Ayah dan Nintendo
March 2, 2012 at 11:14 pm 3 comments
Dari jutaan kenangan yang secara ajaib masih selalu terkuak di waktu-waktu aku melamun, kadang ingatan beradu pada masa-masa aku kecil, di suatu siang yang panas entah tanggal berapa: aku melangkah turun dari bus sekolah, lalu menangkap wujud ayahku di teras rumah, melambai pada kami, dan kurasakan kelebat bahagia demi memandang senyum lebarnya siang itu–sosoknya dinaungi cahaya kuning.

“Ayah!” kudengar aku dan adikku berteriak menyambut ayah yang rupanya sudah kembali dari perjalanan dinasnya di luar kota. Dulu, senang rasanya menanti ayah pulang dari luar kota–yang memang sering beliau lakukan–sebab pulangnya ayah berarti hadiah.
Dan itulah hadiah yang kami terima: seperangkat Nintendo. Mata kami berbinar. Tak hanya console-nya, tapi juga beberapa permainan seperti Super Mario Bros dan Tetris. Mainan-mainan itu terbungkus dalam kotak kertas pembungkusnya masing-masing; kotak pipih besar kira-kira seukuran harddisk komputer saat ini, berwarna abu-abu. Sungguh suatu penemuan! Kami belum pernah benar-benar memainkan permainan komputer seperti ini!
Maka kami pun mulai belajar mengenal komputer, dan tentu saja bahasa Inggris, sejak saat itu. Betapa senangnya memainkan Nintendo itu. Dalam sekejap aku sudah menjadi ahli Mario Bros. Dan adikku mulai meminta game-game lain, seperti Tennis, Clu Clu Land, dan kompilasi game-game lucu yang dikumpulkan dalam satu ‘kaset’.
What a sweet memory, to look back at those sunny, happy days, back when I was just a little girl, about twenty years ago.
Entry filed under: Life Lessons, Relax, Take It Easy. Tags: .






1.
doth | March 5, 2012 at 8:07 am
jadi inget lagunya ada ben feat gita. Most people said that,ayah itu panutan buat anak laki2 dan cinta pertama buat anak perempuan.
2.
Fansi | March 7, 2012 at 9:34 am
Ngga cuman cinta pertama, ayah adalah cintaku selama aku hidup. Btw, kamu gak perhatiin gambar ilustrasinya? That’s handmade, originally by me, inspired by what I’ve seen in those childhood times.
3.
d0th | March 7, 2012 at 9:39 am
baru ngeh itu gambarmu waktu diliat di kompi. Maklum bukanya pake hengpong, jadi gambarnya kecil. Gambar tangan si Ayah khas ala fansi.