarnya ngerti intonasinya yang cepet itu (padahal dia pake bahasa kedokteran yang gak awam-minded), dan kalo aku nanya atau nyela, dia gak langsung menjawab melainkan menyelesaikan kalimatnya dulu; kadang nafasnya sampe agak ngos-ngosan saking jarangnya dia bernafas pas sibuk ngoceh. Maksutnya, bukankah sebagai pasien, kita berhak untuk ‘cerewet’? Kita kan pengen tau banget apa yang terjadi pada tubuh kita. Harusnya sebagai dokter kan, mereka mendengar, memahami, dan apapun yang kita komentarin atau tanyain itu menjadi kewajiban mereka untuk memberi jawaban yang memuaskan; paling nggak, mereka mau menjawab every single question we ask. Apapun yang kita ucapkan adalah such a honor for the doctors to answer. Kalo sebagai dokter mereka gak mau dengerin kita, dan sibuk berkutat dengan analisisnya sendiri, gimana kita bisa nyaman berobat ke dia? Tiap orang kan beda, harusnya mereka tidak memperlakukan kita dengan sama kan.
Beberapa hari kemudian aku berobat lagi ke dokter spesialis gigi untuk keluhan berbeda, kali ini dia lebih senior. He is a professor. Aku kira dia bisa lebih ‘mendengar’, tapi ternyata gak beda ama dokter sebelumnya. Kalo ngomong cepet, kalo ditanya jawabannya kayak asal dan ogah-ogahan (bosen kayaknya, mendengar pertanyaan yang sama dari pasien-pasien sebelumnya), dan tidak menunjukkan ketertarikan minat terhadap keluhan penyakitku. Uh… I got it now! Aku juga lebih memilih berobat di luar negeri dengan dokter yang lebih pengertian daripada di dalem negeri yang dokternya cuek gini! Bayar mahal gapapa, seimbang kok ama hasilnya. Daripada bayar dokter disini, udah gak murah (di rumahsakitku, tiap konsultasi bayar Rp100.000), harga obat mahal, belum tentu sembuh, lagi.
Begitulah fakta di lapangan. Jadi jangan underestimate duluan ya kalo denger kabar tentang orang-orang sakit yang berobat di luar negeri. Kemungkinan besar, dokter kita sendirilah biang keroknya…
*Had I were a doctor, I’d behave nice…*
P.S. I’m getting a surgical operation next Monday, it’s so terrified for me…
1 comment December 19, 2008
Ujan Gede…
Kemaren sore ujan di kota ini turun dengan sangar dan sangat expert. Kenapa? Soalnya titik-titik aer itu sanggup bikin jalanan pada banjir, pohon kegoyang-goyang angin kenceng, langit yang gelap jadi terang karena petir, papan-papan reklame pada ambruk dan nimpa mobil-mobil, dan penglihatan orang yang lagi mengemudi jadi gak fokus. Parah lah pokoknya. Kecepetan wiper yang udah maksimal aja gak bisa menghalau burem di kaca.
Efeknya? Genteng rumah bocor. Dan aku sekarang sakit. Huhu… ehm, doain ya supaya aku segera sembuh. Sakit itu gak enak banget, bikin acara mengetik yang seharusnya dilakukan di kamar malah jadinya di kamar mandi (hehehe). Bikin jadi gak kuat nyetir sendiri. Bikin nafsu makan ilang (banget, ekstrim). Semangkok bakso ato burger yang tadinya adalah makanan-makanan yang gak bakal aku lewatin, sekarang terlihat menjijikkan. Huhuhu.
Well, sekian update gak penting ini… gotta have a bowl of a plain (but delicious) porridge.
9 comments November 26, 2008
Fly, Fly Away…
Just watched The Kite Runner, finally. The movie gave you the feeling that’s completely much like tearing your heart, deriving such a new angle of your sights when you hear the word ‘Afghanistan’. Well of course it is nothing to do with comparising with the book–so many cuts, lots of alterations… now that’s an adaptation. And thanks to the experienced director and crews–they used the languages that suit the purpose. The character’s play are like the fullest, and the settings are incredible. I think it’s worth a 9,5 of 10.

LAYANGAN: There’s hope to be good again…
Talking about life; why should it be different to be near or far? (at least by what I lately have in mind.) It seems like it’s gray, dull and quiet when it is separated. But when it’s near, everything will only be loaded with smiles. Isn’t it fair? Aren’t they supposed to do similar things whenever near or far? Shouldn’t they do things that would keep their hearts beat as one (ahem) so they won’t feel like separating? Only God knows the decreasing level of needs to meet for the ‘interconnection’ part of them may have been died long ago, you know, blurring with solitude or something.
Hahahah, ga fokus ah. Kenapa sih serius banget? Biasa aja, biasa…
Add comment October 8, 2008





