The Marriage of My Dreams
June 1, 2009
Seperti yang kapan hari aku bilang, I don’t believe in marriage right now. Tapi aku percaya aku akan melakukannya beberapa bulan lagi (beberapa tidak berarti sebentar lagi–bisa aja 12, 24, atau 60 bulan lagi). And when the time ever comes, aku juga punya mimpi dan harapan tentangnya…

1. Orang yang menikahiku adalah orang yang lagi berhubungan serius sama aku sekarang.
2. Gak ada acara foto-foto prewedding; kalopun ada, foto-fotonya sendiri aja. (ngerasa gak perlu…)
3. Ijab qabul dan resepsi dilaksanakan dalam satu hari, berturut-turut, pada hari Sabtu.
4. Ijab qabul dilaksanakan pagi-pagi gitu, sekitar jam 8-9 pagi.
5. Resepsi dilaksanakan di sebuah rumah gak terlalu besar yang emang disewain untuk acara-acara private, dimana nanti para tamu akan duduk di kursi-kursi yang dikelompokin per meja bundar besar, satu meja berisi 5-7 kursi, jadi kalo makan gak usah berdiri-berdiri dan repot megang barang bawaan.
6. Resepsi berlangsung di taman atau kebun (kalo gak ujan), dimana ntar aku dan suami aku juga akan mengelilingi seantero kebun dan bercengkrama dengan tamu-tamu.
7. Tamu yang diundang antara 50-100 orang.
8. Makanan yang disajikan adalah makanan Italia: pasta, pizza; trus ada cemilan ringan seperti Chitato (tinggal ambil)–I believe these snacks are such a guilty pleasure bagi orang dewasa; trus minumnya aer putih dan jus jeruk (biar sehat!). Trus ada ice cream cake beraneka rasa.
9. Budget yang dikeluarin untuk ini semua aku harap gak lebih dari 50% pengeluaran orang-orang yang menikah dengan mewah sekarang ini (gak tau berapa ratus juta…).
10. Gak mau melakukan ritual-ritual adat gak penting kayak ngerobek ayam atau ngusap-ngusap kaki suami di atas mangkok.
11. Gak perlu ada mobil khusus yang dihiasin bunga; naek bemo juga gapapa. Asal tempat tujuannya istimewa (baca: kamar).
Selesai. Mudah-mudahan.
Oh, what a dream!
Kenapa aku bermimpi demikian?
Karena aku pengen acara pernikahanku itu gak mewah, aku maunya yang sederhana tapi tetep elegan, aku maunya private dan eksklusif, aku maunya duit yang aku dan suami aku punya itu dipake untuk membiayahi kehidupan kita selanjutnya bukan untuk diabisin di acara pernikahan mewah dan gak perlu, aku gak mau ada ritual adat yang cenderung syirik, aku mau semua undangan menikmati acara pernikahanku dan gak kerepotan makan sambil berdiri, aku maunya undangan itu bisa guyub dan saling berkomunikasi satu sama lain (termasuk sama aku dan suamiku), dan aku maunya acara itu berlangsung pagi dan pas weekend supaya aku dan suami aku punya cukup waktu untuk melakukan “hal-hal yang seharusnya, yang udah kita tunggu-tunggu setengah mati itu”, ahahahah…
Amin.
P.S. Dasar ngimpiiii, nikah aja gak jelas kapan… tapi boleh kan mimpi? Kan cuman mimpi… x_x
P.S.S. This post has also posted in my Facebook Notes.
Entry Filed under: Love. Tags: menikah, pernikahan, resepsi pernikahan.
12 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed






1.
Ricky | September 6, 2009 at 5:00 am
Kenyataan tidak bisa se-perfect impian
Dan kita ngga bisa selalu dapatkan apa yang kita inginkan
Quote:
“in the end, noone dies a virgin.. Coz life fucks us all”
2.
Fansi | September 11, 2009 at 11:47 am
I know, I’m expressing my wild fantasy here. Syukur2 bisa dipenuhi. At least it’s kind of my vission and mission in task of marriage