Posts filed under 'Free Speechs'
Without Friends, What Will We be?

Udah dua hari belakangan aku mimpi hal yang mirip: ketemu temen-temen SMP dan SMAku. Ceritanya aku berada dalam semacam reuni, dimana aku ketemu lagi dengan wajah-wajah yang dulu mengisi hari-hari umur 12-17ku, which are now kind of different, more mature faces. Aku bahkan nangis ketemu salah satu sahabatku pas SMA, yang sekarang di Manado (mending nggak usah nyebut nama untuk menghindari kegeeran, haha), and to my dreamy surprises, salah satu sahabatku yang lain ternyata sekarang mengalami kebutaan, and I’m kind of always being next to her just in case she needs anything, after all those idle togetherness.
It’s fun to meet old friends where we used to timelessly chit-chatting about boys or movies, where there’s no need to think about marriages, family responsibilities, money or what. Yang kita bahas kalo nggak gosip ya pelajaran. Well, untuk pelajaran aku bersyukur sudah melewatinya (bahkan melupakannya).
Come to think of it, why on earth would I dream about my old friends, not to mention the crying section? Do I miss them so much or do I just lose something I used to have at high school?
Hari-hariku kadang terasa begitu sepi, memang. Duniaku hanya berputar di tempat kerja, di jalan antara tempat kerja dan rumah, dan rumah. Hanya di rute yang itu-itu saja. Duduk menatap monitor selama sembilan jam, duduk di mobil atau kendaraan umum sambil memandang sekitar dengan kosong (atau memandang kegelapan alias tidur), dan waktu di rumah kuhabiskan dengan bercanda sama adek-adekku atau chatting dengan orang yang itu-itu saja. Aku mendengarkan lagu yang itu-itu saja. Aku membaca buku-buku lama yang sudah pernah kubaca. Aku nonton TV kurang dari satu jam perhari. Aku lupa kapan terakhir kali aku membaca koran (aku nggak sempet membacanya di pagi hari dan pada malem hari aku sudah capek). Aku juga lupa berapa kali aku nonton film di bioskop tahun ini; kurasa sekitar dua atau tiga film. Menghabiskan waktu dengan temen-temen? Haha, now I laugh: I think I don’t have any close friends anymore. Even if I have, they are so far away I cannot reach. Or can I? Do I just need more efforts to get in touch with them like we used to be, just little more time, to try again, to stop becoming a ‘we-will-see’ person?
Atau aku bisa membuat teman-teman baru. Bukan dari boneka atau temen khayalan, maksudku aku betul-betul bergaul dengan manusia. Mungkin aku bisa mengikuti semacam kursus atau les, atau bergabung di semacam klub, atau aku cukup datang ke suatu tempat sesering mungkin; lama kelamaan orang-orang disitu akan mengenalku, bukan? Dan aku akan menebarkan senyum paling manis yang aku mampu, bicara sepatah dua patah kata, bertukar nomor telepon, lalu kita akan membuat janji ketemu, jalan-jalan, makan di tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi, kemudian…
I don’t think I’m alone. It’s only my mind trick. Bukankah aku punya banyak temen di Facebook, Twitter, Yahoo! Messenger, buku telepon ponselku, dan bahkan Kaskus? Dan orang-orang kantor?
“True friends are like diamonds, precious and rare. False friends are like leaves, found everywhere.”
Kalo quote ini disama-samain sama situasiku, entah kenapa rasanya ada yang satir. :malu:
Well, nuff said, fellas, thank you for reading. You’re simply my friends once you spend your time reading my online writings (or garbage?). Thank you again.
4 comments September 12, 2009
The Very BIG Steps, for Me.
1. MENERIMA DIRIKU APA ADANYA.
2. TENANG AJA. JANGAN MIKIR NEGATIF. SENYUMLAH.
3. BICARALAH PELAN-PELAN. PERLAHAN.
Bismillah…
1 comment January 7, 2009
Baca Buku is the Best Thing to Do!
Kenapa sih orang-orang suka liburan ke luar kota? I prefer nonton TV ato DVD di rumah, baca setumpuk buku (preferably novels), atau going online untuk ngisi hari libur. Kalo keluar rumah, aku lebi suka jalan-jalan ke toko buku, mall, butik yang harganya reasonable, atau duduk di gerai kopi/donat sambil baca majalah/buku atau internetan. Ah, what a holiday…
Masi di dalem kota, aman, terlindungi, dan nyaman. Mungkin banyak orang bilang, itu gak seru. Orang selalu lebi banyak yang milih liburan di luar kota atau luar negeri, backpacking ke situs-situs wisata, pokonya mereka bisa dibilang anti liburan di dalem kota deh. Pada nyari suasana baru. Ahahaha, aku justru suka suasana kota–rame, aman, nyaman, semuanya ada, bisa kemana-mana sendiri… yah, after all, Surabaya still has the goodness that offers me a thought about staying.
Atau aku adalah tipe orang yang takut keluar dari ’safe zone’ aku? Takut nyoba hal-hal yang aku pikir gak bakal bisa aku lakuin? Agaknya iya. Bukannya aku setakut itu sih; aku cuman lebih suka kalo aku ada di wilayah aman itu, no need to worry about unknown things, no need to nervous of plans ahead.
Kayaknya tulisan ini dibikinnya telat ya, secara hari ini sebetulnya masa liburan udah abis. Bodo ah.
Let’s talk about this day. It’s much tiring, since I now have this habit of early morning waking, karena harus nganterin dua adekku ke sekolah. Jadi sekarang hari-hari aku dimulai dari jam setengah 6 pagi. I’ve got to do this early morning driving (kebalikan ama yang sapa tuh, yang suka nge-late nite driving, ehehe) untuk kemudian pas udah balik ke rumah disambung ama beres-beres rumah. Abis gitu, kalo gak ke kampus, ya nganter-nganter ibuku kemanaaa gitu. Trus jam 1 atau 2 harus jemput adekku lagi. Huuh… oleh karena itu, aku gak bisa lagi tidur malem-malem kayak sebelumnya. Jam 8 malem mata udah berat, dan jam 10 udah siap-siap merem. Kroookk…
Sempet ketiduran segala pas di tukang jait tadi, tidurnya dengan pose duduk dan tangan ngelipet di meja (as I used to do in high school :p), dan tidurku itu bener-bener tidur. Sampe mimpi-mimpi gitu. Tau-tau pas dibangunin ibuku, I wonder where I was, uhuh yea that stupid. Padahal sebelumnya aku masi sempet baca beberapa lembar A Thousand Splendid Suns (can’t leave home without a good book) tapi kantuk (bahaya laten, kayanya) terlalu menguasai.
Tau-tau aja tadi siang, dengan perkiraan TKP di Pasar Pucang, handphone ibuku ilang. Kayanya sih jatoh gitu pas doi keluar dari mobil. Begitu nyadar, udah lewat sekitar setengah jam-an dari perkiraan waktu jatohnya. Langsung deh aku dan ibuku tadi menginterogasi orang-orang yang tadi berinteraksi ama kita gitu. Nothing… dan sampe situlah kisah perjalanan N73 itu bersama ibuku (gak tau lagi kalo malingnya tobat.)
Anyway, postingan kali ini gak fokus banget ya. Sebenernya banyak yang pengen aku tulis berkaitan dengan hari ini, tapi… males. Well, see you.
Image courtesy of cartoonstock.com and digestive.niddk.nih.gov.
1 comment July 18, 2008





